
KABARJAWA — Suasana hangat menyelimuti Padukuhan Kembang Logantung, Kalurahan Sumberejo, Kapanewon Semin. Ratusan warga berbaur di sekitar Sendang Beji, mengikuti ritual tahunan yang sarat makna: Bersih Dusun atau Rasulan.
Tradisi ini tidak hanya menjadi ungkapan syukur atas hasil panen, tetapi juga menjadi perekat tali silaturahmi antara warga desa dan para perantau yang pulang untuk ikut serta merayakan.
Wakil Bupati Gunungkidul, Joko Parwoto, hadir langsung di tengah masyarakat. Ia menyaksikan bagaimana warga secara swadaya menyiapkan setiap detail acara. Mulai dari ritual di sendang, pembagian tumpeng, hingga pertunjukan seni yang menghidupkan malam.
Ketua Panitia, Warto, menjelaskan bahwa merti dusun di Kembang Logantung telah berlangsung turun-temurun. Di mana setiap tahun, kami selalu mengadakan acara ini.
Selain bentuk rasa syukur atas hasil bumi, ini juga menjadi waktu terbaik untuk berkumpul dengan sanak saudara yang merantau.
“Malam ini kami meriahkan dengan Campursari Guntur Madu, menghadirkan Dhimas Tejo, Uut Salsabila Mboke Ganden, Bagong Glondor, dan artis lainnya,” tuturnya.
Dalam sambutannya, Wabup Joko Parwoto menegaskan bahwa merti dusun atau rasulan bukan sekadar agenda tahunan. Tradisi ini adalah sarana memperkuat persatuan dan kebersamaan.
“Semoga segala niat baik yang direncanakan warga tercapai, pelaksanaan berjalan lancar, dijauhkan dari marabahaya, serta membawa keberkahan bagi semua,” ujarnya mantap.
Ia menekankan bahwa pelestarian budaya seperti rasulan mengandung pesan luhur. Tradisi ini membangun harmoni antara manusia dan Tuhan, serta manusia dan alam.
Ketika masyarakat hidup guyub dan rukun, akan tumbuh kekuatan besar untuk menciptakan kehidupan tenteram dan sejahtera.
Malam pun berpuncak pada lantunan musik campursari yang mengalun syahdu sekaligus riang. Tawa warga bercampur tepuk tangan, menjadi bukti bahwa merti dusun di Kembang Logantung bukan hanya warisan budaya, melainkan juga energi persatuan yang terus menyala dari generasi ke generasi. (ef linangkung)