Hangatnya Silaturahmi Lebaran di Wotawati, Dusun di mana Matahari Terlambat Terbit

Bagikan :
Suasana Dusun Wotawati dengan latar rumah tradisional di lembah bekas aliran Bengawan Solo purba. (Ist)

KabarJawa.com — Mentari pagi di Dusun Wotawati tidak pernah tergesa-gesa. Pada Jumat pagi sekitar pukul 08.00 WIB, cahaya matahari baru perlahan muncul dari balik perbukitan.

Sisa hujan masih menyisakan embun di dedaunan, sementara langit tampak berangsur membuka hari.

Dusun Wotawati memiliki kondisi geografis yang khas. Berada di lembah bekas aliran Bengawan Solo purba, kawasan ini membuat matahari datang lebih lambat dan terbenam lebih cepat.

Namun di balik kondisi tersebut, kehidupan masyarakat terasa hangat, terutama saat Hari Raya Idul Fitri.

Tradisi Silaturahmi dari Rumah ke Rumah

Pagi itu, aktivitas warga sudah berlangsung. Jalanan dusun tidak sepenuhnya sepi.

Warga berjalan kaki dari satu rumah ke rumah lain untuk bersilaturahmi, membawa salam dan kebersamaan khas Lebaran.

Kegiatan ini tidak hanya terbatas pada kerabat. Warga juga membuka pintu rumah bagi siapa saja, termasuk wisatawan yang datang berkunjung.

Sapaan “monggo” terdengar di berbagai sudut dusun. Anak-anak, remaja, hingga orang tua menyambut setiap orang yang melintas dengan sikap terbuka.

Baca juga  Rundown Konser Sumbu Filosofi Yogyakarta 2025: Mulai Jam Berapa?

Sejumlah warga juga menyediakan halaman rumah sebagai tempat parkir. Fasilitas tersebut diberikan secara sukarela tanpa tarif tetap.

Keramahan Warga dan Suasana Lebaran

Salah satu warga, Sudarmi (56), menyambut tamu yang datang ke rumahnya dengan menyediakan tempat beristirahat.

Di ruang tamunya tersaji berbagai hidangan Lebaran, seperti nastar, kastengel, dan jajanan tradisional.

Rumah tersebut telah diperbaiki melalui dana keistimewaan Yogyakarta. Meski sederhana, rumah itu menjadi ruang pertemuan antara warga dan tamu.

Sudarmi juga mengajak tamu berbincang. Sementara itu, cucunya membantu menyajikan minuman hangat.

“Pakai gula atau tidak?” tanyanya kepada tamu yang datang.

Interaksi tersebut menjadi bagian dari kebiasaan warga dalam menyambut siapa pun yang berkunjung.

Perubahan Dusun dan Kunjungan Wisata

Menurut Sudarmi, sejak 2024 pemerintah telah memberikan bantuan rehabilitasi rumah kepada sekitar 100 kepala keluarga di dusun tersebut.

Perubahan tersebut membuat tampilan rumah menjadi lebih seragam dengan ciri khas arsitektur Yogyakarta, seperti ornamen bata merah dan desain tradisional.

“Sekarang baru separuh. Besok dilanjutkan lagi,” ujarnya.

Baca juga  Rekomendasi Wisata Jogja Aesthetic 2025: Lengkap Wisata Alam, Edukasi, dll

Perkembangan ini turut mendorong meningkatnya kunjungan wisatawan yang tertarik dengan kondisi dusun dan kehidupan sosial masyarakatnya.

Dampak Kehadiran Wisatawan

Kehadiran wisatawan memberikan tambahan aktivitas bagi warga. Meski tidak ada sistem tarif resmi, warga memperoleh pemasukan dari parkir sukarela, sajian makanan, hingga kontribusi dari pengunjung.

Beberapa wisatawan juga memilih menginap di rumah warga untuk merasakan langsung suasana kehidupan di dusun tersebut.

Kesan Pengunjung

Salah satu wisatawan, Robby, asal Padang yang tinggal di Jakarta, datang bersama istrinya untuk melihat langsung fenomena matahari yang terbit lebih lambat.

Ia berjalan menyusuri jalan dusun dan berinteraksi dengan warga.

“Saya kaget, ramah-ramah semua. Semua menyapa. Kalau di rumah saya di Jakarta, jangankan menyapa, kadang malah buang muka,” ujarnya.

Lebaran yang Menghidupkan Nilai Kemanusiaan

Di Dusun Wotawati, Idul Fitri tidak hanya menjadi perayaan keagamaan.

Warga menjadikannya momentum untuk menghidupkan kembali nilai-nilai kemanusiaan—berbagi, menerima, dan mempererat hubungan tanpa memandang latar belakang.

Di tengah dunia yang semakin sibuk dan individualistis, Wotawati menghadirkan oase.

Baca juga  Bupati Gunungkidul Bakal Arahkan Hasil Laut Kampung Nelayan Merah Putih Pantai Sadeng untuk Suplai Program MBG

Tempat di mana senyum masih tulus, pintu rumah selalu terbuka, dan secangkir teh hangat mampu menyatukan siapa saja.

Matahari boleh datang terlambat di dusun ini.

Namun kehangatan warganya selalu hadir lebih awal—menyambut siapa pun yang ingin merasakan arti pulang, meski bukan di kampung sendiri.

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya
Jadwal Ganjil Genap Puncak 26 April 2026
Jadwal Buka Tutup Puncak 26 April 2026, Berlaku One Way atau Ganjil Genap? Cek Estimasinya