
KABARJAWA– Suasana di kawasan pertigaan Revolusi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mendadak berubah tegang pada Selasa (2/9/2025) siang.
Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) DIY keluar dari kampus sekitar pukul 14.00 WIB. Mereka langsung memadati ruas jalan, membentuk formasi melingkar, dan membakar ban sebagai simbol perlawanan.
Aksi yang awalnya berlangsung dengan lantang segera memaksa petugas kepolisian menutup satu ruas jalan. Arus kendaraan dialihkan untuk mencegah kemacetan panjang.
Namun, suara orasi yang menggema dari pengeras suara membuat pengguna jalan tetap berhenti sejenak untuk menyaksikan jalannya demonstrasi.
Mahasiswa membakar jam di tengah formasi lingkaran. Api yang menjilat-jilat ke udara membuat suasana kian dramatis.
Asap mengepul, memaksa sebagian pengendara menutup hidung dengan kain. Massa menyalakan semangat dengan teriakan lantang, menyuarakan tuntutan yang mereka bawa.
Mereka berdiri rapat, saling berpegangan bahu, seolah menciptakan benteng manusia di tengah jalan. Beberapa spanduk terangkat tinggi dengan tulisan tebal yang menohok kebijakan pemerintah.
Petugas TNI yang berjaga tak tinggal diam. Mereka segera melakukan rekayasa lalu lintas dengan menutup ruas jalan menuju pertigaan Revolusi. Kendaraan dialihkan melalui jalur alternatif agar tidak terjebak dalam kepadatan.
Meski begitu, polisi memilih pendekatan persuasif. Sejumlah perwira menghampiri koordinator lapangan untuk melakukan negosiasi. Namun, massa tetap bertahan dengan barisan rapat.
Suara orasi terus menggema. Massa mahasiswa berulang kali menyebut kata revolusi dengan lantang. Mereka menuntut perubahan lebih nyata, menolak sikap pemerintah yang lamban dalam menjawab keresahan rakyat.
Matahari sore semakin condong, tapi semangat mahasiswa tak surut. Mereka melompat, mengacungkan tangan, dan bersorak setiap kali orator menyampaikan kalimat penuh semangat.
Sejumlah pedagang kaki lima yang berada di sekitar kampus ikut menghentikan aktivitas. Sebagian memilih menutup dagangan lebih awal, sementara yang lain berdiri di tepi jalan menyaksikan aksi.
Demonstrasi mahasiswa PMII DIY di pertigaan Revolusi UIN Sunan Kalijaga tidak hanya mengganggu arus lalu lintas, tetapi juga meninggalkan pesan kuat: suara mahasiswa belum padam, dan api perlawanan mereka akan terus menyala. (ef linangkung)