
KabarJawa.com– Tragedi keracunan massal yang menimpa lebih dari 600 siswa di Kecamatan Saptosari, Gunungkidul, ternyata sudah lama memiliki tanda bahaya.
Beberapa bulan sebelum peristiwa memilukan itu terjadi, Komandan Kodim 0730 Gunungkidul, Letkol Inf Roni Hermawan, telah memberikan peringatan keras tentang buruknya kondisi kebersihan di salah satu dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kalurahan Planjan.
Peringatan dari Kodim
Dalam kunjungan resmi ke dapur sehat Planjan beberapa waktu lalu, Letkol Roni menemukan pemandangan yang membuatnya geleng kepala.
Lalat beterbangan di sekitar meja pengolahan, air pencucian alat makan tampak keruh, dan ruang cuci piring bercampur dengan jalur distribusi makanan. Situasi itu sangat jauh dari kata higienis.
“Kami sudah mengingatkan jauh sebelum kejadian ini. Terlalu banyak lalat di dapur, ruang pencucian berdekatan dengan jalur distribusi makanan, dan tidak ada pembatas yang memadai. Itu sudah kami sampaikan langsung agar ditindaklanjuti,” tegas Letkol Inf Roni Hermawan, Kamis (30/10/2025).
Namun, waktu berjalan tanpa ada perbaikan berarti. Dapur sehat tetap beroperasi seperti biasa. Hingga akhirnya, Rabu (29/10/2025), ratusan anak sekolah di Saptosari mulai tumbang satu per satu.
Mereka mengeluh mual, muntah, dan pusing setelah menyantap makanan bergizi gratis yang dibagikan dari dapur Planjan.
Keracunan Siswa di Saptosari
Dalam hitungan jam, ratusan siswa dibawa ke puskesmas dan rumah sakit. Tangisan anak-anak bercampur dengan kepanikan orang tua.
Petugas medis bekerja tanpa henti. Total 695 siswa dari beberapa sekolah dasar mengalami gejala keracunan massal.
Sebagian besar menjalani perawatan jalan, namun tiga siswa harus dirawat intensif di rumah sakit karena mengalami dehidrasi berat. Hingga Kamis sore, kondisi mereka mulai membaik.
Kepala Puskesmas Saptosari bahkan sempat kewalahan menampung pasien. Aula puskesmas menjadi ruang perawatan darurat. Tim medis bekerja bergantian demi memastikan semua anak mendapatkan penanganan cepat.
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya setelah mendengar pernyataan dari Dandim.
Ia langsung turun tangan dan melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke dapur sehat Planjan.
“Kami mendapati masih ada lalat di area dapur, makanan panas ditutup dengan plastik, dan proses penyimpanan tidak sesuai standar higienitas. Ini sangat disayangkan, karena sudah pernah diingatkan tapi tidak ada perbaikan,” ujarnya.
Endah menilai kasus ini merupakan kelalaian fatal yang mencederai semangat program nasional MBG. Program yang semestinya menyehatkan anak-anak justru berubah menjadi ancaman kesehatan.
“Tujuan program ini mulia, tapi kalau pelaksanaannya ceroboh, justru bisa membahayakan anak-anak kita. Saya sudah perintahkan evaluasi total terhadap seluruh dapur sehat di Gunungkidul,” tegasnya lagi.
Indikasi Bakteri E.coli
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul tak tinggal diam. Melalui Dinas Kesehatan dan Badan Gizi Nasional (BGN), tim laboratorium segera menguji sampel makanan, air, dan peralatan dapur dari lokasi Planjan.
Hasil sementara menunjukkan adanya indikasi cemaran bakteri E.coli pada air untuk memasak dan mencuci peralatan dapur. Kontaminasi itu diduga kuat menjadi penyebab utama gejala keracunan massal.
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono, memastikan pihaknya akan menindak tegas setiap temuan pelanggaran sanitasi. Ia juga menyiapkan anggaran Rp100 juta untuk membantu biaya perawatan siswa yang terdampak.
“Kami tidak ingin kejadian ini terulang. Semua dapur sehat akan diaudit kembali, baik dari aspek sanitasi, sumber air, maupun sistem distribusinya. Kami juga akan menggandeng Kodim dan BGN untuk memperkuat pengawasan di lapangan,” ujarnya.
Menyikapi tragedi ini, Kodim 0730 Gunungkidul menegaskan komitmen untuk turun langsung dalam pengawasan lapangan.
Letkol Roni Hermawan menyebut pihaknya akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah agar setiap dapur sehat benar-benar memenuhi standar kebersihan dan keamanan pangan.
“Ini bukan sekadar urusan administrasi program, tapi soal keselamatan anak-anak. Kami siap membantu Pemkab melakukan pengawasan di lapangan agar kasus seperti ini tidak terulang,” tandasnya.(ef linangkung)