
KabarJawa.com – Ribuan umat Muslim memadati kawasan Gumuk Pasir Parangtritis, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, untuk melaksanakan Sholat Iduladha 1447 Hijriah, Rabu (27/5/2026) pagi.
Hamparan pasir luas yang menyerupai padang pasir Timur Tengah membuat kawasan tersebut kembali dipenuhi jamaah sejak sebelum matahari terbit.
Arus kendaraan menuju kawasan Parangtritis mulai ramai sejak pukul 05.30 WIB. Sejumlah jamaah terlihat datang berombongan menggunakan sepeda motor, mobil pribadi, hingga bus kecil dari luar daerah.
Sebagian memilih datang lebih awal untuk mencari lokasi sholat yang dekat dengan area utama gumuk pasir.
Beberapa jamaah bahkan tampak menggelar alas sholat sambil menikmati suasana pagi dan udara pantai selatan yang masih sejuk.
Sekitar 3.800 Jamaah Hadir
Ketua panitia pelaksana, Nurjoko, mengatakan jumlah jamaah tahun ini mencapai sekitar 3.800 orang.
Jumlah tersebut meningkat dibanding pelaksanaan tahun sebelumnya karena Gumuk Pasir Parangtritis semakin dikenal sebagai lokasi favorit pelaksanaan Sholat Iduladha di Yogyakarta.
“Sejak subuh jamaah sudah mulai berdatangan. Banyak yang sengaja datang lebih awal agar bisa menikmati suasana pagi di Gumuk Pasir sekaligus mengikuti sholat dengan khusyuk,” ujar Nurjoko.
Pelaksanaan Sholat Iduladha dimulai tepat pukul 06.45 WIB dengan imam Arif Wahid Nugroho. Sementara khutbah Iduladha disampaikan Takdir Ali Mukti.
Suasana menjadi hening ketika ribuan jamaah bersujud bersama di atas hamparan pasir luas. Cahaya matahari pagi perlahan muncul dari ufuk timur dan menciptakan panorama yang banyak diabadikan jamaah menggunakan telepon genggam.
Tidak sedikit pengunjung yang datang sambil membawa kamera dan tripod kecil. Sejumlah konten kreator media sosial juga tampak sibuk mencari sudut terbaik di area gumuk pasir.
Khutbah Singgung Gempa Yogyakarta 2006
Dalam khutbahnya, Takdir Ali Mukti mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana, khususnya gempa bumi.
Pesan tersebut terasa emosional karena pelaksanaan Iduladha tahun ini berdekatan dengan momentum mengenang gempa besar Yogyakarta tahun 2006 silam.
“Kita harus terus meningkatkan kepedulian dan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Gempa 2006 menjadi pengingat bahwa manusia harus selalu mendekatkan diri kepada Allah sekaligus menjaga solidaritas sosial,” ujar Takdir Ali Mukti.
Beberapa jamaah tampak menyimak khutbah dengan khusyuk di tengah suasana angin pantai yang cukup kencang sejak pagi.
Suasana Padang Pasir Jadi Daya Tarik
Banyak jamaah mengaku sengaja datang karena ingin merasakan pengalaman berbeda saat menjalankan Sholat Iduladha.
Trisna, jamaah asal Patuk, Gunungkidul, mengaku berangkat selepas Subuh agar tidak terlambat mengikuti pelaksanaan sholat di Gumuk Pasir.
“Saya ingin merasakan suasana seperti di tanah suci. Aura padang pasirnya terasa berbeda dibanding sholat di lapangan atau masjid biasa,” kata Trisna.
Hal serupa disampaikan Ahmad, mahasiswa asal Jakarta yang sedang menempuh pendidikan di Yogyakarta.
“Biasanya saya sholat Id di masjid atau lapangan. Tahun ini ingin mencoba suasana berbeda dan ternyata sangat berkesan,” ujarnya.
Fenomena tersebut membuat Gumuk Pasir Parangtritis semakin ramai diperbincangkan di media sosial setiap momentum Iduladha.
Unggahan foto dan video dari lokasi mulai bermunculan sejak pagi dengan latar hamparan pasir yang menyerupai gurun.
Infaq Jamaah Tembus Puluhan Juta Rupiah
Selain pelaksanaan ibadah, panitia juga mencatat pengumpulan infaq jamaah dalam jumlah besar.
Infaq jamaah putra mencapai Rp18,1 juta dari 1.630 jamaah. Sementara jamaah putri menyumbang Rp45,260 juta dari 2.182 jamaah.
Di sisi lain, PR Muhammadiyah Kalurahan Parangtritis juga menghimpun hewan kurban dalam jumlah besar untuk dibagikan kepada masyarakat.
Tahun ini panitia mencatat terdapat 98 ekor sapi dan 84 ekor kambing yang akan diproses untuk distribusi daging kurban.
Pelaksanaan Sholat Iduladha di Gumuk Pasir kini tidak hanya menjadi agenda ibadah tahunan, tetapi juga berkembang sebagai magnet wisata religi di Yogyakarta.
Di tengah gemuruh ombak Pantai Selatan dan hamparan pasir yang luas, ribuan jamaah larut dalam doa dan suasana khidmat.