
KabarJawa.com— Pemerintah Kota Jogja memulai langkah serius untuk mengakhiri era kabel udara yang selama bertahun-tahun menjadi sampah visual di ruang publik.
Jalan Kenari merupakan lokasi percontohan relokasi jaringan fiber optik dari udara menuju saluran bawah tanah atau ducting.
Program ini menjadi penanda transformasi wajah Kota Jogja menuju kawasan perkotaan yang lebih rapi, nyaman, aman, dan berkelas.
Langkah tersebut bukan sekadar proyek pemindahan kabel. Pemerintah Kota Jogja ingin menghadirkan ruang kota yang lebih manusiawi, lebih tertata, dan lebih selaras dengan citra Yogyakarta.
Penataan Kabel Semrawut Kota Jogja
Di Jalan Kenari, simbol perubahan itu tampak ketika Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo bersama sejumlah pihak melakukan pemotongan kabel fiber optik yang sebelumnya menggantung di udara.
Hasto menegaskan kawasan gedung baru DPRD DIY dan sekitarnya harus terbebas dari kabel yang selama ini menggantung di atas jalan.
Menurutnya, keberadaan kabel udara yang tidak tertata telah menjadi gangguan visual yang mengurangi keindahan wajah kota.
“Jadi istilahnya tidak ada sampah visual,” kata Hasto.
Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Selama bertahun-tahun, pertumbuhan teknologi informasi dan kebutuhan internet masyarakat mendorong bertambahnya jaringan kabel telekomunikasi di berbagai sudut kota.
Setiap penyedia layanan memasang jaringan masing-masing hingga akhirnya tiang dan kabel tumbuh tanpa kendali di sejumlah ruas jalan.
Akibatnya, langit kota yang semestinya bersih justru dipenuhi kabel hitam yang saling bertumpuk. Di beberapa lokasi, kabel bahkan terlihat kusut dan menjuntai rendah sehingga menimbulkan kesan kumuh.
Kondisi tersebut mendorong Pemkot Jogja untuk mengambil langkah berani. Meski menghadapi keterbatasan fiskal, pemerintah tetap memilih melanjutkan program penataan jaringan telekomunikasi secara bertahap.
Saat ini, panjang jaringan ducting yang telah dibangun di Kota Jogja mencapai sekitar 10,5 kilometer. Dengan pembangunan terbaru di Jalan Kenari, pemerintah menargetkan total jaringan ducting mencapai sekitar 11 kilometer hingga akhir 2026.
Target itu menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mempercepat penataan infrastruktur kota. Hasto bahkan meminta proses pembangunan ducting terus dipacu agar manfaatnya segera dirasakan masyarakat.
Peluang Kolaborasi
Pemerintah juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mempercepat pembangunan jaringan bawah tanah tersebut.
“Harus dipercepat sedikit. Karena itu kami mendorong kerja sama dengan berbagai pihak agar proses ducting bisa berjalan lebih cepat,” ujarnya.
Di balik pembangunan fisik yang terlihat di lapangan, Pemkot Jogja juga menyiapkan fondasi hukum yang kuat. Pemerintah tengah menyusun peraturan daerah yang akan menjadi dasar kerja sama dengan pihak swasta dalam pengembangan jaringan ducting.
Regulasi tersebut dinilai penting untuk menjamin keberlanjutan program sekaligus memberikan kepastian hukum bagi seluruh pihak yang terlibat.
Bagi Kota Jogja, keberadaan ducting tidak hanya berfungsi sebagai tempat menanam kabel. Infrastruktur ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam membangun kota yang lebih modern dan efisien.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Jogja, Umi Akhsanti, menjelaskan pembangunan ducting di Jalan Kenari memiliki panjang sekitar 840 meter.
Namun, proses penataan tidak hanya memindahkan kabel dari udara ke bawah tanah. Pemerintah juga melakukan penyederhanaan jaringan yang sebelumnya terlihat sangat padat.
Dari total 26 kabel yang terpasang di kawasan tersebut, jumlahnya kini dipangkas menjadi 13 kabel yang digunakan oleh 11 penyelenggara telekomunikasi.
Langkah itu menjadi bukti bahwa penataan infrastruktur tidak hanya mengejar estetika, tetapi juga efisiensi. Menurut Umi, manfaat yang diperoleh jauh lebih luas daripada sekadar mempercantik wajah kota.
Penataan jaringan telekomunikasi mampu meningkatkan keamanan infrastruktur, mengoptimalkan pemanfaatan ruang publik, sekaligus memperkuat ekosistem digital yang menjadi kebutuhan utama masyarakat modern.
Saat kabel berada di bawah tanah, risiko gangguan akibat cuaca ekstrem, pohon tumbang, atau kecelakaan lalu lintas juga dapat ditekan. Infrastruktur telekomunikasi menjadi lebih terlindungi dan layanan internet berpotensi lebih stabil.
Transformasi yang mulai dari Jalan Kenari itu tidak akan berhenti di satu titik. Pemerintah Kota Jogja telah menyiapkan peta jalan yang lebih luas untuk melanjutkan program serupa di berbagai koridor utama kota.
Sasaran Berikutnya
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian Kota Jogja, Ignatius Trihastono, menyebut sejumlah ruas jalan strategis akan menjadi sasaran penataan berikutnya. Di antaranya Jalan Magelang, Jalan Wates, Jalan Parangtritis, Jalan Solo, hingga kawasan Gejayan.
Ruas-ruas tersebut selama ini menjadi pintu masuk utama Kota Jogja sekaligus jalur dengan aktivitas ekonomi yang tinggi.
Penataan kabel di kawasan tersebut akan memberikan kesan pertama yang lebih baik bagi masyarakat maupun wisatawan yang datang ke Yogyakarta.
Lebih jauh lagi, pemerintah menargetkan program penataan kabel akan berjalan semakin masif mulai 2027. Keterlibatan sektor swasta melalui investasi dan kerja sama pembangunan ducting menjadi salah satu strategi.
Perwakilan APJII dan APJATEL DIY, Joko Prasetyo, menyatakan kesiapan industri untuk mendukung langkah yang Pemkot Jogja. Menurutnya, pertumbuhan layanan internet memang berbanding lurus dengan meningkatnya kebutuhan jaringan kabel.
Oleh karena itu, para penyelenggara telekomunikasi menyadari pentingnya penataan agar kebutuhan layanan digital tetap terpenuhi tanpa mengorbankan estetika kota.
Komitmen tersebut menjadi sinyal positif bahwa pemerintah dan industri mulai berjalan dalam satu arah. Dukungan juga mengalir dari DPRD DIY.
Sejumlah anggota dewan mendorong kemungkinan pemanfaatan Bantuan Keuangan Khusus (BKK) dari Pemda DIY untuk mempercepat penataan kabel, terutama di kawasan yang masuk koridor Sumbu Filosofi Yogyakarta.
Usulan itu menjadi sangat relevan mengingat kawasan sumbu filosofi merupakan wajah utama Yogyakarta yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan pariwisata tinggi.
Kehadiran kabel semrawut di kawasan tersebut selama ini kerap menjadi sorotan karena mengurangi keindahan lanskap perkotaan.
Dia menegaskan jika program ini berjalan sesuai rencana, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan masyarakat akan kembali melihat langit Kota Jogja tanpa gangguan kabel yang bergelantungan di atas jalan. (ef linangkung)