
KabarJawa.com – Baru-baru ini, sosok Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM) UGM, Tiyo Ardianto ramai menjadi sorotan publik.
Sebab, ia belakangan mengaku mengalami serangkaian intimidasi serta ancaman dari pihak tak dikenal. Teror tersebut muncul setelah dirinya secara terbuka menyuarakan kritik terhadap pemerintah menyusul kasus kematian seorang siswa Sekolah Dasar di Nusa Tenggara Timur.
Pesan Ancaman dari Nomor Asing
Tyo disebut menerima intimidasi melalui pesan singkat WhatsApp dari nomor tak dikenal. Nomor tersebut menggunakan kode negara Inggris.
Pesan itu mulai diterimanya empat hari setelah BEM UGM melontarkan kritik keras terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Kritik yang disampaikan BEM UGM berkaitan dengan penanganan kasus bunuh diri seorang siswa Sekolah Dasar di NTT.
Dalam sikap resminya, BEM UGM menilai pemerintah belum mampu menjamin hak-hak dasar anak, sehingga peristiwa tersebut menjadi sorotan serius.
Sejak saat itu, pesan bernada intimidatif mulai datang. Bentuk ancaman yang diterima Tiyo beragam, mulai dari ancaman penculikan hingga tudingan bahwa dirinya ditunggangi kepentingan asing.
“Agen asing. Jangan cari panggung jual narasi sampah,” bunyi pesan itu, sebagaiman dilansir KabarJawa.com dari laman resmi DPR RI pada Sabtu, 14 Februari 2026.
Respons DPR RI
Kasus intimidasi terhadap Ketua BEM UGM ini memicu respons dari kalangan legislatif. Anggota Komisi X DPR RI, Hilman Mufidi, menyampaikan kecaman atas tindakan tersebut.
Hilman menilai tindakan teror terhadap mahasiswa merupakan praktik pembungkaman. Ia pun menyayangkan adanya aksi tersebut.
“Tindakan teror kepada adinda Tiyo, Ketua BEM UGM tentu sangat tidak sepatutnya dilakukan. Saya sangat menyayangkan aksi itu, itu sama saja dengan praktik pembungkaman,” tegas Hilman.
Desakan Pengusutan
Lebih lanjut, Hilman mendesak aparat penegak hukum untuk segera menyelidiki dan melacak pihak yang berada di balik nomor anonim tersebut. Ia mengisyaratkan agar kasus ini tidak dibiarkan berlarut tanpa kejelasan.
“Saya minta aparat mengusut tuntas siapa dalam aksi teror ke adinda Tiyo. Bagaimanapun suara Tiyo itu adalah wujud keterbukaan, wujud kebebasan berpendapat yang sangat perlu dihormati,” katanya.
Hilman juga mengingatkan bahwa tragedi kematian siswa Sekolah Dasar di NTT semestinya menjadi momentum refleksi bersama.
Ia mengajak semua pihak untuk merespons kritik dengan sikap terbuka dan bijak, bukan dengan cara-cara intimidatif.
“Semua pasti berduka, saya juga sangat prihatin dengan apa yang dialami anak kita di NTT, tapi menyikapi hal itu juga perlu keterbukaan hati, kekuatan pikir, dan setiap kritik terhadap penanganan kasusnya harus disikapi dengan bijak, bukan malah dengan teror,” pungkasnya.***