
KabarJawa.com — Gunung Merapi kembali mencatatkan aktivitas signifikan pada Sabtu pagi (3/1). Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan terjadinya awan panas guguran pada pukul 07.58 WIB dengan jarak luncur sekitar 1.000 meter ke arah barat daya, mengarah ke hulu Kali Krasak.
Kepala BPPTKG Agus Budi Santosa menyampaikan, pada saat kejadian angin bertiup lemah ke arah timur. Awan panas guguran tersebut terekam dengan amplitudo tremor mencapai 68 milimeter dan durasi 93,9 detik.
Kondisi ini menunjukkan bahwa suplai magma di tubuh Gunung Merapi masih berlangsung, sehingga potensi terjadinya awan panas guguran dinilai tetap tinggi.
Aktivitas Guguran dan Gempa Meningkat
BPPTKG mencatat, sejak pagi hingga siang hari, Gunung Merapi mengalami 12 kali guguran lava ke arah barat daya, meliputi wilayah Kali Krasak dan Kali Sat atau Kali Putih. Jarak luncur maksimum guguran lava tersebut mencapai 1.600 meter.
Selain itu, terekam sebanyak 35 kali gempa guguran dengan amplitudo berkisar antara 2 hingga 23 milimeter dan durasi 46,89 hingga 182,79 detik. Aktivitas kegempaan lainnya berupa 18 kali gempa hybrid, dengan durasi antara 15,49 hingga 33,47 detik.
Dari sisi meteorologi, kondisi cuaca di sekitar Gunung Merapi pada Sabtu pagi terpantau mendung. Suhu udara berada pada rentang 18,3 hingga 20,8 derajat Celsius dengan tingkat kelembaban udara antara 83,4 hingga 89,4 persen. Angin bertiup lemah ke arah timur, sementara tekanan udara tercatat berkisar 872,7 hingga 915,42 mmHg.
Secara visual, Gunung Merapi teramati dalam kondisi kabut tipis dengan visibilitas 0-I hingga 0-II. Asap kawah tidak teramati selama periode pengamatan tersebut.
Status Siaga Tetap Diberlakukan
Hingga saat ini, status aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga. Agus Budi Santosa menegaskan bahwa masyarakat diminta untuk mematuhi seluruh rekomendasi yang telah ditetapkan dan tidak melakukan aktivitas apapun di zona potensi bahaya.
“Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan hingga barat daya, meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal lima kilometer, Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga tujuh kilometer, serta sektor tenggara seperti Sungai Woro dan Gendol,” ujar Agus.
BPPTKG juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi bahaya sekunder berupa lahar, awan panas, serta lontaran material vulkanik, khususnya saat terjadi hujan.
Dalam kondisi tertentu, radius dampak lontaran material vulkanik dapat mencapai hingga tiga kilometer dari puncak apabila terjadi letusan eksplosif.
Imbauan Kewaspadaan Berkelanjutan
BPPTKG menegaskan bahwa setiap perubahan signifikan dalam aktivitas Gunung Merapi akan segera disampaikan kepada masyarakat. Pemantauan dilakukan secara intensif dan rekomendasi akan terus diperbarui guna memastikan keselamatan warga di kawasan rawan bencana.
Meski tidak setiap aktivitas erupsi berujung pada bencana besar, rekam jejak Gunung Merapi menunjukkan bahwa awan panas guguran dapat bergerak dengan cepat dan berpotensi menimbulkan risiko serius.
Oleh karena itu, masyarakat di wilayah Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten diminta untuk tetap berada di zona aman, meningkatkan kewaspadaan, serta mengantisipasi kemungkinan gangguan abu vulkanik.
Aktivitas pada Sabtu pagi ini kembali menjadi pengingat bahwa Gunung Merapi merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia.
Masyarakat diimbau tetap tenang, mengikuti informasi resmi dari otoritas berwenang, dan mengutamakan keselamatan dalam setiap aktivitas.