
KabarJawa.com– Rencana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) memindahkan sejumlah jurusan vokasi dari Kampus Wates ke Kampus Semanu, Gunungkidul, memantik keresahan mendalam di tengah masyarakat.
Kebijakan tersebut tidak hanya mengubah peta pendidikan tinggi di wilayah barat DIY, tetapi juga mengguncang denyut ekonomi lokal yang selama ini bertumpu pada aktivitas ribuan mahasiswa.
Isu pemindahan jurusan vokasi itu beredar luas setelah masyarakat mencermati pamflet Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) 2026.
Dalam informasi tersebut, tercantum dua program studi vokasi akan menjalani perkuliahan di Kampus Semanu, Gunungkidul. Perubahan arah itu langsung memicu kegelisahan, terutama bagi para pemilik usaha kos di Kapanewon Pengasih dan Wates.
Keresahan Pengusaha Kos Wates
Keresahan itu akhirnya bermuara dalam audiensi Paguyuban Kos Kawasan Terbah Serut dengan DPRD Kulon Progo pada Jumat (27/2/2026). Para pemilik kos menyuarakan kekhawatiran mereka secara terbuka.
Perwakilan paguyuban, Lia Hidayati, menyampaikan langsung dampak psikologis dan ekonomi yang kini membayangi para pengusaha kos.
Ia mengungkapkan, mayoritas usaha kos di wilayah Pengasih dan Wates sepenuhnya bergantung pada mahasiswa vokasi UNY.
“Awalnya kami mendapat informasi dari pamflet PMB UNY. Yang dulunya banyak diarahkan ke Kampus Wates, kini berganti,” ujar Lia usai audiensi di Gedung DPRD Kulon Progo.
Sebagai Dukuh Terbah, Lia juga mewakili kegelisahan warg. Ia amenyebut, di Padukuhan Terbah saja terdapat sekitar 70 unit kos aktif. Jumlah itu belum termasuk ratusan kos dan UMKM yang tersebar di sekitar kampus.
Selama ini, ribuan mahasiswa menjadi penggerak utama ekonomi kawasan. Pada tahun sebelumnya, jumlah mahasiswa baru vokasi mencapai sekitar 1.000 orang.
Angka itu menghadirkan perputaran uang yang signifikan bagi pemilik kos, pedagang makan, laundry, fotokopi, hingga warung kelontong.
Kini, para pelaku usaha membayangkan lorong-lorong kos yang sepi, kamar-kamar kosong, dan omzet yang merosot tajam.
Jika pemindahan jurusan berlangsung secara bertahap dan berkelanjutan, jumlah mahasiswa baru di Wates diproyeksikan menyusut dalam beberapa tahun ke depan.
Kondisi itu membuat investasi masyarakat—yang sebagian besar berasal dari tabungan pribadi dan pinjaman bank—terancam tidak kembali.
“Di Padukuhan Terbah saja sudah ada 70 kos, jadi memang berdampak ke perekonomian masyarakat,” tegas Lia.
Bagi banyak keluarga, usaha kos bukan sekadar bisnis, melainkan sumber penghidupan utama. Mereka membangun kamar demi kamar dengan harapan dapat menyekolahkan anak, membayar cicilan, dan mempertahankan stabilitas ekonomi keluarga.
Penjelasan Fakultas Vokasi UNY
Wakil Dekan Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Sumber Daya Fakultas Vokasi UNY, Adeng Pustikaningsih, membenarkan adanya rencana pemindahan dua program studi ke Kampus Semanu, Gunungkidul.
Pada tahun 2025, Kampus Wates memiliki 11 program studi, sedangkan Kampus Semanu memiliki 3 program studi. Mulai tahun ajaran 2026/2027, dua program studi akan dipindahkan ke Kampus Semanu.
Adeng menegaskan, kebijakan tersebut hanya berlaku bagi mahasiswa baru. Mahasiswa yang sudah menempuh studi di Kampus Wates tidak akan dipindahkan.
Saat ini, jumlah mahasiswa UNY di Kampus Wates mencapai sekitar 3.500 orang, sementara Kampus Semanu menampung sekitar 1.500 mahasiswa.
Pihak fakultas memproyeksikan jumlah mahasiswa di Wates akan menyusut secara bertahap selama tiga tahun ke depan. Pada 2029, Kampus Wates diperkirakan masih memiliki sekitar 900 mahasiswa aktif.
Dengan skema tersebut, pihak kampus menilai dampak ekonomi tidak akan terjadi secara drastis dalam waktu dekat.
Pihak fakultas menyebut kebijakan pemindahan program studi berdasarkan pada strategi pengembangan institusi. UNY berencana memusatkan Kampus Wates untuk jurusan olahraga saja, sementara jurusan vokasi akan diperkuat di Kampus Semanu, Gunungkidul.
Langkah ini menjadi bagian dari penataan akademik jangka panjang universitas. Namun, di sisi lain, masyarakat sekitar Kampus Wates berharap UNY tetap mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas yang sudah ada tanpa mengorbankan ekosistem ekonomi lokal.
Antara Strategi Kampus dan Harapan Warga
Di satu sisi, universitas memiliki hak dan kewenangan merancang arah pengembangan akademik. Di sisi lain, ribuan warga menggantungkan harapan ekonomi pada denyut kehidupan kampus.
Wates selama bertahun-tahun tumbuh sebagai kawasan pendidikan. Mahasiswa hadir bukan hanya sebagai peserta didik, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat.
Mereka menyewa kamar, berbelanja di warung kecil, memesan makanan, dan menjalin interaksi yang membentuk hubungan emosional dengan warga sekitar.
Para pemilik kos tidak menolak perubahan. Mereka hanya berharap pihak universitas mempertimbangkan dampak sosial-ekonomi secara menyeluruh.
Mereka ingin duduk bersama, berdialog, dan mencari solusi agar kebijakan akademik tidak mematikan roda ekonomi rakyat kecil.
Keresahan pengusaha kos di Wates bukan sekadar soal kamar kosong. Mereka memperjuangkan keberlangsungan hidup, stabilitas keluarga, dan masa depan anak-anak mereka.
Ke depan, komunikasi yang terbuka antara UNY, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi kunci. Kebijakan pendidikan seharusnya berjalan seiring dengan keberpihakan pada masyarakat yang telah lama menjadi mitra ekosistem kampus. (ef linangkung)