
KabarJawa.com — Seekor hiu tutul (Rhincodon typus) ditemukan terdampar di Pantai Glagah, Kamis malam, 12 Desember 2025.
Sekitar pukul 22.00 WIB, sejumlah pemancing melihat hewan tersebut menggelepar lemah di sekitar pemecah gelombang barat kawasan Kidul Bandara YIA.
Penampakan itu kemudian dilaporkan kepada petugas SAR Glagah.
Laporan Penemuan dan Upaya Evakuasi
Laporan awal diterima sekitar pukul 21.00 WIB dari seorang pemancing yang melihat bayangan besar di antara ombak.
Hewan tersebut tampak bergerak lambat sehingga pemancing menghubungi petugas melalui radio komunikasi.
Koordinator SRI Wilayah V Kulon Progo, Aris Widyatmoko, bersama personel SAR dan Polairut Pos Glagah segera menuju lokasi.
Setibanya di pantai, tim menemukan seekor hiu tutul sepanjang sekitar 5 meter dalam kondisi lemah.
“Dilihat secara sekilas, ikan sudah sangat lemas,” ujar Aris.
Tim gabungan kemudian berusaha mendorong hewan tersebut kembali ke perairan yang lebih dalam.
Meski masih hidup, gerakannya melambat seiring gelombang yang menghantam tubuhnya.
Tim memutuskan melanjutkan pemantauan pada pagi hari mengingat gelapnya lokasi dan ombak yang cukup tinggi.
“Pantauan akan kami lanjutkan besok pagi untuk memastikan kondisi terkini,” kata Aris.
Fenomena Terdampar Beruntun di Pesisir Selatan
Insiden hiu tutul terdampar di Pantai Glagah bukan yang pertama pada pekan yang sama.
Dalam lima hari terakhir, laporan serupa muncul di beberapa titik pesisir selatan:
- Sabtu malam: hiu tutul terdampar di Pantai Cemoro Sewu, Bantul, dan berhasil dikembalikan ke laut.
- Minggu: hiu tutul kembali ditemukan terdampar di perairan Purworejo, Jawa Tengah.
- Kamis malam: kejadian serupa terjadi di Pantai Glagah.
Kemunculan beruntun ini memunculkan beragam dugaan dari masyarakat. Ada yang mengaitkan dengan perubahan arus laut selatan, gelombang tinggi, atau pergeseran konsentrasi plankton, makanan utama hiu paus.
Pengamat laut menilai kemungkinan adanya perubahan ekosistem atau faktor lain yang mempengaruhi pergerakan hewan tersebut.
Hiu tutul merupakan spesies yang dilindungi dan dikenal tidak berbahaya bagi manusia. Keberadaannya menjadi indikator kesehatan ekosistem laut.
Fenomena terdampar yang terjadi berurutan di wilayah Yogyakarta hingga Purworejo kini menjadi perhatian para peneliti dan pemerhati lingkungan.