
KabarJawa.com— Suasana khidmat menyelimuti Bangsal Kepatihan pada Rabu (15/4/2026). Sebanyak 3.830 jemaah calon haji asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) resmi memulai perjalanan spiritual menuju Tanah Suci.
Momentum ini tidak sekadar menjadi prosesi pelepasan, tetapi juga menandai babak baru dalam sejarah penyelenggaraan ibadah haji di Indonesia.
Pemerintah Daerah DIY menggelar pelepasan secara khidmat dengan menghadirkan berbagai unsur penting. Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X, membacakan sambutan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Pelepasan Jemaah Haji DIY
Dalam sambutannya, Sri Sultan menegaskan bahwa musim haji tahun ini menghadirkan keistimewaan yang tidak hanya dirasakan oleh jemaah DIY, tetapi juga oleh seluruh sistem penyelenggaraan haji nasional.
Ia menekankan bahwa tahun 1447 Hijriah/2026 Masehi menjadi tonggak penting karena untuk pertama kalinya pengelolaan haji berada di bawah Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia.
Perubahan kelembagaan ini membuka harapan baru terhadap pelayanan yang lebih profesional, tertata, dan berorientasi pada kemaslahatan jemaah.
Tidak hanya itu, jemaah haji DIY tahun ini juga mencatat sejarah sebagai kelompok pertama yang berangkat melalui embarkasi berbasis hotel di Yogyakarta International Airport.
Model layanan ini menghadirkan pengalaman baru yang mengedepankan kenyamanan, efisiensi, dan kualitas pelayanan sejak awal keberangkatan.
“Musim haji tahun ini merupakan momentum penting. Kita berharap tata kelola yang baru ini mampu memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh jemaah,” demikian pesan Sri Sultan yang dibacakan oleh Paku Alam X.
Di tengah suasana global yang dinamis, Sri Sultan juga mengingatkan para jemaah untuk tetap menjaga ketenangan dan fokus beribadah.
Ia mengajak seluruh jemaah untuk menjaga kesehatan, memperkuat kebersamaan, serta mematuhi arahan petugas demi kelancaran ibadah di Tanah Suci.
Lonjakan Kuota
Pelaksana Tugas Kepala Kanwil Kemenhaj DIY, Jauhar Mustofa, melaporkan bahwa jumlah jemaah tahun ini mengalami peningkatan signifikan. DIY menerima tambahan kuota sebanyak 601 orang, sehingga total jemaah mencapai 3.830 orang.
Jumlah tersebut mencakup 187 jemaah prioritas lansia serta dinamika mutasi masuk dan keluar wilayah. Sebanyak 62 petugas turut mendampingi jemaah, memastikan setiap tahapan berjalan lancar dan terkoordinasi.
Dari sisi demografi, potret jemaah DIY menunjukkan keberagaman yang menarik. Mayoritas jemaah merupakan lulusan SLTA dan sarjana S-1. Profesi Pegawai Negeri Sipil mendominasi, diikuti pegawai swasta dan ibu rumah tangga.
Rentang usia jemaah memperlihatkan dominasi kelompok produktif dan lanjut usia. Kelompok usia 46–60 tahun dan 61–75 tahun menjadi yang terbanyak, mencerminkan kesiapan fisik dan spiritual yang matang untuk menunaikan rukun Islam kelima.
Namun, di balik angka-angka tersebut, terselip kisah yang menyentuh. Jemaah termuda, Fania Ulaya, baru berusia 14 tahun 2 bulan. Ia berangkat menggantikan orang tuanya yang telah wafat, membawa amanah dan doa keluarga.
Di sisi lain, semangat luar biasa ditunjukkan oleh Mardijiono Kartosentono, seorang petani berusia 102 tahun 3 bulan yang tetap teguh menunaikan ibadah haji.
Jemaah haji DIY terbagi ke dalam 11 kelompok terbang (kloter). Sebanyak 10 kloter masuk dalam Gelombang 1 yang akan mendarat di Madinah, sebelum melanjutkan perjalanan ke Makkah dan menempati wilayah Misfalah yang berjarak sekitar 2–2,5 kilometer dari Masjidil Haram.
Sementara itu, satu kloter terakhir, yakni Kloter 26-YIA, tergabung dalam Gelombang 2 bersama jemaah dari Jawa Tengah. Kloter ini akan mendarat di Jeddah dan menempati kawasan Syisyah, sekitar 3,5 kilometer dari Masjidil Haram.
Seluruh jemaah akan mendapatkan fasilitas bus selawat yang beroperasi selama 24 jam, memberikan kemudahan akses menuju Masjidil Haram kapan pun.
Manasik Intensif dan Inovasi Embarkasi
Pemerintah memastikan kesiapan jemaah melalui bimbingan manasik yang intensif. Setiap jemaah telah mengikuti lima kali manasik tatap muka serta 26 kali manasik secara daring.
Bekal ini menjadi fondasi penting agar jemaah mampu menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan baik dan benar.
Sorotan utama tahun ini terletak pada penggunaan embarkasi baru di Yogyakarta. Seluruh jemaah berangkat melalui Embarkasi Yogyakarta International Airport, yang menjadi satu-satunya embarkasi berbasis hotel di Indonesia.
Konsep ini memungkinkan jemaah menjalani proses keberangkatan dengan lebih nyaman, terintegrasi, dan manusiawi.
Jauhar Mustofa menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Daerah DIY atas dukungan penuh terhadap penetapan embarkasi ini.
Pelepasan 3.830 jemaah haji DIY tahun ini bukan sekadar seremoni tahunan. Peristiwa ini mencerminkan transformasi besar dalam tata kelola haji Indonesia, dari kelembagaan baru hingga inovasi layanan yang menyentuh langsung pengalaman jemaah.
Dari Bangsal Kepatihan, para jemaah membawa lebih dari sekadar koper dan bekal perjalanan. Mereka membawa harapan, amanah, dan kerinduan untuk menjadi tamu Allah. (ef linangkung)