
KabarJawa.com — Mentari pagi di Dusun Wotawati tidak pernah tergesa-gesa. Pada Jumat pagi sekitar pukul 08.00 WIB, cahaya matahari baru perlahan muncul dari balik perbukitan.
Sisa hujan masih menyisakan embun di dedaunan, sementara langit tampak berangsur membuka hari.
Dusun Wotawati memiliki kondisi geografis yang khas. Berada di lembah bekas aliran Bengawan Solo purba, kawasan ini membuat matahari datang lebih lambat dan terbenam lebih cepat.
Namun di balik kondisi tersebut, kehidupan masyarakat terasa hangat, terutama saat Hari Raya Idul Fitri.
Tradisi Silaturahmi dari Rumah ke Rumah
Pagi itu, aktivitas warga sudah berlangsung. Jalanan dusun tidak sepenuhnya sepi.
Warga berjalan kaki dari satu rumah ke rumah lain untuk bersilaturahmi, membawa salam dan kebersamaan khas Lebaran.
Kegiatan ini tidak hanya terbatas pada kerabat. Warga juga membuka pintu rumah bagi siapa saja, termasuk wisatawan yang datang berkunjung.
Sapaan “monggo” terdengar di berbagai sudut dusun. Anak-anak, remaja, hingga orang tua menyambut setiap orang yang melintas dengan sikap terbuka.
Sejumlah warga juga menyediakan halaman rumah sebagai tempat parkir. Fasilitas tersebut diberikan secara sukarela tanpa tarif tetap.
Keramahan Warga dan Suasana Lebaran
Salah satu warga, Sudarmi (56), menyambut tamu yang datang ke rumahnya dengan menyediakan tempat beristirahat.
Di ruang tamunya tersaji berbagai hidangan Lebaran, seperti nastar, kastengel, dan jajanan tradisional.
Rumah tersebut telah diperbaiki melalui dana keistimewaan Yogyakarta. Meski sederhana, rumah itu menjadi ruang pertemuan antara warga dan tamu.
Sudarmi juga mengajak tamu berbincang. Sementara itu, cucunya membantu menyajikan minuman hangat.
“Pakai gula atau tidak?” tanyanya kepada tamu yang datang.
Interaksi tersebut menjadi bagian dari kebiasaan warga dalam menyambut siapa pun yang berkunjung.
Perubahan Dusun dan Kunjungan Wisata
Menurut Sudarmi, sejak 2024 pemerintah telah memberikan bantuan rehabilitasi rumah kepada sekitar 100 kepala keluarga di dusun tersebut.
Perubahan tersebut membuat tampilan rumah menjadi lebih seragam dengan ciri khas arsitektur Yogyakarta, seperti ornamen bata merah dan desain tradisional.
“Sekarang baru separuh. Besok dilanjutkan lagi,” ujarnya.
Perkembangan ini turut mendorong meningkatnya kunjungan wisatawan yang tertarik dengan kondisi dusun dan kehidupan sosial masyarakatnya.
Dampak Kehadiran Wisatawan
Kehadiran wisatawan memberikan tambahan aktivitas bagi warga. Meski tidak ada sistem tarif resmi, warga memperoleh pemasukan dari parkir sukarela, sajian makanan, hingga kontribusi dari pengunjung.
Beberapa wisatawan juga memilih menginap di rumah warga untuk merasakan langsung suasana kehidupan di dusun tersebut.
Kesan Pengunjung
Salah satu wisatawan, Robby, asal Padang yang tinggal di Jakarta, datang bersama istrinya untuk melihat langsung fenomena matahari yang terbit lebih lambat.
Ia berjalan menyusuri jalan dusun dan berinteraksi dengan warga.
“Saya kaget, ramah-ramah semua. Semua menyapa. Kalau di rumah saya di Jakarta, jangankan menyapa, kadang malah buang muka,” ujarnya.
Lebaran yang Menghidupkan Nilai Kemanusiaan
Di Dusun Wotawati, Idul Fitri tidak hanya menjadi perayaan keagamaan.
Warga menjadikannya momentum untuk menghidupkan kembali nilai-nilai kemanusiaan—berbagi, menerima, dan mempererat hubungan tanpa memandang latar belakang.
Di tengah dunia yang semakin sibuk dan individualistis, Wotawati menghadirkan oase.
Tempat di mana senyum masih tulus, pintu rumah selalu terbuka, dan secangkir teh hangat mampu menyatukan siapa saja.
Matahari boleh datang terlambat di dusun ini.
Namun kehangatan warganya selalu hadir lebih awal—menyambut siapa pun yang ingin merasakan arti pulang, meski bukan di kampung sendiri.