
KabarJawa.com – Kabut pagi yang menyelimuti Pegunungan Menoreh kerap membawa aroma tanah basah dan dedaunan hijau. Dari lereng perbukitan itulah sebuah harapan tumbuh, menyatu dengan sejarah panjang kopi Jawa yang nyaris terlupakan.
Di wilayah perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya di Kalurahan Pagerharjo, Kapanewon Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, Kopi Trajumas hadir sebagai simbol kebangkitan kopi rakyat, kesadaran sejarah, dan perjuangan kolektif masyarakat desa.
Pegunungan Menoreh dikenal sebagai benteng alam dengan lanskap perbukitan yang memikat. Di balik keindahannya, kawasan ini menyimpan jejak panjang tanaman kopi yang pernah berjaya pada masa kolonial Belanda.
Dari kesadaran akan potensi itulah, sekelompok pemuda desa memulai langkah yang kemudian mengubah wajah perekonomian lokal.
Kopi Trajumas berawal dari gagasan Agustinus Sulistyo, pemuda Pagerharjo yang akrab disapa Tio. Setelah hampir satu dekade merantau dan bekerja di perkotaan, ia memilih pulang ke desa dengan tekad membangun tanah kelahirannya melalui potensi lokal.
Bersama empat pemuda lain, Tio memulai riset sederhana pada 30 November 2019.
Riset tersebut membawa mereka pada temuan tak terduga. Batang-batang kopi tua yang selama ini digunakan warga sebagai pagar kebun bambu ternyata masih hidup dan berbuah.
Temuan itu menegaskan bahwa kopi bukan tanaman baru di Menoreh. Penelusuran sejarah menunjukkan kopi telah tumbuh sejak era tanam paksa kolonial Belanda dan dikenal masyarakat sebagai kopi Londo.
Dari sanalah lahir Trajumas, akronim dari Timbangan Emas, yang mengandung filosofi keseimbangan antara manusia dan alam, antara eksploitasi dan pelestarian. Filosofi ini menjadi dasar gerakan kopi rakyat yang mereka bangun.
Dari Riset ke Gerakan Kolektif
Pada 2021, riset berkembang menjadi gerakan nyata. Secara swadaya, masyarakat Pagerharjo menanam sekitar 12.000 batang kopi di lahan-lahan milik warga.
Pemerintah kalurahan kemudian mendukung langkah tersebut dengan membentuk Kelompok Tani Tarunatani Asta Brata sebagai wadah legal pengembangan kopi rakyat.
Legalitas ini membuka akses terhadap dukungan pemerintah daerah. Seiring penetapan Pegunungan Menoreh sebagai bagian dari Satuan Ruang Strategis Keistimewaan (SRSK), Pemerintah Daerah DIY melalui Paniradya Keistimewaan menyalurkan Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Dana Keistimewaan berupa pupuk dan 7.800 bibit kopi.
Dukungan berlanjut pada 2025 dengan tambahan 20.000 bibit kopi serta pembangunan rumah produksi. Fasilitas ini memperkuat pengolahan pascapanen hingga peningkatan kualitas produk.
“Kopi Trajumas tumbuh dari riset dan kesadaran sejarah. Kami mengembalikan kopi pada kulturnya. Dari pertanian, pascapanen, pengolahan hingga penyajian, semua melibatkan masyarakat,” ujar Pengelola Trajumas Java Coffee, Sri Herdani.
Saat ini, Kelompok Tani Asta Brata membudidayakan kopi Arabika dan Robusta. Robusta menjadi andalan karena sesuai dengan ketinggian dan karakter tanah Menoreh.
Seluruh proses produksi dilakukan secara kolaboratif bersama Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal), mulai dari pengupasan, penjemuran, roasting, hingga penyajian.
“Dana Keistimewaan memiliki peran luar biasa dalam pemberdayaan masyarakat. Bantuan ini benar-benar memberi dampak nyata bagi petani dan perekonomian desa,” kata Sri Herdani.
Dampak Ekonomi dan Visi Wisata Kopi
Secara ekonomi, Kopi Trajumas membuka harapan baru. Satu pohon kopi mampu menghasilkan sekitar 10–11 kilogram per tahun.
Petani yang menanam sekitar 2.000 batang berpotensi memperoleh pendapatan hingga Rp120 juta per tahun atau sekitar Rp10 juta per bulan. Sejak 2019, sebanyak 123 petani telah merasakan manfaat langsung dari budidaya ini.
Selain meningkatkan pendapatan, aktivitas kopi juga menyerap tenaga kerja lokal di sektor pengolahan, pengemasan, dan pemasaran.
“Lebih dari sekadar komoditas, Kopi Trajumas kami arahkan menjadi jalan menuju Sugih Bareng atau kaya bersama. Kami juga mengintegrasikannya dengan wisata alam dan budaya Pegunungan Menoreh. Gotong royong menjadi prinsip utama,” ujar Sri Herdani.
Lurah Pagerharjo, Widayat, menilai semangat pemuda sebagai kunci keberhasilan. Pemerintah, menurut dia, cukup membuka ruang ketika inisiatif masyarakat telah tumbuh.
“Kami berterima kasih atas kepercayaan kepada petani kopi. Potensi kopi sangat besar, baik dari sisi pertanian maupun wisata. Kami menyiapkan lahan dan mendorong perubahan pola pikir agar kopi menjadi komoditas andalan Pagerharjo,” katanya.
Dari lereng Pegunungan Menoreh, Kopi Trajumas menjadi bukti bahwa Dana Keistimewaan tidak hanya menjaga nilai sejarah dan budaya, tetapi juga menumbuhkan kesejahteraan. Dari secangkir kopi rakyat, masa depan desa perlahan diracik.