
Gunungkidul – Di balik hijaunya kawasan Hutan Adat Wonosadi, berdiri sosok perempuan tangguh yang menjaga napas kehidupan alam dengan cinta dan dedikasi, Sri Hartini.
Warga Padukuhan Duren, Kalurahan Beji, Kapanewon Ngawen ini memimpin 25 anggota Jaga Wana, seluruhnya laki-laki, untuk merawat hutan seluas 25 hektare yang dulu nyaris gundul.
Hutan Wonosadi
Hutan Wonosadi—dari kata wana (alas/hutan) dan sadi (rahasia)—adalah kawasan sakral yang diyakini menyimpan banyak misteri dan kekuatan.
Namun, keasrian hutan ini bukanlah anugerah yang datang tiba-tiba. Ia tumbuh dari perjuangan panjang almarhum ayah Sri, Sudiyo, seorang guru desa yang memulai gerakan penghijauan pasca paceklik tahun 1950-an.
Kala itu, warga dilanda krisis pangan dan menjarah hutan demi bertahan hidup. Pohon ditebang, hutan rusak, dan bencana datang silih berganti.
Longsor saat hujan, kekeringan di musim kemarau. Air pun tak lagi mengalir dari sumber di bukit.
Perjalanan Sri Hartini
Dengan tekad seorang pendidik dan pecinta alam, Sudiyo mulai menanam kembali hutan tandus itu meski orang sempat mencemooh karena membuang-buang waktu.
Namun ia tak gentar. Sri kecil kerap menemaninya, mengantar bekal dan menyaksikan langsung perjuangan yang kelak ia wariskan.
Setelah Sudiyo wafat pada 2011, kepemimpinan Jaga Wana kosong hingga warga menunjuk Sri sebagai penerus.
Meski sempat ragu, Sri akhirnya menerima amanah itu. Ia menyadari, sang ayah telah membimbingnya secara langsung sejak kecil untuk mengenal seluk-beluk Wonosadi.
“Kami tidak menerima upah. Semua dilakukan karena cinta pada lingkungan dan masa depan anak cucu,” ucap Sri.
Kini, Wonosadi telah pulih dan menjadi contoh hutan adat yang lestari.
Di bawah kepemimpinan Sri, kawasan ini berkembang sebagai wisata edukasi, pusat studi keanekaragaman hayati, hingga tempat pembelajaran bagi generasi muda.
Ia menggandeng akademisi, pemerintah, hingga komunitas untuk terus menghidupkan hutan tanpa merusaknya.
“Saya hanya menjalankan pesan bapak—jaga hutan, jaga kehidupan,” kata Sri.
Semangat itu terus ia tularkan ke anak-anak muda, agar perjuangan menjaga Wonosadi tak berhenti di generasinya.
Menurut Hartini, saat ini, sebetulnya untuk penjarahan kayu di kawasan hutan memang sudah hampir tidak ada.
Tantangannya sekarang adalah bagaimana membuat kawasan hutan ini bisa mempunyai manfaat ekonomi lebih bagi masyarakat tanpa harus merusaknya.
Hutan Adat Wonosadi sendiri memang dipercaya sebagai hutan yang wingit atau angker. Masyarakat masih memegang teguh kepercayaan tentang hukum adat.
Kepercayaannya adalah menebang kayu di Wonosadi bisa berakibat kesialan. Hal ini berdasar banyak cerita dan kejadian yang mendukungnya.
Inovasi Hartini
Saat ini, Hartini sebagai ketua Jaga Wana kemudian banyak menggagas tentang Inovasi- inovasi, di antaranya merintis wisata minat khusus serta wisata edukasi tentang pengelolaan hutan.
Selain itu, ada program Kehati (keanekaragaman hayati) serta penanaman pohon buah untuk antisipasi serangan kera ekor panjang ke lahan pertanian penduduk.
Hartini akhirnya juga berhasil membawa Wonosadi banyak bekerjasama dengan dinas terkait, terutama Dinas Lingkungan Hidup, pihak pihak akademisi dan organisasi organisasi yang lain.
Di sisi lain, Alas Wonosadi juga semakin berkembang dan asri, baik jenis flora maupun fauna di dalamnya. (ef linangkung)