
KabarJawa.com — InJourney Destination Management (IDM) menyelenggarakan program peningkatan kapasitas layanan bagi petugas garis depan dan pemandu wisata di destinasi kelolaannya.
Kegiatan ini dilakukan melalui Hospitality Training Program untuk frontliners serta Hospitality & Up Skill for Guide bagi pamong carita di Taman Wisata Candi Borobudur.
Program tersebut merupakan bagian dari upaya IDM dalam meningkatkan kualitas layanan sebagai fondasi penciptaan pengalaman wisata.
IDM menempatkan layanan sebagai elemen penting dalam membangun kesan dan memperkuat daya tarik destinasi bagi wisatawan.
Direktur Komersial InJourney Destination Management, Gistang Panutur, menyampaikan bahwa pelatihan ini mencerminkan komitmen perusahaan dalam menerapkan nilai Melayani Sepenuh Hati melalui konsep Indonesian Hospitality di seluruh titik layanan.
“Hospitality as the Heart of the Experience. Kami menghadirkan pengalaman wisata yang tidak hanya informatif, tetapi juga hangat, tulus, dan meninggalkan kesan mendalam. Oleh karena itu, kami memperkuat kompetensi layanan agar seluruh petugas memiliki standar kualitas pelayanan yang selaras dan unggul,” ujar Gistang Panutur, Selasa (16/12/2025).
Menurutnya, penguatan layanan tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga pada kemampuan membangun cerita yang bermakna sehingga dapat memengaruhi kepuasan dan loyalitas wisatawan.
Dalam Hospitality Training Program, IDM melibatkan 150 peserta yang berasal dari berbagai lini layanan, seperti petugas keamanan, operasional, dan ticketing.
Pelatihan ini difokuskan pada penguatan service mindset, service skills & hospitality standard, serta service leadership.
Group Head Human Capital IDM, Doni Asriadi, menjelaskan bahwa peserta didorong untuk membangun pola pikir layanan yang menempatkan kebutuhan dan kenyamanan wisatawan sebagai prioritas utama.
“Peserta kami dorong untuk memiliki service mindset yang kuat, di mana setiap keputusan selalu berorientasi pada pelanggan. Kami juga menanamkan service leadership agar setiap individu mampu melayani orang lain terlebih dahulu dan menciptakan budaya kerja yang kolaboratif, empatik, serta berorientasi pada pelayanan prima,” kata Doni Asriadi.
Ia menambahkan bahwa penerapan service skills & hospitality standard menjadi pedoman baku agar layanan yang diberikan tetap ramah, profesional, konsisten, dan sesuai dengan nilai-nilai Indonesian Hospitality.
Selain frontliners, IDM juga melaksanakan Hospitality & Up Skill for Guide untuk meningkatkan kapasitas 80 pamong carita di Taman Wisata Candi Borobudur.
Program ini diselenggarakan melalui kolaborasi dengan Museum dan Cagar Budaya Borobudur serta Himpunan Pramuwisata Indonesia Kabupaten Magelang.
Pelatihan tersebut mencakup materi pelestarian cagar budaya, basic manner, dan public speaking. Materi pelestarian cagar budaya ditujukan untuk memastikan informasi yang disampaikan pamong carita selaras dengan prinsip konservasi dan edukasi.
Sementara itu, materi basic manner dan public speaking difokuskan pada peningkatan kejelasan komunikasi dan kualitas interaksi dengan wisatawan.
Commercial Experience Group Head IDM, Galuh Indah, menyatakan bahwa program ini menjadi sarana penyegaran bagi pamong carita dalam memahami kembali peran strategis mereka sebagai garda terdepan pengalaman wisata.
“Pamong carita tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membawa pesan dan pengalaman yang akan diingat wisatawan. Melalui semangat Melayani Sepenuh Hati, kami berharap wisatawan tidak hanya datang sekali, tetapi memiliki keinginan untuk kembali berkunjung,” ujar Galuh Indah.
Commercial Head Group PT Taman Wisata Borobudur, AY Suhartanto, menilai pelatihan tersebut penting untuk memperkuat aspek hospitality dan kompetensi pamong carita dalam mendampingi pengunjung.
“Kita perlu menghadirkan pengalaman yang berkesan. Pengunjung tidak hanya terkesan pada objeknya, tetapi juga pada narasi cerita dan layanan yang diberikan,” ujarnya.
Salah satu pamong carita Taman Wisata Candi Borobudur, Johan Wahyudi (32), menyampaikan bahwa pelatihan ini memberikan pembelajaran terkait peningkatan kualitas layanan.
Ia menyebut pelatihan tersebut membantu dalam memperhatikan aspek penampilan, cara berbicara, dan penyampaian cerita kepada wisatawan.
“Pelatihan ini membuka pemahaman bahwa masih banyak hal yang perlu diperhatikan saat membawa tamu, mulai dari penampilan, cara berbicara, hingga intonasi bercerita. Penyampaian cerita yang jelas dan berkesan menjadi bagian penting dalam mendampingi wisatawan,” kata Johan.