
KabarJawa.com — Di balik derasnya aliran air yang sampai ke rumah-rumah warga, tersimpan perjuangan sunyi yang jarang terlihat.
Di kedalaman Goa Seropan, Kabupaten Gunungkidul, sejumlah petugas bersama warga berjibaku melawan gelap, licin, dan sempitnya jalur bawah tanah demi satu tujuan: memastikan air tetap mengalir.
Peristiwa ini bermula saat pompa utama di intake sungai bawah tanah Goa Seropan mengalami kerusakan. Tanpa pompa tersebut, distribusi air bersih kepada masyarakat terancam terganggu.
Situasi ini memaksa Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Handayani bergerak cepat mengganti unit pompa yang rusak. Namun, proses penggantian pompa tidak berjalan mudah.
Pengangkutan Pompa di Medan Bawah Tanah
Pompa baru berkapasitas 75 kW dengan bobot mencapai 500 hingga 700 kilogram harus diangkut secara manual ke dalam goa. Tidak ada alat berat yang bisa masuk ke lokasi. Para petugas bersama warga akhirnya mengandalkan tenaga manusia.
Mereka memikul beban raksasa itu secara bergantian, dalam kelompok kecil berisi 5 hingga 8 orang. Setiap langkah mereka harus penuh perhitungan.
Jalur menuju titik intake bukan hanya sempit, tetapi juga licin dan gelap. Air yang menggenang di beberapa titik semakin menambah risiko.
Dari mulut goa, mereka harus menempuh jarak sekitar 50 meter menuju titik intake. Namun secara keseluruhan, jalur yang dilalui mencapai kurang lebih 300 meter. Medan tersebut menuntut fisik yang kuat sekaligus mental yang tangguh.
Proses Penanganan dan Tantangan Lapangan
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama PDAM Tirta Handayani, Sulistyo Wibowo, menjelaskan bahwa proses pengangkutan ini menjadi tantangan besar dalam penanganan gangguan layanan.
“Kondisi medan di Goa Seropan memang tidak memungkinkan penggunaan alat berat. Kami harus mengandalkan tenaga manusia untuk memikul pompa yang sangat berat tersebut. Ini membutuhkan waktu, kehati-hatian, dan kerja sama yang solid,” ujar Sulistyo.
Ia menambahkan, seluruh proses pengangkutan berlangsung selama satu hari penuh. Para petugas tidak hanya menghadapi kelelahan fisik, tetapi juga harus tetap fokus agar tidak terjadi kecelakaan di dalam goa.
Di tengah keterbatasan tersebut, kolaborasi antara petugas dan warga menjadi kunci keberhasilan. Mereka saling membantu, bergantian memikul beban, dan memastikan pompa bisa sampai ke lokasi dengan aman.
Dampak terhadap Layanan Air
Sulistyo juga menekankan bahwa kondisi seperti ini menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kecepatan penanganan gangguan layanan air. Akses yang sulit dan medan ekstrem membuat proses perbaikan tidak bisa dilakukan secara instan.
“Kami memahami kebutuhan air masyarakat sangat penting. Namun dalam situasi tertentu seperti ini, kami memerlukan penyesuaian waktu. Kami juga berharap pelanggan dapat memahami kondisi di lapangan,” jelasnya.
Perjuangan di Goa Seropan ini menjadi gambaran nyata bagaimana layanan air bersih tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada dedikasi manusia.
Di balik keran yang mengalir di rumah warga, ada kerja keras yang berlangsung dalam gelapnya perut bumi.