
KabarJawa.com – Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XXI Tahun 2026 resmi digelar di kawasan Pecinan Ketandan, Kota Yogyakarta. Perhelatan budaya tahunan tersebut dibuka pada Rabu malam, 25 Februari 2026, dan berlangsung hingga 3 Maret 2026.
Sejak sore hari, masyarakat memadati panggung utama di Jalan Suryatmajan, tepat di depan Kantor Gubernur DIY. Kawasan tersebut dihias dengan lampion merah dan ornamen bernuansa Imlek yang menjadi ciri khas kegiatan.
Panitia mengusung tema “Warisan Budaya Kekuatan Bangsa” pada PBTY tahun ini. Tema tersebut menekankan upaya pelestarian tradisi sekaligus penguatan persatuan melalui kegiatan kebudayaan.
Pembukaan dan Karnaval Budaya di Malioboro
Pada malam pembukaan, sejumlah penampilan seni ditampilkan di panggung utama. Tarian pembuka memadukan unsur gerak Jawa dan Tionghoa. Pertunjukan dilanjutkan dengan atraksi naga putih, barongsai, dan liong yang disambut antusias oleh pengunjung.
Kegiatan berlanjut pada Sabtu malam, 28 Februari 2026, dengan karnaval budaya yang melintasi kawasan Malioboro hingga Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Ribuan masyarakat menyaksikan parade yang menampilkan kostum tradisional, barongsai, liong, serta berbagai atraksi seni Tionghoa.
Hujan deras sempat mengguyur kawasan tersebut. Namun, kegiatan tetap berlangsung dan pengunjung bertahan menyaksikan rangkaian acara. Lampion merah yang terpasang di sepanjang jalan tetap menyala, menerangi jalur karnaval.
Selama pelaksanaan acara, pengunjung dari dalam dan luar kota terlihat memadati kawasan Ketandan dan sekitarnya. Akses yang berada di pusat kota memudahkan masyarakat untuk menjangkau lokasi kegiatan.
Panggung Hiburan dan Partisipasi UMKM
Selama sepekan penyelenggaraan, Kampoeng Ketandan menjadi pusat kegiatan seni dan budaya. Panitia menghadirkan kirab budaya yang memadukan unsur Jawa dan Tionghoa, termasuk partisipasi prajurit adat dan kelompok seni tradisional.
Setiap malam, panggung hiburan diisi oleh penampilan penyanyi lokal, kelompok tari, komunitas seni, serta pertunjukan musik modern secara bergantian. Pengunjung memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menikmati pertunjukan sekaligus berinteraksi di ruang publik terbuka.
Festival ini juga melibatkan ratusan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Gerai kuliner berjajar di sepanjang kawasan, menawarkan makanan khas Tionghoa, jajanan tradisional, hidangan Nusantara, hingga pork station.
Pengunjung terlihat berburu kuliner dan menikmati sajian di area yang telah disediakan. Aktivitas ekonomi di sekitar kawasan meningkat selama pelaksanaan acara.
Perayaan Imlek tahun ini berdekatan dengan Ramadan. Panitia menyediakan pembagian takjil bagi pengunjung yang menjalankan ibadah puasa. Masyarakat terlihat berbuka puasa di area festival.
PBTY 2026 menjadi salah satu agenda budaya tahunan Kota Yogyakarta yang rutin diselenggarakan di kawasan Ketandan. Dengan lokasi yang berada di pusat kota, kegiatan ini menjadi bagian dari kalender wisata budaya yang menarik perhatian masyarakat dan wisatawan.
Rangkaian kegiatan dijadwalkan berakhir pada 3 Maret 2026. Penyelenggara memastikan seluruh agenda berlangsung sesuai jadwal yang telah ditetapkan.