
KABARJAWA – Langit mendung menggantung rendah di atas ladang singkong milik Sumari (62), petani asal Karangasem, Paliyan. Hanya dua hari ia menjemur hasil panennya.
Tapi malam itu, langit tak bersahabat. Hujan deras turun tanpa ampun. Paginya, singkong yang telah ia iris dan tata rapi untuk dijemur berubah warna. Hitam, lembap, dan berjamur.
Masyarakat Gunungkidul menyebut kondisi itu dengan satu kata: “jembuten” istilah lokal yang menyimpan duka panjang petani setiap kali musim panen bertemu dengan hujan salah mongso.
Jembuten bukan sekadar singkong rusak, tetapi cermin getir ketidakpastian iklim yang memukul para petani kecil tanpa ampun.
Fenomena Jembuten Menjadi Ancaman Tahunan
Setiap kali musim kemarau datang, petani ketela di Gunungkidul berharap langit bersahabat. Mereka menggantungkan harapan pada matahari yang menyengat, bukan mendung dan gerimis yang menyelinap di tengah musim kering. Namun, harapan itu kerap patah.
“Kami sebut jembuten kalau gaplek sudah kena hujan sebelum kering betul. Warnanya jadi kehitaman, aromanya asam, kadang berlendir,” ujar Sumari.
Ia menyebut, jembuten telah menjadi bagian dari kenyataan hidup petani ketela. Karena proses pengeringan membutuhkan waktu minimal tiga hari penuh sinar matahari.
Bila cuaca tak menentu dan hujan turun tiba-tiba, kualitas gaplek langsung anjlok. Para pengepul enggan membeli. Harga jatuh. Pendapatan hilang.
“Kalau sudah jembuten, harga bisa tinggal separuh. Kadang bahkan tidak laku sama sekali. Sakit hati rasanya. Kami kerja keras, tapi hasilnya tak sebanding,” keluh Sumari.
Bupati Endah: Istilah Jembuten Adalah Cermin Kearifan dan Peringatan
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, menyoroti fenomena jembuten bukan hanya sebagai kerugian fisik. Ia memandang istilah ini sebagai narasi lokal tentang ketahanan petani menghadapi iklim yang makin sulit diprediksi.
“Kata jembuten itu kuat. Ia bukan hanya tentang singkong hitam. Ia bicara soal nasib petani, soal ketidakpastian alam, soal tangis dalam diam,” tegas Bupati Endah.
Ia menyebut bahwa petani Gunungkidul telah hidup berdampingan dengan tantangan cuaca selama puluhan tahun. Namun, akhir-akhir ini, pola iklim semakin sulit dikenali.
Salah mongso, istilah lokal untuk menyebut cuaca yang datang tidak sesuai musim, menjadi teror nyata.
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul tidak tinggal diam. Melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Pemkab mulai membangun rumah-rumah jemur berbasis teknologi sederhana.
Rumah ini dirancang agar bisa melindungi gaplek dari hujan mendadak tanpa mengurangi proses pengeringan alami.
Selain itu, pemerintah terus menggelar pelatihan pengolahan pascapanen. Petani diajari mengolah singkong menjadi produk turunan seperti tiwul instan, keripik, hingga tepung mocaf yang lebih tahan lama dan bernilai ekonomis tinggi.
“Kami juga mendorong petani mengikuti prakiraan cuaca dari BMKG secara rutin. Memang, belum semua terbiasa. Tapi kami terus lakukan edukasi dan pendampingan. Ini perang panjang yang harus kita menangkan bersama,” tegas Endah.
Jembuten Tak Selalu Jadi Sampah: Lahirnya Gatot dan Harapan Baru
Meskipun jembuten kerap menjadi momok, beberapa petani mencoba bertahan dengan mengolahnya menjadi makanan tradisional. Salah satunya adalah gatot, olahan khas Gunungkidul berbahan dasar singkong jembuten yang telah berjamur putih halus.
“Gatot itu justru punya rasa khas. Manis, kenyal, dan disukai banyak orang. Kami olah dengan hati-hati, dan tetap bisa jual meski tak banyak,” terang Sumari.
Bagi petani seperti dia, gatot adalah bukti bahwa dari kegagalan bisa tumbuh peluang, meski kecil dan membutuhkan usaha lebih.
Jika singkong jembuten terlalu rusak untuk jadi gatot, para petani masih menjualnya sebagai campuran pakan ternak. Harga memang rendah, tapi setidaknya tak seluruh hasil panen terbuang.
Bahasa Lokal, Identitas Perjuangan
Di Gunungkidul, istilah jembuten telah melekat dalam kosakata pertanian rakyat. Tak ada padanan kata yang setara dalam Bahasa Indonesia. Namun, maknanya jelas: jembuten adalah luka basah yang terus terbuka setiap kali panen terguyur hujan.
“Ini bukan soal bahasa. Ini soal rasa, soal kenyataan hidup yang terus berulang. Kita perlu menjadikan istilah ini sebagai peringatan dan pijakan menyusun solusi konkret,” tegas Endah.
Ia menegaskan, ke depan pemerintah akan mengembangkan model mitigasi berbasis komunitas. Ia ingin masyarakat dilibatkan aktif dalam sistem peringatan dini cuaca, pengelolaan pascapanen, hingga tata niaga produk olahan singkong.