
KabarJawa.com – Setelah melalui perjalanan panjang selama lebih dari tiga dekade, cita-cita mendiang Ambar Polah Tjahyono untuk menghadirkan museum yang memuliakan warisan seni dan budaya Jawa akhirnya terwujud.
Melalui dedikasi istrinya, Mursupriyani, impian itu kini berdiri dalam bentuk Museum Kayu dan Kriya “Ambar Polah”, sebuah ruang yang memadukan nilai estetika, sejarah, dan spiritualitas dari seni ukir tradisional Jawa.
Museum yang resmi menempati Joglo di Kabupaten Kulonprogo pada tahun 2025 ini, berawal dari rumah koleksi keluarga dan pabrik workshop di Balong, Bantul.
Sejak tahun 1986, pasangan Ambar Polah dan Mursupriyani telah memulai perjalanan mereka sebagai kolektor benda seni antik, terutama mebel kayu bergaya Javanese Antique Furniture.
Melalui proses kurasi yang panjang, koleksi tersebut kini tertata menjadi bagian dari museum yang berfokus pada pelestarian kayu budaya dan seni kriya Jawa.
Dari Rumah Koleksi ke Museum Warisan Budaya
Menurut Mursupriyani, berdirinya museum ini merupakan bentuk nyata dari mimpi yang telah mereka bangun sejak 35 tahun silam, tepatnya saat pasangan ini memulai usaha art shop pada tahun 1987.
“Kami melihat banyak sekali barang-barang seni luar biasa yang dimiliki Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Dari sanalah kami mulai mengoleksi, merawat, dan menjaga benda-benda bersejarah itu,” ungkapnya.
Namun karena keterbatasan tempat, sebagian barang yang bersifat umum dijual, sementara benda-benda dengan nilai historis tinggi tetap disimpan.
Koleksi itu mencakup berbagai perabot klasik seperti juglu, grobog, almari, hingga perkakas kecil seperti gantungan, kaca mata antik, dan ornamen rumah bangsawan.
“Museum ini adalah perwujudan cita-cita kami. Di Indonesia belum ada museum mebel atau museum kriya kayu, dan kami ingin menghadirkannya sebagai ruang edukasi bagi generasi muda,” tambahnya.
Jejak Seni Kayu dan Ukir Jawa
Koleksi di Museum Ambar Polah tidak hanya menampilkan keindahan visual, tetapi juga menggambarkan kosmologi budaya Jawa.
Setiap ukiran memuat simbol-simbol kehidupan, hubungan manusia dengan alam, dan nilai spiritual yang mendalam.
Seni ukir Jepara menjadi salah satu pusat perhatian dalam koleksi ini. Sejarahnya berakar sejak abad ke-16 pada masa Ratu Kalinyamat, ketika pengrajin mulai menciptakan motif ukiran yang sarat makna filosofis dan religius.
Bahkan jauh sebelumnya, sekitar abad ke-5 Masehi pada masa Kerajaan Kalingga yang dipimpin Ratu Shima, masyarakat Jawa telah mengenal teknik pertukangan kayu dan logam.
Tradisi itu berkembang pesat hingga era Raden Ajeng Kartini, yang turut mendorong pengrajin Jepara memperkuat identitas seni ukir sebagai bagian dari kebanggaan budaya nasional.
Filosofi dan Edukasi di Balik Koleksi
Bagi masyarakat Jawa, kayu bukan sekadar bahan material, melainkan media spiritual yang menghubungkan manusia dengan alam dan Sang Pencipta.
Karena itu, Museum Kayu dan Kriya “Ambar Polah” hadir dengan visi menjadi pusat pelestarian seni kriya kayu yang bersejarah dan edukatif, sekaligus menjadi wadah pembelajaran seni kriya bagi pelajar dan masyarakat umum.
Misi museum ini meliputi pelestarian koleksi benda kayu bersejarah sebagai sarana edukasi publik melalui kegiatan pariwisata, penelitian, dan pembelajaran sekolah.
“Kami berharap museum ini bisa menjadi tempat edukasi, wisata budaya, dan juga pemberdayaan masyarakat sekitar,” tutur Mursupriyani.
Ia menambahkan, ke depan museum ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat pameran, tetapi juga pusat workshop kriya kayu, pelatihan keterampilan, dan kolaborasi dengan lembaga pendidikan vokasi.
Selain itu, keberadaan museum diharapkan dapat menggerakkan ekonomi lokal melalui keterlibatan UMKM, pelaku seni, dan program pelestarian lingkungan seperti penanaman pohon dan pengolahan pangan.

Warisan dan Sosok di Balik Nama “Ambar Polah”
Mendiang Ambar Polah Tjahyono, lahir pada 12 Maret 1960 dan wafat di usia 58 tahun, dikenal sebagai sosok idealis, nasionalis, dan pecinta seni sejati.
Sejak muda, ia aktif menciptakan karya musik bernuansa nasionalis dan terus berkiprah di bidang seni hingga akhir hayatnya.
Di luar dunia seni, ia juga berperan sebagai pengusaha dan anggota legislatif, pernah menjadi anggota Dewan di PRRI selama dua periode, serta aktif di berbagai organisasi seperti Kadin, asosiasi mabel, dan asosiasi seniman.
“Koleksi dan ide-ide beliau masih menjadi arah bagi kami. Museum ini kami hadirkan sebagai penghormatan atas dedikasinya terhadap seni, budaya, UMKM, dan pendidikan,” ujar Mursupriyani dalam sambutannya saat soft opening.
Acara soft opening Museum Ambar Polah digelar bersama pemerintah daerah setempat, dengan rencana grand opening pada tahun 2026.
Mursupriyani pun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung terwujudnya museum ini, seraya berharap dukungan terus mengalir agar museum tersebut menjadi ruang hidup bagi pelestarian seni kriya dan budaya Jawa.***