
KABARJAWA– Misteri penemuan tulang belulang di Pantai Krakal, Kalurahan Ngestirejo, Kapanewon Tanjungsari, akhirnya menemukan titik terang.
Setelah melalui proses panjang dan penuh tanda tanya, tim forensik memastikan bahwa jasad itu adalah wisatawan bernama Azka Nurfadillah (28), warga Pondok Ranggon, Jakarta Timur, yang sebelumnya hilang di Pantai Siung.
Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah II Gunungkidul, Sunu Handoko Bayu Segara, mengungkapkan kabar mengejutkan tersebut pada Selasa (02/09/2025). Ternyata, tes DNA terhadap tulang belulang dari Pantai Krakal cocok dengan identitas Azka Nurfadillah.
“Kecocokannya mencapai tingkat akurasi hampir sempurna,” tegas Sunu.
Selanjutnya, tim forensik bekerja tanpa henti sejak Rabu (13/08/2025) hingga Selasa (02/09/2025). Mereka mengambil potongan femur dari jasad yang nelayan temukan di Pantai Krakal pada Senin (04/08/2025).
Sementara itu, hasil pemeriksaan menunjukkan kecocokan DNA dengan ibu korban dengan indeks parental sebesar 1:352.802,367 atau 99,9997%.
“Hasil ini memastikan tanpa keraguan bahwa tulang itu milik Azka Nurfadillah,” tambah Sunu dengan nada getir.
Azka Nurfadillah hilang di Pantai Siung pada Sabtu (26/07/2025) pagi. Saat itu, tim SAR gabungan, nelayan, hingga masyarakat setempat melakukan pencarian besar-besaran.
Ombak Pantai Selatan yang ganas menjadi tantangan utama. Delapan hari pencarian berlangsung penuh harap, tetapi jasad Azka tak kunjung ditemukan.
Kabar mengejutkan baru muncul pada Senin (04/08/2025). Seorang nelayan mendapati jasad yang sudah menjadi tulang-belulang terdampar di Pantai Krakal, berjarak puluhan kilometer dari lokasi hilangnya korban.
Kemudian, petugas membawa tubuh tanpa identitas itu ke RSUD Wonosari untuk menjalani otopsi.
Kasus ini semakin menegaskan betapa ganasnya gelombang Laut Selatan Yogyakarta. Arus bawah laut yang kuat mampu menyeret tubuh sejauh pantai ke pantai.
Peristiwa tragis Azka Nurfadillah menjadi peringatan keras bagi wisatawan agar selalu waspada dan mengikuti instruksi petugas.
“Pantai Selatan memiliki ombak dan arus yang tidak bisa diremehkan. Kami selalu mengingatkan pengunjung agar tidak nekat berenang di zona berbahaya,” ucap Sunu. (ef linangkung)