
KabarJawa.com – Kementerian Pendidikan menyiapkan program pengembangan kreativitas dan kompetensi siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) melalui Program Diremtok Angkasa.
Program yang memadukan unsur kreativitas, teknologi, dan kewirausahaan tersebut direncanakan mulai diterapkan sebagai kegiatan ekstrakurikuler di sejumlah sekolah yang telah lolos proses verifikasi.
Ketua Jaringan Industri Kreatif Festival (JIKF), Anang Sarjiyanto, mengatakan organisasinya tidak hanya berfokus pada penyelenggaraan festival, tetapi juga mendapat mandat dari Kementerian Pendidikan untuk menyelenggarakan pelatihan berbasis proyek atau Project Based Learning bagi siswa SMK.
Menurut Anang, program tersebut bertujuan meningkatkan keterampilan peserta didik agar mampu menghasilkan produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi.
“Kami di luar kegiatan festival juga mendapat tugas dari Kementerian Pendidikan untuk memberikan pelatihan berbasis proyek kepada siswa SMK. Kami ingin membekali mereka dengan keterampilan mulai dari membuat produk yang berkualitas, membedakan hasil yang baik, memproduksinya dengan benar, hingga mampu memasarkannya,” ujarnya.
Ia menjelaskan pelatihan tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis, tetapi juga membangun pola pikir kreatif yang relevan dengan perkembangan industri kreatif.
Dua Sekolah di Yogyakarta Lolos Verifikasi
Direktur Program Angkasa, Rizal Rusadi, mengatakan program tersebut kini memasuki tahap pengembangan setelah dua sekolah di Daerah Istimewa Yogyakarta dinyatakan lolos verifikasi kementerian.
Kedua sekolah tersebut adalah SMK Negeri 7 Yogyakarta dan SMSR Yogyakarta.
Rizal menjelaskan Kementerian Pendidikan telah menyiapkan 12 sekolah sebagai tahap awal pelaksanaan program ekstrakurikuler tersebut.
Pada tahun pertama, program akan dijalankan di sejumlah sekolah yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
“Informasi terakhir yang kami terima, tahun depan program ini akan masuk sebagai agenda ekstrakurikuler di sekolah-sekolah yang telah ditunjuk. Untuk sementara ada 12 sekolah yang dipersiapkan sebagai pelaksana awal,” kata Rizal.
Menurut Rizal, Program Diremtok Angkasa tidak hanya mengajarkan siswa membuat layang-layang sebagai produk akhir.
Program tersebut dirancang untuk membangun kompetensi peserta didik secara menyeluruh, mulai dari kemampuan berpikir kreatif, penguasaan teknologi, pemahaman aerodinamika, hingga prinsip-prinsip dasar penerbangan.
Seluruh proses pembelajaran dilakukan melalui pendekatan berbasis proyek sehingga siswa diharapkan mampu menghasilkan produk yang berkualitas sekaligus memiliki nilai jual.
“Tujuan utama program ini bukan sekadar mengajarkan cara membuat layang-layang. Kami ingin membangun kompetensi siswa dari proses berpikir kreatif, memahami teknologi, mempelajari aerodinamika, mengenal teknik penerbangan, hingga mampu menghasilkan produk yang layak dipasarkan,” ujarnya.
Rizal optimistis program tersebut dapat mendorong lahirnya produk-produk inovatif karya siswa yang mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.
Menurutnya, apabila pelaksanaan program menunjukkan hasil yang baik dan prestasi peserta terus meningkat, Indonesia memiliki peluang membawa karya-karya tersebut ke ajang internasional sebagai representasi kreativitas generasi muda.
Melalui Program Diremtok Angkasa, pemerintah berharap lulusan SMK tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga mampu menciptakan inovasi, mengembangkan jiwa kewirausahaan, serta menghasilkan produk kreatif yang memiliki daya saing di pasar global.
Program tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat pendidikan vokasi agar semakin relevan dengan kebutuhan industri masa depan.