
KabarJawa.com – Mahasiswa baru semester 2 Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) kembali mendapatkan pengalaman belajar di luar ruang kelas melalui Program Jogja Istimewa Gelombang I. Kegiatan yang digelar oleh Kantor Pelatihan Bahasa dan Budaya (KPBB) pada Sabtu (21/02/2026) ini berlangsung di kawasan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, pusat kebudayaan Jawa yang sarat nilai sejarah dan filosofi.
Program tersebut dirancang sebagai sarana pengenalan budaya Jawa secara langsung. Tidak sekadar mengenalkan teori, mahasiswa diajak terlibat aktif dalam praktik berbagai tradisi yang hidup di lingkungan Keraton.
Belajar Budaya Lewat Praktik Langsung
KPBB membagi peserta ke dalam lima kelompok. Masing-masing kelompok mengikuti sesi kegiatan budaya yang berbeda, mulai dari ketapel, jemparingan, pedalangan, tata busana, karawitan, hingga joged Mataram. Ragam aktivitas ini mencerminkan kekayaan tradisi Keraton yang masih dijaga hingga kini.
Konsep pembelajaran berbasis pengalaman menjadi fokus utama program ini. Mahasiswa tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi turut mempraktikkan langsung setiap materi yang diberikan. Dengan pendekatan tersebut, pemahaman terhadap budaya diharapkan tumbuh lebih mendalam.
Pada sesi jemparingan, misalnya, pengajar memperkenalkan teknik dasar memanah tradisional khas Keraton. Mahasiswa mempelajari cara memegang busur, menjaga keseimbangan tubuh, hingga memahami makna simbolik yang terkandung dalam setiap gerakan. Jemparingan bukan sekadar olahraga tradisional, melainkan juga mengandung filosofi ketenangan, konsentrasi, dan pengendalian diri.
Peserta diajak memahami bahwa setiap detail dalam tradisi tersebut memiliki arti. Posisi tubuh, arah pandangan, hingga cara menarik busur menjadi bagian dari latihan disiplin dan ketepatan.
Menyelami Nilai Filosofis Tari Klasik Jawa
Antusiasme serupa terlihat dalam kelas joged Mataram. Dalam sesi ini, mahasiswa dibimbing untuk memahami dasar-dasar tari klasik Jawa. Pengajar mengawali dengan pengenalan sikap tangan, gerak kaki, hingga postur tubuh yang menjadi fondasi gerak tari.
Penekanan utama diberikan pada ketepatan teknik. Mahasiswa diingatkan bahwa penguasaan dasar menjadi kunci sebelum mempelajari ragam gerak yang lebih kompleks. Proses pembelajaran pun ditekankan sebagai perjalanan bertahap yang membutuhkan kesabaran dan konsistensi.
“Belajar tari klasik itu bukan sesuatu yang mudah, tapi mereka sangat semangat dan mau bergerak,” jelasnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan respons positif para mahasiswa dalam mengikuti kegiatan. Meski sebagian besar baru pertama kali bersentuhan langsung dengan tari klasik Jawa, semangat belajar tetap terlihat sepanjang sesi berlangsung.
Pengalaman Baru bagi Mahasiswa dari Luar Daerah
Program Jogja Istimewa juga menjadi ruang perjumpaan budaya bagi mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Salah satunya Angelica Anastasya, mahasiswa asal Kalimantan Barat.
Ia mengaku mendapatkan pengalaman berharga selama mengikuti kegiatan tersebut. “Mengikuti Jogja Istimewa ini membuat saya lebih memahami budaya Yogyakarta secara langsung, ada budaya baru yang dapat saya pelajari,” ujarnya.
Pengalaman ini tidak hanya memperluas wawasan, tetapi juga memperkaya perspektif mahasiswa terhadap keberagaman budaya Nusantara. Melalui interaksi langsung dengan tradisi Keraton, mahasiswa dapat melihat bagaimana nilai-nilai filosofis, etika, dan tata krama diwujudkan dalam praktik keseharian.
Memperkuat Identitas Yogyakarta sebagai Kota Budaya
Melalui pelaksanaan Program Jogja Istimewa Gelombang I, UAJY menegaskan komitmennya dalam memperkenalkan Yogyakarta bukan hanya sebagai kota pendidikan, tetapi juga sebagai pusat kebudayaan yang memiliki warisan nilai luhur.
Kegiatan ini menjadi langkah konkret dalam menanamkan pemahaman tentang kearifan lokal kepada mahasiswa baru. Dengan mengenal budaya Jawa secara langsung, mahasiswa diharapkan mampu menghargai tradisi serta menjaga nilai-nilai yang diwariskan.
Program ini sekaligus menjadi jembatan antara dunia akademik dan realitas budaya di lingkungan sekitar kampus. Pengalaman belajar di Keraton menghadirkan pembelajaran yang kontekstual, menyentuh aspek intelektual sekaligus emosional mahasiswa.
Ke depan, kegiatan serupa diharapkan terus menjadi bagian dari proses pembentukan karakter mahasiswa UAJY, agar mereka tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan budaya dan pemahaman terhadap nilai-nilai lokal yang hidup di Yogyakarta.***