
KabarJawa.com– Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas tentang operasional Satuan Pelayanan dan Pemenuhan Gizi (SPPG) Planjan, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunungkidul.
Keputusan ini muncul setelah ratusan siswa dari dua sekolah, SMK Negeri 1 Saptosari dan SMP Negeri 1 Saptosari, mengalami gejala keracunan ringan usai mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu (29/10/2025).
Langkah penghentian ini menandai komitmen kuat BGN dalam menjamin keamanan pangan dan kesehatan peserta didik di seluruh wilayah pelaksana MBG.
Begitu menerima laporan kejadian, Koordinator Regional MBG DIY langsung memimpin rapat darurat untuk menilai situasi di lapangan.
Penghentian Sementara SPPG Planjan
Dalam pernyataan resminya, ia menegaskan bahwa penghentian sementara SPPG Planjan merupakan bentuk tanggung jawab dan kehati-hatian dalam memastikan seluruh bahan pangan aman bagi peserta didik.
Usai menerima laporan, BGN segera berkoordinasi dengan Puskesmas Saptosari, RSUD Saptosari, dan Dinas Kesehatan Gunungkidul.
Tim monitoring BGN langsung melakukan pendampingan teknis dan komunikasi publik. Mereka memeriksa setiap tahapan penanganan kasus, mulai dari pengambilan sampel makanan hingga pemantauan kondisi siswa di fasilitas kesehatan.
Selain itu, BGN aktif memberikan pendampingan komunikasi kepada pihak sekolah dan orang tua siswa agar informasi yang beredar tetap akurat, transparan, dan tidak menimbulkan kepanikan di masyarakat.
Hingga kini, hasil laboratorium dari Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul masih dalam proses analisis.
BGN menyatakan akan menunggu hasil resmi tersebut sebelum memutuskan langkah selanjutnya, termasuk apakah dapur SPPG Planjan dapat kembali beroperasi.
Prioritas Utama
Melalui siaran resmi, BGN menegaskan bahwa keselamatan peserta didik menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Program ini terbukti telah meningkatkan asupan gizi anak-anak sekolah di berbagai daerah, tapi BGN tetap menekankan pentingnya pengawasan ketat pada setiap tahap.
Mulai dari pemilihan bahan makanan, proses pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi ke sekolah, semua harus memenuhi standar higienitas yang ketat. Dia berkomitmen menjaga kepercayaan masyarakat.
“Transparansi dan keselamatan anak-anak adalah fondasi utama dari seluruh kebijakan kami,” tegas Koordinator Regional MBG DIY, Gagat Widiatmoko
Sementara itu, tim gabungan dari Dinas Kesehatan Gunungkidul dan BGN terus melakukan investigasi menyeluruh.
Pemeriksaan meliputi kebersihan dapur, kualitas air untuk memasak, serta sistem penyimpanan bahan pangan di dapur SPPG Planjan.
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul juga menurunkan tim pengawasan makanan untuk memastikan penerapan standar keamanan pangan. Hingga hasil akhir keluar, SPPG Planjan belum boleh beroperasi kembali.
“Operasional baru bisa dibuka setelah hasil evaluasi menunjukkan seluruh sistem memenuhi standar keamanan pangan nasional,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono.
Korban Keracunan
Hingga Kamis (30/10/2025) pukul 11.00 WIB, tercatat 695 siswa dari dua sekolah di Saptosari mengalami gejala ringan seperti mual, muntah, dan diare.
Dari jumlah itu, 45 siswa menjalani pemeriksaan intensif di fasilitas kesehatan, sedangkan lainnya cukup menjalani perawatan ringan dan observasi di rumah.
RSUD Saptosari menangani 18 siswa, sedangkan Puskesmas Saptosari merawat 27 siswa. Direktur RSUD Saptosari, Damaynti Mustikarini, memastikan seluruh pasien dalam kondisi stabil.
“Tidak ada gejala berat yang ditemukan. Satu pasien yang sempat dirawat inap sudah menunjukkan perkembangan positif dan segera bisa pulang,” terang Damaynti.
Data sementara menunjukkan, SMK Negeri 1 Saptosari memiliki 476 siswa, sedangkan SMP Negeri 1 Saptosari berjumlah 186 siswa.
Tim medis dan Dinas Kesehatan masih melakukan verifikasi ulang untuk memastikan jumlah pasti siswa yang terdampak.
Meski kejadian ini menjadi sorotan publik, BGN menegaskan akan tetap menjalankan evaluasi menyeluruh tanpa mengabaikan tujuan utama program MBG, yakni memenuhi kebutuhan gizi anak bangsa.
BGN memastikan setiap satuan pelayanan akan mendapatkan pendampingan teknis tambahan dan pelatihan ulang mengenai keamanan pangan, agar insiden serupa tidak terulang.
“Insiden ini menjadi pelajaran penting bagi semua pihak untuk semakin memperkuat sistem pengawasan dan tanggung jawab bersama,” tutup Koordinator Regional MBG DIY, Gagat Widiatmoko. (ef linangkung)