
KABARJAWA – Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Daerah Istimewa Yogyakarta pada Mei 2025 melonjak drastis.
Kepala BPS DIY, Herum Fajarwati, menegaskan kunjungan wisman naik 35,94 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Herum melaporkan terdapat 9.699 kunjungan wisman pada Mei 2025, sedangkan April hanya mencatat 7.135 kunjungan.
Namun, ia mengakui jumlah kunjungan wisman pada Mei 2025 sebenarnya turun 14,34 persen dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencapai 11.323 kunjungan.
Herum menjelaskan mayoritas kunjungan wisman pada Mei 2025 berasal dari Malaysia, Singapura, Tiongkok, Prancis, Amerika Serikat, Jerman, Thailand, Belanda, Jepang, dan Inggris.
Dari data yang dipaparkannya, wisatawan asal Thailand mencatatkan peningkatan kunjungan tertinggi pada Mei sebesar 124,04 persen dibandingkan April 2025.
Meski demikian, secara kumulatif kunjungan wisman Januari–Mei 2025 turun 23,78 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.
Herum menambahkan Thailand menjadi satu-satunya negara dengan pertumbuhan positif kumulatif sebesar 20,88 persen, sedangkan Tiongkok mengalami penurunan terbesar mencapai 37,58 persen.
Gunungkidul Makin Dilirik Wisatawan Asing karena Alam dan Budaya
Di sisi lain, Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Dinas Pariwisata Gunungkidul, Supriyanta, mengungkapkan banyak wisman mulai jatuh hati pada Gunungkidul. Gunungkidul memiliki keindahan alam yang tidak dimiliki daerah lain.
Supriyanta mencontohkan pantai-pantai berpasir putih dengan tebing karst seperti Pantai Krakal, Pantai Indrayanti, Pantai Wediombo, hingga Pantai Timang yang terkenal dengan gondola tradisionalnya.
Selain itu, Goa Jomblang dengan fenomena cahaya surga atau heaven light dan Goa Pindul dengan sensasi cave tubing juga menjadi magnet bagi turis asing.
Supriyanta menyebut traveler asing terpikat dengan panorama unik dan pengalaman petualangan di Gunungkidul. Tak hanya itu, budaya masyarakat Gunungkidul memikat wisatawan mancanegara.
Dia mencontohkan tradisi Rasulan, Nyadran Pantai, dan sajian kuliner tradisional seperti tiwul, ingkung ayam kampung, serta belalang goreng membuat turis merasa menemukan keunikan khas pedesaan Jawa.
Menurutnya, turis mancanegara juga menyukai suasana pedesaan yang tenang, jauh dari hiruk pikuk kota. Wisatawan asing senang berinteraksi langsung dengan warga dan merasakan konsep slow tourism.
“Turis asing suka datang saat musim kemarau antara Mei sampai Oktober. Langit cerah membuat mereka bebas menjelajah pantai, gua, dan hunting foto instagramable,” ujar Supriyanta, Rabu, 2 Juli 2025.
Ditambah lagi, even budaya seperti Festival Heritage Gunungkidul dan tradisi Sedekah Laut juga menarik minat wisatawan asing.
Supriyanta menegaskan Goa Jomblang, Goa Pindul, Pantai Timang, Desa Wisata Nglanggeran yang menjadi bagian UNESCO Global Geopark, hingga Pantai Wediombo menjadi destinasi favorit wisman.
Pihaknya optimistis kunjungan wisatawan mancanegara ke Gunungkidul akan terus meningkat jika promosi digital dan penyediaan fasilitas pendukung wisata semakin optimal.
“Gunungkidul memiliki potensi pariwisata kelas dunia. Kita hanya perlu memastikan aksesibilitas, kebersihan, dan hospitality masyarakat terus dijaga,” tutup Supriyanta.