
KabarJawa.com-Dinas Perhubungan (Dishub) DIY menyiapkan tujuh kantong parkir utama untuk memastikan kelancaran arus kendaraan selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 di kawasan Malioboro.
Pemerintah mengatur seluruh titik parkir secara terstruktur di sisi barat, timur, utara, dan selatan untuk mengantisipasi lonjakan wisatawan yang setiap tahun memadati pusat kota Yogyakarta itu.
Kantong Parkir Malioboro untuk Libur Nataru 2025/2026
Kepala Dishub DIY, Chrestina Erni Widyastuti mengungkapkan tujuh kantong parkir tersebut adalah sebagai berikut.
- TKP Ngabean
- TKP Eks Hotel Trio
- TKP Beskalan
- TKP Eks Menara Kopi
- TKP Ketandan
- TKP Sriwedani
- TKP Senopati
Dishub DIY memastikan setiap lokasi mampu menampung kendaraan dalam jumlah besar, terutama saat arus puncak wisatawan tiba pada akhir Desember.
Dishub DIY menempatkan TKP Ngabean sebagai titik dominan di sisi barat, yang berfungsi mengendalikan arus kendaraan dari arah Wates dan Kulon Progo.
Di sisi utara, pemerintah mengoperasikan TKP Eks Hotel Trio, sedangkan TKP Beskalan di sisi selatan menopang kunjungan wisatawan menuju area pertunjukan seni Taman Budaya Yogyakarta.
Di sisi timur, TKP Eks Menara Kopi dan TKP Sriwedani menangani distribusi kendaraan dari arah Mandala Krida.
Sementara itu, TKP Senopati menjadi titik parkir strategis karena berada sangat dekat dengan Taman Pintar dan jalur menuju Titik Nol Kilometer.
Pada Nataru tahun ini, perhatian publik tertuju pada TKP Ketandan yang berada di jantung kawasan Pecinan.
Pemerintah meningkatkan kapasitas area parkir tersebut secara signifikan untuk mendukung arus pejalan kaki yang mengalir menuju Malioboro.
Pembangunan TKP Ketandan menggunakan konstruksi dari eks TKP ABA dan sudah berlangsung sejak Maret 2025. Pemerintah meningkatkan lokasi tersebut dari kantong parkir satu lantai outdoor menjadi bangunan tiga lantai yang jauh lebih memadai.
Sementara itu, area eks TKP ABA akan berubah menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai bagian dari program zero emission sumbu filosofi.
Dia menegaskan bahwa TKP Ketandan siap beroperasi sementara pada tahap pertama. Pihaknya akan melakukan pengecekan terlebih dulu dan dia berharap nanti tanggal 20 Desember sudah bisa digunakan.
“TKP Ketandan dipakai sementara sebelum dilanjutkan ke tahap 2 tahun depan,” jelasnya, Jumat (12/12/2025).
Rincian Kapasitas TKP Ketandan: Total 622 Kendaraan
Erni menjelaskan bahwa TKP Ketandan beroperasi dengan tiga lantai yang memiliki kapasitas berbeda.
1. Lantai 1
– 117 kendaraan roda dua
– 76 kendaraan roda empat
2. Lantai 2
– 84 kendaraan roda dua
– 11 kendaraan roda empat
3. Lantai 3
– 334 kendaraan roda dua
– tanpa ruang kendaraan roda empat
Secara keseluruhan, tahap pertama pembangunan TKP Ketandan mampu menampung 535 sepeda motor dan 87 mobil.
Dengan kapasitas tersebut, TKP Ketandan menjadi salah satu kantong parkir terbesar yang mendukung penyebaran arus lalu lintas Malioboro pada puncak liburan akhir tahun.
Di tengah persiapan Dishub DIY, dinamika berbeda terjadi di TKP Eks Menara Kopi, lokasi relokasi pedagang kaki lima dari eks TKP ABA.
Para PKL dan juru parkir di sana menggantungkan harapan besar pada meningkatnya arus wisatawan saat Nataru.
Hingga pertengahan Desember, kondisi ekonomi di lokasi tersebut belum pulih. Kawasan yang semula akan menjadi simpul baru aktivitas wisatawan justru tetap sepi.
Para PKL mengaku pendapatan menurun drastis setelah mereka dipindahkan dari lokasi lama yang berada lebih dekat dengan jalur utama kunjungan wisatawan Malioboro.
Kini sebagian pedagang hanya beroperasi pada Sabtu dan Minggu, sementara hari-hari biasa mereka lebih banyak tutup karena tak ada pengunjung yang datang.
Aspirasi PKL
Wakil Ketua Paguyuban Keluarga Besar ABA, Agil Suhariyanto, menyuarakan kondisi para pedagang yang sedang terhimpit.
Dengan kepindahan mereka ke tempat yang baru, kondisinya memang tidak seperti di tempat yang lama.
“Sebenarnya ini ada andil dan peran serta dari pemerintah, baik Pemda DIY maupun Pemerintah Kota,” lanjutnya.
Ia berharap momentum Nataru membawa perubahan nyata bagi pedagang dan juru parkir yang kini berjuang menghidupkan kawasan Eks Menara Kopi.
Menurutnya, lahan parkir resmi milik pemerintah sesungguhnya sangat mampu menampung bus wisata, termasuk pada musim libur akhir tahun. (ef linangkung)