Dedikasi Poniyem rawat anak lumpuh sebatang kara sejak suami meninggal. (Ist)
KabarJawa.com – Di sudut sederhana Dusun Turi RT 06, Sumberagung, Jetis, Bantul, kisah keteguhan hati seorang ibu bernama Poniyem (48) terus mengalir tanpa henti.
Ia menjalani hidup penuh ujian, namun tetap berdiri tegar demi dua anaknya, Egi dan Difa. Dalam sunyi dan keterbatasan, Poniyem membuktikan arti cinta dan pengorbanan yang sesungguhnya.
Setiap hari, Poniyem memulai rutinitasnya sejak pagi buta. Ia tidak hanya mengurus rumah tangga, tetapi juga merawat Egi, anak sulungnya yang mengalami kelumpuhan dan kebutaan.
Kondisi Egi membuatnya hanya bisa terbaring di tempat tidur. Ia tidak mampu bergerak, apalagi memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri. Poniyem dengan penuh kesabaran menyuapi makan, membersihkan tubuh, hingga memastikan anaknya tetap merasa nyaman.
Cobaan hidup Poniyem tidak berhenti di situ. Sejak Egi berusia lima tahun, suaminya meninggal dunia. Sejak saat itu, Poniyem memikul beban sebagai tulang punggung keluarga seorang diri. Ia tidak memiliki pilihan selain tetap bertahan demi masa depan anak-anaknya.
Kondisi Ekonomi dan Pekerjaan Serabutan
Di tengah keterbatasan ekonomi, Poniyem terus berusaha mencari nafkah. Ia bekerja serabutan, mulai dari mencuci piring, mencuci baju, hingga membersihkan rumah tetangga yang membutuhkan jasanya.
Upah yang ia terima sering kali tidak seberapa, namun ia tetap mensyukurinya. Baginya, setiap rupiah sangat berarti untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk membeli makanan dan susu untuk anak-anaknya.
Di balik kondisi Egi yang memprihatinkan, secercah harapan masih menyala melalui Difa, adiknya. Difa masih bisa bersekolah dan berusaha menjalani pendidikan seperti anak-anak lain seusianya.
Poniyem menaruh harapan besar agar Difa kelak memiliki masa depan yang lebih baik dan mampu mengubah nasib keluarga mereka.
Komitmen Perawatan dan Harapan Keluarga
Meski hidup dalam kesulitan, Poniyem tidak pernah mengeluh. Ia menerima takdir dengan lapang dada dan terus bersyukur atas apa yang ia miliki.
Baginya, kehadiran Egi bukanlah beban, melainkan amanah yang harus ia jaga seumur hidup. Ia bertekad akan terus merawat Egi dengan penuh kasih sayang, apa pun yang terjadi.
“Selama saya masih hidup, saya akan terus merawat anak saya,” tekad Poniyem yang terucap dengan mata berkaca-kaca, namun penuh keyakinan.
Kisah Poniyem menjadi potret nyata perjuangan seorang ibu di tengah keterbatasan. Ia tidak hanya melawan kerasnya hidup, tetapi juga mengalahkan keputusasaan dengan cinta yang tak pernah padam.
Di balik segala kekurangan, Poniyem menunjukkan bahwa kekuatan sejati lahir dari ketulusan hati dan keteguhan jiwa.
Cerita ini mengingatkan kita bahwa di luar sana masih banyak sosok luar biasa yang berjuang dalam diam. Poniyem mungkin tidak dikenal luas, namun pengorbanannya layak menjadi inspirasi bagi siapa saja yang mendengarnya.