
KabarJawa.com – Sutradara kenamaan Indonesia, Hanung Bramantyo, menggelar kuliah sinema di Universitas Amikom Yogyakarta, Senin, 1 Desember 2025. Di hadapan ratusan mahasiswa yang antusias, Hanung tidak hanya berbagi proses kreatifnya, tetapi juga menyampaikan pesan politis dan moral yang mendalam.
Ia mengajak mahasiswa untuk bersikap kritis terhadap narasi sejarah resmi Indonesia, terutama mengenai peristiwa kelam tahun 1965 dan 1998, yang menurutnya masih menyisakan banyak pertanyaan tak terjawab hingga saat ini.
Dalam Kuliah Sinema Universitas Amikom Yogyakarta (1 Desember 2025), sutradara kelahiran Yogyakarta tersebut menekankan bahwa seni khususnya film memiliki peran penting untuk membuka kembali diskusi mengenai luka masa lalu yang belum sepenuhnya sembuh.
Diskusi ini menjadi platform bagi Hanung untuk mengumumkan upayanya membuka tabir sejarah melalui film terbarunya yang sedang ia garap.
Tragedi 1965 dan Perampasan Hak Asasi
Hanung Bramantyo menyebut dua periode penting yang secara fundamental membentuk wajah Indonesia modern, dimulai dari peristiwa 1965. Ia secara blak-blakan menyinggung skala tragedi yang terjadi pada masa itu.
“Tahun 1965 itu ada sebuah peristiwa pembantaian umat manusia lebih dari 1 juta orang. Banyak orang dibunuh hanya karena dituduh komunis,” ungkapnya.
Sutradara Sang Pencerah itu menjelaskan bahwa situasi pada masa itu tidak hanya menghilangkan nyawa, tetapi juga merampas hak asasi warga negara secara luas, termasuk hak kesempatan belajar, hak bekerja, hingga hak berkumpul dengan keluarga.
Ia menekankan betapa brutalnya realitas kekerasan yang terjadi, menggunakan deskripsi visual yang kuat. “Tiba-tiba kepala bapaknya sudah tidak ada, darah mengalir di mana-mana. Itu kenyataannya,” tegas Hanung, mendorong mahasiswa untuk menghadapi kebenaran sejarah tersebut.
Luka 1998 dan Korban yang Hilang Tanpa Jejak
Tidak hanya 1965, Hanung juga menyinggung luka yang ditorehkan oleh kerusuhan politik pada tahun 1998, yang juga menyebabkan banyak keluarga kehilangan anggota tanpa kejelasan hingga hari ini. Ia menyoroti fenomena “orang hilang” yang hingga kini belum menemukan titik terang.
“Tiba-tiba ada orang hilang. Bapaknya nggak pulang, ibunya nggak pulang. Sampai hari ini tidak tahu ke mana,” lanjutnya. Hanung menggunakan perannya sebagai sineas untuk menyoroti bahwa ketidakpastian nasib korban-korban ini adalah bentuk kegagalan negara dalam memberikan keadilan dan menutup babak kelam masa lalu secara tuntas.
Film Sebagai Bentuk Kemarahan dan Kritik Politik
Melalui film terbarunya, Hanung berupaya membuka kembali diskusi mengenai tragedi tersebut dengan merujuk pada lokasi-lokasi pembunuhan yang selama ini dikaitkan dengan peristiwa 30 September.
Ia menilai, isu sensitif seperti trauma sejarah seringkali dijadikan alat politik. “Lubang-lubang itu selama puluhan tahun selalu direproduksi. Bahkan menjelang pemilu, stigma komunis selalu dibangkitkan lagi,” ujarnya. Ia menilai politik sering menjadikan trauma sejarah sebagai alat untuk menjatuhkan lawan, bukan untuk mencari kebenaran.
Hanung menyoroti bahwa hingga hari ini tidak ada kejelasan siapa dalang pembunuhan tujuh perwira pada peristiwa 30 September 1965. Menurutnya, negara pun belum berani membuka seluruh kebenaran.
Dalam momen yang penuh emosi, Hanung menyatakan film barunya adalah manifestasi kritik pedas. “Melalui film ini saya mengungkapkan kemarahan saya kepada negara ini. Kenapa tidak mau terbuka atas peristiwa 50 tahun lalu?” katanya sambil menegaskan bahwa korban tragedi tidak hanya tujuh orang, melainkan jutaan.
Pesan Kritis untuk Generasi Muda Amikom (H2)
Menutup kuliah sinemanya, Hanung Bramantyo secara khusus mengajak mahasiswa Amikom untuk tidak pasif terhadap sejarah. Ia berharap generasi muda memiliki keberanian untuk mempertanyakan narasi resmi yang selama ini dikonsumsi dan aktif mencari perspektif yang lebih manusiawi.
“Teman-teman adalah generasi yang bisa mempresentasikan ulang sejarah itu dengan cara lebih jujur,” ujarnya, memberikan tanggung jawab moral kepada para mahasiswa sebagai generasi penerus.
Kuliah sinema yang berlangsung interaktif ini ditutup dengan antusiasme tinggi dari para mahasiswa, menunjukkan kesadaran baru mengenai peran seni dalam mencerdaskan dan meluruskan sejarah bangsa. Hanung menyatakan komitmennya untuk terus berkarya agar publik tidak melupakan luka masa lalu yang belum sepenuhnya sembuh.***