
KabarJawa.com— Pemerintah Kota Yogyakarta resmi membuka Forum Group Discussion (FGD) tentang manajemen lalu lintas kawasan Pakualaman, Selasa (25/11/2025).
Diskusi yang menghadirkan pejabat, akademisi, hingga perwakilan Puro Pakualaman itu berlangsung intens.
Semua pihak sadar, kawasan Pakualaman bukan sekadar pusat aktivitas masyarakat, tetapi juga cagar budaya yang harus dilindungi dari tekanan arus kendaraan yang semakin menggila.
Penataan Ulang Manajemen Lalu Lintas Pakualaman
Kepala Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta, Agus Arif Nugroho, membuka diskusi dengan nada tegas. I
a menyatakan bahwa laju perkembangan kota telah memicu peningkatan drastis aktivitas ekonomi, seni, budaya, serta mobilitas wisatawan.
Situasi ini memaksa Pemkot Yogyakarta mengambil langkah strategis untuk menata ulang manajemen lalu lintas di kawasan Pakualaman yang memiliki status heritage.
“Kami ingin mendapatkan masukan dari berbagai disiplin. Tidak hanya dari sisi perhubungan, tetapi juga dari Puro Pakualaman, masyarakat, serta para pemangku kepentingan lain,” ujar Agus.
Ia menegaskan rencana penataan itu bertujuan menjaga kelestarian kawasan sekaligus mengurangi tekanan serta potensi kerusakan yang muncul akibat padatnya kendaraan.
Agus memaparkan bahwa kajian akademis tengah menganalisis tingkat kejenuhan jalan, kondisi lalu lintas terkini, hingga proyeksi lima tahun ke depan. Studi ini juga memuat rekomendasi intervensi jangka pendek, menengah, dan panjang sebagai dasar penataan kawasan.
Salah satu isu paling sensitif muncul dari Jalan Sewandanan, yakni jalur persis di depan Puro Pakualaman.
Jalan itu sehari-hari penuh dengan kendaraan yang melintas, padahal tekanan yang terus-menerus dapat berdampak pada fisik bangunan bersejarah.
“Jalan tengah di depan Puro kemungkinan tidak akan berlaku untuk umum. Bisa jadi nanti hanya dipakai internal Puro Pakualaman. Namun finalnya memperhatikan usulan Keraton,” terang Agus.
Selain Sewandanan, Jalan Gajah Mada dan Bausasran juga masuk kategori jalur kritis.
Antrean kendaraan yang mengular di simpang Gajah Mada-Permata kerap membuat kawasan macet total pada jam sibuk. Situasi itu makin buruk dengan suplai kendaraan tinggi dari arah timur dan utara.
Puro Pakualaman Ikut Bersuara
KPH Suryo Adinegoro Bayudono, Penghageng Kawedanan Kaprajan sekaligus perwakilan resmi Puro Pakualaman, menegaskan pentingnya perlindungan kawasan.
Ia merujuk Peraturan Wali Kota Nomor 76 Tahun 2024 yang mengatur tata bangunan dan lingkungan kawasan itu.
Bayudono mengungkapkan beberapa titik rawan macet di kawasan Pakualaman, termasuk ruas Hayam Wuruk–Gajah Mada, simpang empat Bausasran, simpang Jalan Masjid, serta simpang tiga Permata.
Ia bahkan menyoroti keberadaan truk penurunan jagung di depan Pasar Sentul yang menjadi sumber hambatan lalu lintas.
“Monggo nanti kita atur bersama. Untuk jalur tengah masuk Puro mungkin hanya internal, sementara masyarakat bisa lewat jalur samping. Puro Pakualaman berencana mengirim proposal resmi penataan Sewandanan ke Paniradya Keistimewaan DIY,” ujarnya.
Dalam sesi pemaparan teknis, Dr. Ir. Dwijoko Ansusanto memaparkan analisis derajat kejenuhan melalui perangkat lunak simulasi arus lalu lintas Vissim.
Hasilnya menunjukkan beberapa angka yang cukup mencengangkan.
1. Bausasran ke Timur
- Volume Vissim: 1.684 kendaraan
- Hasil survei: 1.726 kendaraan
- Rasio kejenuhan: 1,02 (jenuh)
2. Gajah Mada ke Selatan
- Volume Vissim: 1.567 kendaraan
- Hasil survei: 1.891 kendaraan
- Rasio kejenuhan: 1,21 (sangat jenuh)
Prediksi lima tahun ke depan bahkan menunjukkan peningkatan ekstrem apabila tidak ada intervensi.
Bausasran berpotensi mencapai 2.044 kendaraan dan Gajah Mada bisa melonjak hingga 1.820 kendaraan pada jam puncak.
Dwijoko merekomendasikan langkah jangka pendek, seperti optimalisasi siklus APILL (lampu merah), penyesuaian waktu hijau di simpang kritis seperti Sentul, Gayam, dan Bausasran, serta penertiban parkir liar yang sering memicu hambatan.
“Tapi bagusnya ada penerapan jalan satu arah di Gajah Mada dan Bausasran untuk mengurangi konflik kendaraan di simpang,” tutur dia.
Kasat Lantas Polresta Yogyakarta, AKP Alvian Hidayat, memastikan kepolisian siap mengawal rekayasa lalu lintas di kawasan Pakualaman.
Ia menegaskan bahwa Jalan Gajah Mada selama ini menjadi jalur strategis untuk pengalihan arus ketika Malioboro penuh. Oleh karena itu, pengaturan baru harus bersinergi dengan pola arus kota secara keseluruhan.
“Kalau Bausasran nanti jadi satu arah ke barat, itu akan sangat membantu menciptakan kamseltibcarlantas: keselamatan, ketertiban, dan kelancaran,” tegasnya. (ef linangkung)