
KabarJawa.com – Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), KGPAA Paku Alam X, menekankan pentingnya transformasi pendekatan dalam pendidikan berbasis budaya agar lebih relevan dengan perkembangan zaman.
Hal tersebut disampaikan saat menerima kunjungan Pusat Pengembangan Diri & Komunitas (PPDK) Kemuning Kembar Parama Witatama di Gedhong Pare Anom, Kompleks Kepatihan, pada Jumat (17/4/2026).
Sri Paduka menyatakan bahwa Yogyakarta memiliki fondasi budaya lokal yang kuat sebagai basis pendidikan karakter.
Nilai-nilai seperti Tut Wuri Handayani dinilai masih sangat kontekstual untuk menjawab tantangan masa depan tanpa harus mengadopsi teori dari luar secara berlebihan.
“DIY memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Kita tidak perlu mencari teori ke mana-mana, karena kita sudah memiliki dasar yang kuat dari budaya kita sendiri,” ujar Sri Paduka dalam pertemuan tersebut.
Pendekatan Adaptif dan Sederhana bagi Anak
Meski memiliki dasar yang kuat, Sri Paduka mengingatkan bahwa metode penyampaian nilai-nilai budaya harus disesuaikan dengan karakteristik generasi muda saat ini.
Ia menekankan bahwa pendidikan tidak boleh hanya bersifat teoritis, melainkan harus hadir dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh anak sebagai subyek pendidikan.
Dalam pandangannya, anak-anak belajar melalui pengalaman langsung dan pengamatan terhadap lingkungan sekitar.
Ia merujuk pada kearifan lokal Jawa, seperti penggunaan media wayang, tembang, dan cerita rakyat, sebagai instrumen pembelajaran efektif yang telah dipraktikkan sejak dahulu.
“Pendekatan harus disederhanakan. Anak harus menjadi subyek, bukan obyek. Yang terpenting adalah bagaimana nilai itu bisa mereka pahami dan praktikkan,” tegasnya.
Sri Paduka menambahkan bahwa dalam proses belajar anak, prinsip seeing is believing menjadi faktor kunci masuknya nilai-nilai secara alami.
Lingkungan Keluarga dan Tantangan Kesehatan Mental
Selain metode pengajaran, peran lingkungan rumah dan masyarakat turut menjadi sorotan utama. Sri Paduka menilai keluarga memiliki pengaruh terbesar dalam pembentukan karakter.
Pola asuh yang kurang tepat dikhawatirkan dapat berdampak pada penurunan rasa percaya diri serta daya juang anak.
Pihak pemerintah juga menaruh perhatian pada fenomena peningkatan persoalan kesehatan mental di kalangan anak dan remaja saat ini.
Kondisi tersebut dinilai membutuhkan penanganan kolektif dari berbagai elemen masyarakat guna memastikan perkembangan mental generasi muda tetap terjaga.
Rencana Strategis dan Sarasehan Nasional
Merespons arahan tersebut, PPDK Kemuning Kembar Parama Witatama berencana menyelenggarakan Sarasehan Nasional Resiliensi Berbasis Budaya pada 2–3 Mei mendatang di Taman Budaya Embung Giwangan.
Forum ini bertujuan membahas isu kesehatan mental, pendidikan, dan karakter melalui perspektif kearifan lokal.
Pimpinan PPDK Kemuning Kembar, Indria Laksmi Gamayanti, menjelaskan bahwa sarasehan ini akan menghubungkan praktik budaya dengan kajian psikologi perkembangan.
Fokus utamanya adalah membangun ketahanan mental (resiliensi) melalui model pendidikan tradisi yang dimiliki Indonesia.
“Selama ini kita sering lupa bahwa Indonesia memiliki banyak model pendidikan berbasis tradisi yang diwariskan secara turun-temurun,” ungkap Gamayanti.
Melalui kegiatan tersebut, diharapkan lahir solusi praktis yang dapat diimplementasikan langsung dalam kehidupan bermasyarakat sesuai dengan pesan Wakil Gubernur DIY untuk mengedepankan implementasi nilai budaya.