
KabarJawa.com – Umbulharjo kembali menjadi lokasi lahirnya inovasi baru. Pada Jumat (14/11), KORPRI Kota Yogyakarta resmi meluncurkan Gerai Ritel KORPRI Yogyakarta Official Store (KYOS) X Wiwara di Jalan Batikan No. 20, Tahunan.
Peresmian berlangsung hangat ketika Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, memotong pita sebagai simbol dibukanya KYOS sebagai ritel modern berbasis koperasi PNS yang menembus sektor riil.
Peluncuran KYOS tidak hanya membuka toko baru, tetapi juga menandai langkah besar KORPRI Kota Yogyakarta dalam memperluas kiprah koperasi PNS di luar layanan simpan pinjam.
Gerai ini hadir sebagai simbol transformasi koperasi, dari model tradisional menuju ritel yang aktif melayani warga, membantu menstabilkan harga, serta menginkubasi pelaku usaha di lingkungan ASN maupun masyarakat.
Dalam sambutannya, Hasto Wardoyo menyampaikan apresiasi mendalam. Ia menilai koperasi PNS selama ini cenderung hanya mengandalkan pendapatan dari pinjaman. Karena itu, ia memuji langkah KORPRI yang berani membuka toko kelontong berbasis gerai ritel.
“Namanya bagus, KYOS. Korpri Yogyakarta Official Store. Inovatif dan kreatif,” kata Hasto.
Menurutnya, koperasi PNS perlu bergerak lebih luas. Ia menegaskan perlunya koperasi masuk ke sektor riil agar manfaatnya dapat dirasakan oleh anggota maupun masyarakat.
KYOS diharapkan tampil sebagai ritel yang tidak hanya berjualan, tetapi juga menjaga kestabilan harga kebutuhan pokok sebagaimana dilakukan Kios Segoro Amarto di bawah pengelolaan Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta.
Harapan sebagai Penyangga Harga dan Etalase Produk Lokal
Hasto menekankan bahwa KYOS harus menjadi kios ramah warga sekaligus stabilisator harga ketika terjadi fluktuasi pasar. Dengan sinergi pemerintah daerah, Bulog, hingga principal pangan, ia meyakini gerai ini dapat mengambil peran penting sebagai ritel yang berpihak pada masyarakat.
“Saya berharap KYOS bisa seperti Segoro Amarto. Kalau harga naik, di sini bisa jadi penyeimbang, bisa jadi tempat warga mendapatkan harga stabil,” ujarnya.
Ia memberi contoh konkret pemanfaatan CSR yang diterima KYOS untuk menurunkan harga beras, gula, minyak, dan kebutuhan pokok lain bagi warga sekitar.
“Misal dapat CSR Rp8 juta. Dibuat kupon, dibagi ke warga sekitar. Harga beras atau minyak bisa turun sampai anggarannya habis. Kalau sudah habis, harga kembali normal. Tapi baru mau normal, dapat CSR lagi,” jelasnya.
Selain stabilisasi harga, Hasto meminta agar KYOS memberi ruang luas bagi produk lokal. Ia ingin gerai ritel ini menjadi etalase UMKM, mulai dari kuliner, kerajinan, hingga hasil ternak. Ia bahkan mencontohkan produk air minum “Air Jogja” yang dibawanya sendiri.
“Nah, ini harus dilariskan di sini. Kios harus mengakomodasi produk masyarakat—telur, ikan, peyek, apa saja. Ini bisa jadi sarana promosi,” tegasnya.
Ia juga membuka peluang usaha KORPRI masuk ke bidang konveksi, termasuk produksi seragam Batik Segoro Amarto.
Dengan pola tersebut, Hasto yakin KYOS dapat dikenal sebagai tempat belanja yang murah, berkualitas, dan berpihak pada warga—citra yang tidak selalu dimiliki jaringan ritel modern lainnya.
Sekretaris KORPRI Kota Yogyakarta, Dedi Budiono, menjelaskan bahwa KYOS memiliki dua fungsi besar: sebagai inkubator bisnis bagi ASN dan masyarakat, serta sebagai toko sembako murah yang bekerja sama dengan KPRI Wiwara.
“Kios ini berfungsi sebagai laboratorium bisnis. ASN dan warga yang ingin mengembangkan usaha akan dibina dan dibimbing oleh pendamping kios,” jelas Dedi.
Program inkubasi bisnis KORPRI telah berjalan selama enam bulan. Proses dimulai dari penjaringan 114 ASN yang berminat, kemudian mengerucut menjadi 13 peserta yang mengikuti pendampingan intensif.
Tiga di antaranya dinyatakan lulus sebagai angkatan pertama dan resmi berstatus Rekan KYOS.
CSR untuk Diskon Sembako dan Testimoni Pelaku Usaha
Pada acara peresmian, KYOS membuka penjualan sembako murah. CSR sebesar Rp8 juta yang dihimpun dari KORPRI, Koperasi Wiwara, Bank BPD DIY, serta Bank Jogja dikonversi menjadi diskon minyak, beras, dan mi instan.
Sebanyak 100 kupon dibagikan kepada keluarga pra-sejahtera dan para penggerobak melalui kelurahan dan RW. KYOS juga menyediakan 50 paket sembako tambahan untuk warga sekitar.
Dedi menegaskan kembali bahwa KYOS bukan sekadar toko ritel, tetapi percontohan usaha koperasi yang inklusif serta terbuka bagi warga.
“Toko ini percontohan, tapi sekaligus kami manfaatkan untuk pengabdian masyarakat dengan menghadirkan harga murah,” katanya.
Salah satu lulusan inkubasi, Bambang Purambono, menceritakan perjalanan panjangnya dalam membangun usaha. Ia mengaku mulai berwirausaha karena kebutuhan finansial.
“Waktu itu kami sudah jadi ASN, tapi karena kekurangan finansial, kami mulai usaha untuk menambah pendapatan,” ujarnya.
Perjalanan usahanya tidak mudah. Ia mencoba berbagai bidang, mulai dari jualan online, kuliner, jasa saat pandemi, hingga akhirnya mendapat relasi Pertamina dan membuka pangkalan LPG. Dari situ, usahanya berkembang menjadi toko kelontong yang kini menjual kebutuhan pokok.
“Usaha ini berjalan kurang lebih lima tahun. Dari kecil, sedikit demi sedikit berkembang. Setelah ikut inkubasi KORPRI, kami mendapatkan pengetahuan, relasi, dan jaringan untuk mengembangkan bisnis,” ungkap Bambang.
Kini ia fokus memperbesar usaha sembako dan bahan dapur agar dapat terus berkembang bukan hanya sebagai usaha sampingan, tetapi menjadi bisnis berkelanjutan.