
KabarJawa.com – Kotagede tidak sekadar berdiri sebagai kawasan tua di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kawasan ini berkembang sebagai ruang hidup yang menyimpan sejarah, kebudayaan, dan kesadaran kolektif masyarakat Jawa yang terus merawat masa lalu untuk masa depan.
Penetapan Kotagede sebagai Kawasan Cagar Budaya DIY berakar pada perannya sebagai pusat pemerintahan pertama Kesultanan Mataram Islam.
Sejarah mencatat Kotagede sebagai ibu kota awal Mataram Islam yang berdiri pada 1532.
Dari wilayah ini, nilai-nilai spiritual, tata sosial, dan kebudayaan Jawa-Islam berkembang dan membentuk peradaban yang jejaknya masih hidup dalam praktik keseharian warga.
Kesadaran akan pentingnya warisan tersebut tumbuh kuat di tengah masyarakat Kotagede dan berkembang menjadi gerakan pelestarian berbasis komunitas.
Dari proses inilah konsep Living Museum Kotagede lahir.
Living Museum Kotagede dan Pelestarian Berbasis Komunitas
Masyarakat Kotagede memilih konsep living museum karena memberi ruang bagi budaya untuk tetap hidup dan berkembang bersama manusia pendukungnya.
Sejarah tidak ditempatkan dalam ruang tertutup, melainkan hadir di lorong kampung, rumah-rumah tua, bengkel kerajinan, serta ritus kehidupan sehari-hari.
Gagasan ini dikembangkan oleh para aktivis budaya yang tergabung dalam Yayasan Pusat Studi Dokumentasi dan Pengembangan Budaya Kotagede.
Living Museum Kotagede diresmikan pada 2003 sebagai bentuk pelestarian berbasis komunitas.
Prinsip yang digunakan menempatkan budaya sebagai bagian dari kehidupan yang masih berjalan, dikelola langsung oleh masyarakat setempat melalui pendekatan community-based management.
Dalam kerangka ini, warga tidak menjadi penonton sejarah, melainkan pelaku utama yang menjaga keberlanjutan warisan budaya.
Living Museum Kotagede mencakup seluruh kawasan cagar budaya.
Wilayah inti meliputi Kelurahan Jagalan, Prenggan, dan Purbayan, sedangkan kawasan penyangga mencakup Rejowinangun dan Singosaren.
Rumah tradisional, gang kampung, masjid tua, makam leluhur, serta aktivitas ekonomi tradisional menyatu sebagai satu ekosistem budaya yang hidup.
Rumah Kalang dan Museum Kotagede sebagai Pusat Informasi
Sebagai museum hidup yang berbasis ruang terbuka, Living Museum Kotagede tetap memiliki titik temu pengetahuan.
Peran ini dijalankan oleh sebuah Rumah Kalang di Jalan Tegalgendu yang kini dikenal sebagai Museum Kotagede.
Bangunan tersebut berfungsi sebagai pusat informasi, pusat pengunjung, sekaligus pintu masuk bagi wisatawan sebelum menyusuri kampung dan berinteraksi langsung dengan warga.
Museum Kotagede menyajikan gambaran menyeluruh tentang sejarah dan potensi heritage Kotagede sebagai bekas ibu kota Kesultanan Mataram Islam.
Museum ini menegaskan bahwa sejarah bukan sesuatu yang terpisah dari kehidupan, melainkan diwariskan melalui manusia dan ruang hidupnya.
Sebelum dikelola Pemerintah Daerah DIY melalui Dinas Kebudayaan DIY, bangunan ini merupakan rumah kediaman BH Noerijah, tokoh keturunan kalang sekaligus pengusaha kerajinan emas Kotagede.
Rumah tersebut dibangun pada 1931 atau 1862 Jawa dan selesai pada 1938. Arsitekturnya memadukan gaya Indisch dan Jawa, dengan sentuhan Art Deco dan Art Nouveau, mencerminkan pertemuan budaya lokal dan dunia modern pada masanya.
Ciri khas rumah kalang tampak pada penggunaan tiang berumpak, banyaknya pintu dan jendela, kaca patri berwarna, serta tegel bermotif pada lantai dan dinding bagian bawah.
Elemen-elemen ini merekam jejak status sosial, kemakmuran, dan kecanggihan arsitektur Kotagede pada awal abad ke-20.
Living Museum Kotagede tidak hadir sebagai proyek kebudayaan semata. Ia menjadi perwujudan rasa memiliki dan tanggung jawab masyarakat terhadap warisan leluhur.
Di Kotagede, sejarah dirawat melalui laku hidup sehari-hari, menjadikan masa lalu, masa kini, dan masa depan bertaut dalam satu ruang kehidupan.