
KABARJAWA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengambil langkah strategis untuk menguatkan denyut perekonomian daerah.
Melalui dialog intens bersama pelaku industri furnitur, kerajinan, dan tekstil Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), OJK membuka ruang komunikasi langsung.
Mereka membedah tantangan sekaligus merumuskan strategi menghadapi dinamika perdagangan global yang kian kompleks.
OJK Dorong Ekspor
Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, memimpin jalannya diskusi yang berlangsung di Kantor OJK DIY pada Jumat siang.
Lebih dari 50 anggota asosiasi industri hadir, termasuk Kamar Dagang Indonesia (KADIN) DIY, Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (ASMINDO) DIY, dan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) DIY. Suasana forum mengalir hangat tapi penuh keseriusan.
Mahendra menegaskan bahwa kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) sebesar 19 persen terhadap produk Indonesia tidak boleh menjadi hambatan. Ia justru mengajak pelaku usaha memandangnya sebagai peluang emas untuk meningkatkan volume ekspor.
“Maksud dari ngobrol kita ini adalah saling mendengarkan dan bertukar pikiran. Kita harus merespons tepat atas tarif resiprokal AS, apalagi sektor tekstil, furnitur, mebel, dan kerajinan punya posisi strategis di pasar global,” ujarnya.
Data yang ia paparkan mengukuhkan pentingnya strategi ini. Indonesia menempati peringkat kelima eksportir terbesar Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) ke Amerika Serikat, dengan angka 49,7 persen.
Untuk furnitur, angka itu bahkan lebih dominan: 57 persen total ekspor Indonesia terserap oleh pasar AS. Yang membuat situasi semakin menarik, tarif AS terhadap produk Indonesia tergolong terendah daripada para pesaing utama.
China menghadapi tarif 30 persen, Vietnam 20 persen, dan India 35 persen. Kondisi ini membuka peluang strategis yang tidak dimiliki banyak negara, apalagi di tengah tekanan dagang global.
Aspek Pembiayaan
Mahendra juga menyoroti pentingnya memperkuat industri dalam negeri dan mempermudah akses pembiayaan, terutama bagi UMKM furnitur, kerajinan, dan tekstil di DIY dan Jawa Tengah.
Dia menegaskan OJK fokus pada aspek pembiayaan, tapi untuk hal-hal di luar itu, ia siap mencatat dan menyuarakan langsung kepada kementerian dan lembaga terkait.
“Tentu tujuannya agar pelaku usaha mendapat perhatian terbaik,” tegasnya.
Wakil Ketua KADIN DIY, Robby Kusumaharta, menyambut baik forum ini. Ia mengapresiasi kesempatan bagi pelaku usaha untuk menyampaikan aspirasi langsung kepada OJK.
Pihaknya berharap dialog ini menghasilkan langkah konkret dan solusi terbaik demi keberlanjutan industri di DIY.
Dengan kolaborasi regulator, pelaku usaha, dan asosiasi industri, momentum ini menjadi pijakan kokoh untuk menjaga daya saing sekaligus mengamankan posisi strategis Indonesia di peta perdagangan dunia. (ef linangkung)