
KabarJawa.com – Sosialisasi Program Wirausaha Muda Kota Yogyakarta 2025 digelar di Auditorium Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST), Kamis (20/11).Kegiatan ini diikuti sekitar 300 mahasiswa Fakultas Ekonomi UST serta 33 UMKM mahasiswa yang memamerkan produk usaha mereka.
Kegiatan dibuka dengan sesi show product yang menampilkan beragam karya mahasiswa, mulai dari kuliner unik, kerajinan kreatif, minuman kekinian, hingga fashion ramah lingkungan. Suasana auditorium menjadi ruang bagi para mahasiswa untuk menunjukkan gagasan dan inovasi.
Salah satu peserta yang menarik perhatian adalah Aida Filza, mahasiswa yang memperkenalkan brand fashion rintisannya, Zhaafirah.wear, dengan konsep keberlanjutan melalui pewarnaan alami dan pola Zero Waste.
“Jadi bukan hanya menghasilkan karya, tapi juga peduli lingkungan,” ujarnya.
Aida berharap Zhaafirah.wear dapat menjadi bagian dari ekosistem fashion ramah lingkungan di Yogyakarta. Ia menyebut kegiatan ini memberi manfaat karena membuka wawasan dan peluang pembinaan usaha.
“Ide Zhaafirah.wear muncul ketika saya melihat tanaman. Saya berpikir, kenapa tidak mengambil motif dari tanaman? Ternyata eco-print bisa menggunakan tanaman merambat. Jadi saya mencoba membuat desain yang trendy namun tetap ramah lingkungan,” ungkapnya.
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut. Ia mengapresiasi kreativitas mahasiswa dan menilai produk yang ditampilkan memiliki kualitas yang baik.
“Saya apresiasi UST yang punya program entrepreneur. Semangat dari mahasiswa juga sangat tinggi dan produk-produknya saya pikir sangat bagus-bagus, layak diapresiasi,” katanya.
Wawan menekankan bahwa wirausaha muda perlu memahami alasan di balik pembuatan produk serta kebutuhan pasar.
“Pertanyaannya adalah kenapa harus bikin produk itu? Dasarnya apa? Ini harus detail. Ada yang bikin makanan, soft drink, fashion, sampai otomotif—semua harus punya pertimbangan,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan pentingnya kemampuan menciptakan pasar di tengah persaingan.
“Yang paling penting sekarang adalah bagaimana men-create pasar. Bukan hanya jago bikin produk. Pasar yang paling gampang dimasuki adalah pasar yang lagi tren, tapi kita harus siap bersaing,” ucapnya.
Penguatan Ekosistem Wirausaha Muda
Karakter ekonomi keroyokan khas Kota Yogyakarta turut disinggung Wawan, yang dinilai sesuai dengan lingkungan mahasiswa UST yang memiliki talenta beragam.
“UST ini sudah lengkap, ada yang jadi CEO, ada yang ahli video, ada yang produksi. Tinggal bikin ekosistem baru, bikin komunitas wirausaha muda yang saling isi dan saling kuatkan,” katanya.
Wawan membuka peluang pendampingan usaha bagi mahasiswa yang ingin mengembangkan produk secara lebih serius.
“Nanti boleh bikin kelompok kecil, maksimal tiga atau empat orang. Jangan banyak-banyak supaya fokus. Saya akan dampingi per produk, setelah jam kerja, sekitar jam empat sampai sebelum Maghrib,” ujarnya.
Sosialisasi ini menjadi momentum penguatan ekosistem wirausaha di lingkungan UST, dengan partisipasi ratusan mahasiswa serta UMKM mahasiswa yang menampilkan beragam inovasi.
Dengan kolaborasi antara perguruan tinggi, komunitas kreatif, dan dukungan pemerintah daerah, aktivitas kewirausahaan di kalangan mahasiswa diharapkan semakin berkembang dan mampu melahirkan pelaku usaha muda yang berdaya saing.