
KABARJAWA – Kebakaran hebat yang melalap gudang kios pertanian Prima Tani di kawasan Pasar Ngawen, Jumat (25/7), telah menyisakan kepungan asap beracun yang kini menghantui warga sekitar.
Sabtu (26/7/2025) pagi, belasan warga mendadak mengeluhkan gejala serius seperti pusing, mual, mata perih, hingga sesak napas. Tim medis dari Puskesmas langsung bertindak cepat dan menangani mereka secara intensif.
Petugas medis dari Puskesmas Ngawen mencatat sedikitnya 12 warga harus menerima perawatan. Mereka berasal dari lingkungan terdekat lokasi kebakaran dan sebagian besar mengalami gejala pernapasan.
Kondisi tersebut diduga kuat muncul akibat paparan asap pekat yang berasal dari sisa-sisa bahan kimia terbakar.
Keterangan Lurah Pasca Kebakaran Gudang Prima Tani
Lurah Kampung, Suparna, mengonfirmasi peristiwa itu. Ia menjelaskan bahwa asap hasil kebakaran mengandung senyawa berbahaya karena material yang terbakar mencakup kardus, terpal, pupuk, dan bahan kimia pertanian lainnya.
Ia menegaskan bahwa limbah dari kebakaran itu bukan limbah biasa, melainkan limbah berbahaya dan beracun (B3) yang harus ditangani sesuai standar keselamatan lingkungan.
“Kami temukan warga dengan mata perih, ada yang sesak napas, dan sebagian lainnya mengaku mual serta pusing. Ini dampak serius dari polusi asap bahan kimia. Ada beberapa yang langsung kami bawa ke Puskesmas, meskipun kondisinya tidak sampai perlu rawat inap,” ujar Suparna, Sabtu pagi.
Petugas medis tidak hanya menunggu pasien datang. Mereka langsung menyisir rumah-rumah warga di sekitar area kejadian untuk melakukan pemeriksaan lanjutan.
Langkah Penanganan
Langkah ini mereka ambil untuk mengantisipasi gejala-gejala lanjutan akibat paparan zat beracun yang mungkin belum terdeteksi.
Sementara itu, Pemkal sempat berencana mengubur limbah sisa kebakaran di sebidang tanah milik pemilik gudang yang terbakar.
Namun, rencana tersebut batal setelah pihak kelurahan berkoordinasi dengan instansi terkait dan mengetahui potensi pencemaran tanah dan air bawah tanah.
“Kami sempat pertimbangkan untuk mengubur limbah di lokasi sekitar, tapi ternyata berbahaya. Jadi kami akan mobilisasi limbah itu ke lokasi pembuangan resmi sesuai SOP. Untuk sementara, limbah kami tutup dengan terpal agar tidak tersebar ke udara,” lanjut Suparna.
Pemindahan limbah dijadwalkan dilakukan sesegera mungkin, bahkan kemungkinan Sabtu malam atau Minggu (27/7) pagi. Petugas kebersihan lingkungan dan relawan sudah bersiap di lokasi, menunggu instruksi resmi untuk mengevakuasi material beracun.
Warga Ngawen kini hidup dalam ketidakpastian. Mereka terpaksa menutup rapat-rapat pintu dan jendela rumahnya untuk mencegah paparan lanjutan dari sisa kebakaran.
Suasana di sekitar lokasi kejadian masih mencekam. Asap sisa kebakaran sesekali mengepul tipis, menambah rasa cemas yang menggantung di udara.
“Kami tidak berani keluar rumah. Bau menyengat masih terasa. Anak saya bahkan semalam muntah dua kali,” ungkap Sarmi, salah satu warga yang rumahnya hanya berjarak 50 meter dari lokasi kebakaran.
Sementara itu, pihak saverescue.id melalui akun Instagramnya juga melaporkan bahwa beberapa warga mengalami sesak napas dan membutuhkan pertolongan cepat.
Tim relawan dan pemadam kebakaran masih berjaga, mengantisipasi kemungkinan timbulnya api ulang dari bara yang belum padam sempurna. (ef linangkung)