
KabarJawa.com– Duka yang menyelimuti keluarga besar almarhum diplomat muda Arya Daru Pangayunan belum juga reda. Di tengah rasa kehilangan mendalam, keluarga justru mendapat ancaman dan teror misterius.
Kuasa hukum Arya Daru, Nicolay Apriliando, akhirnya angkat bicara dengan suara tegas dan penuh nada emosional.
Ia meminta semua pihak berhenti melakukan framing negatif dan menebar teror kepada keluarga yang tengah berjuang menuntut keadilan.
Pesan Kuasa Hukum Arya Daru
Nicolay menilai munculnya isu-isu yang menyudutkan keluarga almarhum sebagai sebuah bentuk kezaliman.
“Framing negatif dengan adanya kata-kata privasi, itu adalah framing yang sengaja dibangun untuk mengaburkan fakta. Kata privasi dijadikan tameng, padahal justru menciptakan kesan buruk pada keluarga,” tegas Nicolay.
Menurutnya, keluarga sudah cukup menderita akibat kehilangan sosok Arya Daru.
“Jangan ada lagi framing negatif. Jangan ada lagi upaya membuat keluarga ini terlihat salah. Mereka hanya menuntut kebenaran, bukan menciptakan kegaduhan,” ucapnya lantang.
Teror Misterius Menghantui Keluarga
Lebih jauh, Nicolay mengungkap serangkaian teror pada keluarga almarhum sejak awal Juli. Ia menyebut teror itu bukan kebetulan, melainkan sinyal kuat bahwa ada pihak-pihak tertentu yang ingin mengintimidasi.
“Teror pertama terjadi pada tanggal 9 Juli, sekitar pukul 09.00 malam, tepat setelah tahlilan. Keluarga menerima amplop berisi sterofoam bunga kamboja, hati, dan bintang. Itu bukan sekadar simbol, itu pesan intimidasi,” ungkapnya.
Teror berlanjut pada 27 Juli, ketika makam almarhum diacak-acak oleh pihak tak dikenal. Padahal sebelum istri dan keluarga ziarah ke makam almarhum, sama sekali tidak ada yang mengunjungi peristirahatan terakhir Arya Daru itu.
“Bayangkan, makam yang seharusnya menjadi tempat peristirahatan terakhir justru dinodai. Itu jelas bentuk teror kedua,” lanjut Nicolay.
Puncaknya, pada bulan September, teror kembali hadir. Saat istri almarhum bersama anaknya berziarah, mereka menemukan bunga mawar merah membentuk garis di atas makam.
“Bunga mawar berbentuk garis itu bukan sekadar hiasan. Itu simbol yang penuh pesan. Keluarga merasa seakan terus diawasi,” tegas Nicolay.
Pesan Terselubung di Balik Teror
Kuasa hukum meyakini teror ini bukan sekadar gangguan acak. Menurutnya ada maksud terselubung dalam setiap peristiwa yang dia anggap sudah menjadi teror itu.
“Itulah beberapa teror yang dialami keluarga. Ini adalah clue, pesan jelas dari pihak tertentu. Pesan itu ditujukan kepada istri, orang tua, dan seluruh keluarga almarhum. Ini bentuk intimidasi yang sangat keji,” katanya penuh tekanan.
Menurut Nicolay, rangkaian teror ini harus dipandang serius oleh aparat penegak hukum.
“Kita tidak bisa memandang enteng kejadian ini. Ada pola, ada pesan, dan ada tujuan tertentu. Semua pihak harus ikut menjaga agar keluarga almarhum tidak lagi menjadi korban intimidasi,” ujarnya.
Keluarga diplomat muda itu kini tidak hanya berjuang melawan duka, tetapi juga menghadapi bayang-bayang ancaman.
“Kami hanya ingin kebenaran ditegakkan, bukan teror yang terus menakut-nakuti,” pungkas Nicolay. (ef linangkung)