
KabarJawa.com — Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY) menegaskan keseriusannya menjadikan sektor pariwisata sebagai lokomotif transformasi ekonomi, pemuliaan budaya, sekaligus penjaga keberlanjutan lingkungan mulai 2026.
Pariwisata tidak lagi diposisikan sekadar sebagai sektor pendukung, melainkan sebagai penggerak utama kesejahteraan masyarakat yang berakar pada nilai budaya dan kearifan lokal.
Komitmen tersebut disampaikan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Noviar Rahmad. Ia menekankan perlunya langkah strategis untuk merumuskan arah masa depan pariwisata DIY di tengah dinamika global yang terus berubah.
Noviar mengawali paparannya dengan menyampaikan kinerja ekonomi DIY yang dinilai positif. Hingga triwulan III 2025, perekonomian DIY tumbuh sebesar 5,4 persen, melampaui capaian nasional.
Sektor penyediaan akomodasi serta makan dan minum tercatat tumbuh lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan ekonomi daerah, sekaligus menegaskan peran strategis pariwisata dalam menopang denyut ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Capaian tersebut menjadi fondasi optimisme memasuki 2026. Menurut Noviar, pariwisata kini menghadirkan efek ganda yang kuat, tidak hanya bagi industri perhotelan dan restoran, tetapi juga ekonomi kreatif, UMKM, transportasi, jasa, serta pemberdayaan masyarakat lokal.
Di tengah tantangan global, pariwisata justru didorong bergerak menuju kualitas, nilai tambah, dan keberlanjutan.
Lima Tren Pariwisata Masa Depan dan Kesesuaiannya dengan Yogyakarta
Dalam konteks tersebut, Noviar memaparkan lima tren utama pariwisata masa depan yang akan membentuk wajah industri ke depan.
Kelima tren itu meliputi personalisasi berbasis teknologi, wisata kebugaran, pariwisata berkelanjutan, penguatan ekosistem MICE, serta wisata berbasis kedalaman budaya.
Menurut Noviar, seluruh tren tersebut memiliki kesesuaian alami dengan karakter Yogyakarta.
“Menariknya, seluruh tren tersebut sangat selaras dengan jati diri Yogyakarta yang berlandaskan makna, kebudayaan, dan kearifan lokal. Yogyakarta memiliki modal sosial dan budaya yang kuat untuk menjawab arah pariwisata masa depan,” tegas Noviar.
Pemda DIY telah menempatkan pariwisata sebagai instrumen strategis dalam perencanaan jangka panjang daerah. RPJP DIY 2025–2045 secara tegas mengarahkan pengembangan pariwisata berkualitas, berbasis kearifan lokal, dan inklusif sebagai fondasi pembangunan daerah.
Sejalan dengan itu, Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (Ripparda) DIY 2026–2045 saat ini tengah difinalisasi sebagai pedoman kebijakan lintas sektor.
Ripparda DIY mengusung visi “Pariwisata berkualitas, berdaya saing internasional, inklusif, dan berkelanjutan untuk mewujudkan DIY yang maju, sejahtera, dan berkelanjutan dijiwai kebudayaan dan keistimewaan.”
Visi tersebut diterjemahkan ke dalam strategi pengembangan destinasi, industri pariwisata, pemasaran, kelembagaan, serta penguatan sumber daya manusia yang adaptif terhadap perubahan zaman.
Fokus 2026 dan Tantangan Pembangunan Pariwisata
Memasuki 2026, Pemda DIY menetapkan tahun tersebut sebagai fase peletakan fondasi Pembangunan Pariwisata Berkualitas dan Berkelanjutan.
Fokus diarahkan pada penataan kualitas destinasi, penguatan tata kelola, peningkatan kompetensi sumber daya manusia pariwisata, penguatan pemasaran terpadu, serta pembangunan daya saing internasional. Noviar menyebut fase ini sebagai tahap krusial sebelum akselerasi pada periode 2027–2029.
Di sisi lain, Pemda DIY juga mencermati berbagai tantangan global, mulai dari persaingan antar destinasi yang semakin ketat, tuntutan layanan berstandar internasional, percepatan digitalisasi, mitigasi risiko bencana, hingga pentingnya sinergi lintas sektor.
Pemerintah menekankan kolaborasi pentahelix antara pemerintah, akademisi, komunitas, pelaku usaha, dan media sebagai kunci keberhasilan pembangunan pariwisata.
Sebagai bentuk dukungan konkret, Pemda DIY menyiapkan berbagai program strategis untuk 2026, meliputi peningkatan daya tarik destinasi, penguatan pemasaran pariwisata, pengembangan SDM pariwisata dan ekonomi kreatif, serta penyelenggaraan keistimewaan DIY bidang kebudayaan dan tata ruang melalui Dana Keistimewaan.
Pemerintah juga telah merilis Calendar of Event DIY 2026 yang memuat 211 agenda berskala regional, nasional, hingga internasional.
Pemerintah terus mendorong peningkatan kapasitas SDM pariwisata melalui pelatihan dan sertifikasi berkelanjutan. Langkah ini bertujuan memastikan pariwisata DIY tumbuh tidak hanya dari sisi kuantitas kunjungan, tetapi juga dari kualitas layanan dan kedalaman pengalaman wisatawan.
Pariwisata diarahkan menjadi ruang perjumpaan budaya yang menjunjung tinggi nilai adiluhung dan keberlanjutan.
Menutup paparannya, Noviar menegaskan bahwa pariwisata Yogyakarta bukan semata-mata industri, melainkan cara hidup masyarakat dalam memuliakan alam, budaya, dan sesama manusia.
Berlandaskan filosofi Hamemayu Hayuning Bawana, Sangkan Paraning Dumadi, dan Manunggaling Kawula Gusti, Pemda DIY bertekad menjadikan 2026 sebagai tahun konsolidasi tata kelola, akselerasi daya saing, serta penguatan ekosistem pariwisata yang berkualitas.
“Kami mengajak seluruh pemangku kepentingan melangkah bersama membawa DIY menuju masa depan yang lebih maju, berbudaya, dan lestari. Semoga pariwisata DIY benar-benar menjadi lokomotif transformasi ekonomi, pemuliaan budaya, dan keberlanjutan lingkungan,” pungkas Noviar.