
KabarJawa.com— Suasana pagi yang khidmat menyelimuti pelataran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada Jumat (20/3). Ribuan jemaah memadati lokasi untuk menunaikan salat Idulfitri 1447 Hijriah.
Di tengah momentum sakral itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan pesan yang tidak sekadar religius, tetapi juga sarat makna kebangsaan: menjadikan Idulfitri sebagai jalan persatuan.
Haedar Nashir mengajak seluruh umat Islam dan elite bangsa untuk memaknai Idulfitri lebih dari sekadar ritual tahunan. Hari kemenangan ini harus menjadi momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. sekaligus menghadirkan nilai ihsan dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan Idulfitri Haedar Nashir
Haedar menegaskan bahwa Idulfitri tidak hanya berbicara tentang ibadah personal, tetapi juga menyentuh dimensi sosial dan kebangsaan. Ia mengajak masyarakat untuk memperkuat keimanan sekaligus mempererat hubungan antarsesama.
“Idulfitri harus kita jalani dengan kekhusyukan ibadah dan kejernihan jiwa. Dari situlah lahir sikap saling menghormati dan menjaga harmoni,” ujar Haedar di hadapan jemaah.
Ia melihat bahwa bangsa Indonesia memiliki modal sosial yang kuat untuk menjaga persatuan, terutama di tengah keberagaman yang menjadi ciri khas negeri ini. Karena itu, ia mengingatkan agar momentum Idulfitri tidak tercoreng oleh perdebatan yang tidak produktif.
Dalam konteks perbedaan penetapan hari raya, Haedar Nashir menyampaikan sikap yang bijak. Ia meminta masyarakat untuk tidak mempertajam perbedaan yang ada, apalagi menjadikannya sebagai bahan konflik.
Menurutnya, perbedaan dalam penentuan Idulfitri merupakan hal yang lumrah dan telah lama menjadi bagian dari dinamika umat Islam. Ia menilai bahwa kedewasaan dalam menyikapi perbedaan justru menjadi kunci utama dalam menjaga persatuan.
“Tidak perlu kita mencari pembenaran diri dengan menyalahkan pihak lain. Semua pihak harus menahan diri, baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam pemerintahan,” tegasnya.
Ia juga mengajak masyarakat yang merayakan Idulfitri pada tanggal berbeda, baik 20 maupun 21 Maret, untuk tetap menjaga ketenangan dan tidak terjebak dalam perdebatan yang meretakkan persaudaraan.
Lebih jauh, Haedar menyoroti peran penting tokoh agama dan elite bangsa dalam menjaga suasana kondusif. Ia mengingatkan bahwa setiap pernyataan yang disampaikan kepada publik memiliki dampak besar terhadap stabilitas sosial.
Ia meminta para pemimpin untuk berhati-hati dalam bertutur kata dan menghindari ujaran yang dapat memperkeruh suasana. Dalam pandangannya, keteladanan menjadi kunci utama dalam membangun kepercayaan masyarakat.
“Para elite harus mampu menjadi uswah hasanah. Mereka harus memberi contoh nyata dalam menjaga persatuan, perdamaian, dan toleransi,” ujarnya.
Menatap Masa Depan dengan Persatuan
Di tengah dinamika perbedaan yang terus berulang, Haedar juga menyampaikan harapannya terhadap masa depan dunia Islam. Ia meyakini bahwa umat Islam dapat mencapai kesepakatan dalam penentuan kalender global yang seragam.
Menurutnya, hal tersebut bukan sesuatu yang mustahil jika seluruh pihak mengedepankan keterbukaan hati, pikiran, serta berlandaskan ilmu pengetahuan yang kuat.
“Ke depan, insyaallah perbedaan itu bisa diminimalisasi jika kita mengedepankan ilmu dan kebersamaan,” katanya optimistis.
Menutup pesannya, Haedar Nashir kembali menegaskan pentingnya kerja sama seluruh elemen bangsa. Ia mengingatkan bahwa Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan dan ketertinggalan yang memerlukan kerja keras bersama.
Ia mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan Idulfitri sebagai titik awal memperkuat persatuan dan mempercepat kemajuan bangsa.
“Berikan teladan bagi rakyat bahwa para elite mampu menciptakan persatuan, perdamaian, toleransi, dan kemajuan. Kita harus bergerak bersama,” pungkasnya.
Di tengah gema takbir yang masih berkumandang, pesan tersebut terasa relevan dan mendalam. Idulfitri bukan sekadar perayaan kemenangan, tetapi juga panggilan untuk membangun kembali jembatan persatuan di tengah keberagaman Indonesia. (ef linangkung)