
KABARJAWA – Jembatan Pandansimo resmi berdiri megah di atas Sungai Progo, menyambungkan Kabupaten Bantul dengan Kulon Progo. Proyek ini memancarkan kebanggaan karena menggunakan teknologi modern hasil inovasi anak bangsa.
Pengawas proyek dari Kementerian PUPR, Vederieck Yahya, menegaskan bahwa proses pembangunan jembatan ini mengadopsi berbagai teknologi konstruksi mutakhir.
Tim konstruksi menggunakan Corrugated Steel Plate (CSP) sebagai struktur utama baja bergelombang yang ringan namun kokoh. Mereka juga memasang Lead Rubber Bearing (LRB) untuk meredam guncangan gempa bumi.
Selain itu, tim proyek mengimplementasikan Mechanically Stabilized Earth Wall (MSE Wall) yang fleksibel terhadap pergerakan tanah. Para pekerja pun memanfaatkan Mortar Bosa sebagai bahan perekat khusus untuk elemen struktural jembatan.
“Kalau alat ukur seismik khusus untuk mengukur kedalaman belum ada karena itu ranahnya perencanaan. Tapi intinya jembatan ini sudah bisa untuk meredam gempa dan likuifaksi,” ucap Vederieck saat meninjau lokasi proyek, Senin, 30 Juni 2025.
Tim pembangunan menyiapkan jembatan ini agar tahan menghadapi kondisi ekstrem wilayah pesisir selatan Jawa. Meskipun alat ukur seismik belum terpasang, pihak pengawas meyakini struktur jembatan sudah memiliki kemampuan optimal dalam meredam dampak gempa bumi maupun likuifaksi.
Plaza Publik dan Harapan Ekonomi Masyarakat Pesisir
Jembatan Pandansimo tidak hanya berfungsi sebagai penghubung vital mobilitas warga Bantul dan Kulon Progo. Pemerintah juga menyiapkan tiga area plaza publik, yakni Plaza A, Plaza B, dan Plaza C. Ketiga plaza ini dirancang menjadi ruang terbuka yang nyaman bagi pejalan kaki.
Vederieck memastikan bahwa pengelola melarang aktivitas jual beli di area pedestrian jembatan, termasuk oleh pedagang keliling atau starling (pedagang kopi keliling).
“Tidak boleh ada pedagang di area pedestrian. Kami menyiapkan penjagaan, baik dari CCTV maupun penjaga langsung yang selalu mengawasi,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa sistem keamanan jembatan dilengkapi CCTV, pengeras suara peringatan, dan pos penjagaan di sisi barat jembatan. Pengelola ingin masyarakat menggunakan plaza tersebut sebagai area santai dan aktivitas pejalan kaki tanpa terganggu aktivitas komersial.
“Harapannya di tempat-tempat ini teman-teman atau masyarakat bisa menggunakannya untuk area terbuka tapi khusus pejalan kaki,” tambah Vederieck.
Kehadiran Jembatan Pandansimo disambut antusias oleh DPRD DIY. Sekretaris Komisi C DPRD DIY, Koeswanto, menyatakan jembatan ini memiliki peran strategis. Ia meminta agar pemerintah segera membuka akses jembatan demi mendukung mobilitas warga.
“Kami kunjungan ke Jembatan Pandansimo karena ini usulan dari Kementerian. Jadi segera bisa dibuka karena ini sudah selesai sejak dibangun dari 17 November 2023. Ini sudah bulan Juni, harusnya segera dibuka untuk akses masyarakat kita dari Kulon Progo dan Bantul,” ujarnya.
Senada, Suwardi, anggota Komisi C lainnya, menegaskan bahwa kehadiran jembatan ini akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir selatan yang selama ini tergolong kawasan marginal secara ekonomi.
“Masyarakat kita yang ada di pinggiran selatan ini termasuk masyarakat marginal bagi DIY. Harapan kita dengan kehadiran Jembatan Pandansimo bisa mendorong pertumbuhan ekonomi dengan JJLS yang nanti bisa difungsikan dengan baik,” ungkap Suwardi.
Kini, jembatan megah karya anak bangsa itu menunggu waktu peresmian. Warga DIY menanti manfaat strategisnya, dari efisiensi distribusi logistik hingga pembukaan isolasi ekonomi kawasan selatan.
Jembatan Pandansimo berdiri bukan hanya sebagai infrastruktur penghubung, melainkan juga simbol kebangkitan teknologi konstruksi Indonesia.