
KabarJawa.com— Tidak sekadar menandai pergantian tahun, Imlek di Kota Gudeg menjelma menjadi ruang perjumpaan lintas budaya yang hidup, hangat, dan sarat nilai toleransi.
Melalui Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) 2026, Yogyakarta kembali menegaskan posisinya sebagai kota yang merawat kebersamaan dalam keberagaman.
PBTY 2026 akan berlangsung selama tujuh hari penuh, mulai 25 Februari hingga 3 Maret 2026. Durasi panjang tersebut sekaligus menegaskan PBTY Yogyakarta sebagai perayaan budaya Tionghoa terlama di Indonesia.
Ketua Panitia PBTY 2026, Jimmy Sutanto, menyampaikan bahwa kepastian pelaksanaan PBTY tahun ini diperoleh setelah panitia melakukan sowan kepada Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan, pada Senin (19/1/2026).
Dalam pertemuan tersebut, panitia memastikan seluruh rencana pelaksanaan PBTY 2026 berjalan sesuai dengan semangat kebudayaan Yogyakarta.
“Kami sowan Ngarsa Dalem untuk memastikan rencana pelaksanaan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta tahun 2026 ini,” ujar Jimmy.
Perayaan Imlek di Yogyakarta 2026
Jimmy menegaskan bahwa durasi tujuh hari menjadi ciri khas PBTY Yogyakarta. Ia menjelaskan bahwa sejak tahun 2017, Sri Sultan Hamengku Buwono X secara langsung mengusulkan agar PBTY digelar selama satu pekan penuh.
“Daerah lain hanya satu atau dua hari. Kita lima hari, lalu sejak 2017 Ngarsa Dalem mengusulkan agar PBTY berlangsung satu minggu. Sampai sekarang kita konsisten,” katanya.
Selama tujuh hari pelaksanaan, panitia akan menghadirkan panggung utama yang merangkum seluruh unsur seni dan budaya. Berbagai komunitas lintas etnis dan lintas generasi akan tampil bersama, menciptakan suasana persatuan yang nyata di ruang publik Yogyakarta.
“Kita merangkum semua pihak untuk sama-sama mementaskan seni budaya. Dari situ, suasana persatuan Indonesia benar-benar tercermin,” ujar Jimmy.
PBTY 2026 juga menghadirkan sentuhan unik yang semakin memperkuat nilai toleransi. Panitia merencanakan pembagian takjil gratis bagi masyarakat yang datang ke lokasi acara.
Konsep ini memungkinkan pengunjung untuk menikmati suasana Imlek sekaligus menunggu waktu berbuka puasa.
Wakil Ketua Pelaksana PBTY 2026, Subekti Saputra Widjaya, menjelaskan bahwa masyarakat dapat menikmati kegiatan ngabuburit di area stan.
“Nanti masyarakat bisa ngabuburit di stand-stand. Kami juga merencanakan pembagian takjil. Masyarakat bisa mengambil takjil langsung di sana,” kata Subekti.
Konsep tersebut menegaskan bahwa perayaan Imlek di Yogyakarta tidak berdiri sendiri, tetapi menyatu dengan realitas sosial dan keberagaman masyarakat.
Jimmy kembali menegaskan bahwa Imlek hanya menjadi momentum, sementara tujuan utama PBTY tetap berfokus pada pembangunan nilai toleransi melalui seni dan budaya.
“Tahun Baru Imlek ini hanya momentum. Yang terpenting, melalui seni dan budaya, kita membangun Jogja yang toleran,” tegasnya.
Ketandan, Suryatmajan, dan Malioboro jadi Pusat Perayaan
Panitia memastikan bahwa kawasan Ketandan tetap menjadi lokasi utama PBTY 2026. Sementara itu, panggung utama akan berdiri di Jalan Suryatmajan, sebuah titik strategis yang mampu menampung antusiasme masyarakat.
“Lokasi acara tetap di Ketandan. Panggung utama sudah disetujui di Jalan Suryatmajan. Untuk detail titiknya, kami masih akan menyesuaikan dengan kondisi lapangan,” ujar Subekti.
Selain itu, PBTY 2026 juga akan merambah ikon utama Yogyakarta. Panitia merencanakan Malioboro Imlek Carnival yang akan digelar pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Karnaval tersebut akan berlangsung sepanjang Jalan Malioboro dan diproyeksikan menjadi magnet utama perhatian publik.
“Ada satu hari khusus di sepanjang Malioboro, yaitu Malioboro Imlek Carnival. Karnaval ini akan membangun perhatian besar,” kata Subekti.
Jimmy menjelaskan bahwa pelaksanaan PBTY selama tujuh hari juga selaras dengan tradisi masyarakat Tionghoa yang merayakan Tahun Baru Imlek selama 15 hari hingga Cap Go Meh.
“Perayaan Imlek berlangsung 15 hari dan ditutup dengan Cap Go Meh. Cap Go itu 15, Meh itu malam. Setelah itu, semuanya kembali normal. Tujuh hari PBTY ini menjadi bagian dari rangkaian itu,” jelasnya.
Namun demikian, Jimmy menekankan bahwa esensi utama PBTY bukan sekadar perayaan Imlek, melainkan upaya merangkum seluruh unsur seni dan budaya lintas golongan.
“Yang paling penting adalah merangkum semua unsur seni dan budaya untuk menampilkan kebersamaan,” ujarnya.
PBTY 2026 mengusung tema Warisan Budaya Memperkuat Persatuan Bangsa. Tema tersebut mencerminkan karakter Yogyakarta sebagai City of Tolerance yang dikenal damai dan harmonis.
“Jogja itu dikenal sebagai City of Tolerance. Hidupnya adem ayem, tentrem. Kami ingin mencerminkan itu melalui kesenian dan kebudayaan. Semua warisan, baik seni maupun budaya, kami tampilkan bersama,” kata Subekti.
Melalui tema tersebut, PBTY 2026 kembali menegaskan komitmennya sebagai ruang bersama, tempat seluruh lapisan masyarakat merayakan perbedaan dalam bingkai persatuan. (ef linangkung)