
KABARAJAWA – Dinas Perdagangan (Disdag) Kabupaten Gunungkidul mengguncang publik setelah menemukan dua merek beras premium diduga oplosan yang beredar bebas di toko modern wilayah ini.
Petugas Disdag bersama Satgas Pangan dan Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul langsung menyisir pasar tradisional dan toko modern dalam inspeksi mendadak pada Sabtu, 19 Juli 2025.
Kepala Disdag Gunungkidul, Kelik Yuniantoro, mengonfirmasi temuan tersebut saat dikonfirmasi Minggu, 20 Juli 2025. Dia menyatakan tim menemukan dua merek beras oplosan di rak toko modern. Namun, mereka tidak menemukan merek beras oplosan di Pasar Argosari saat melakukan sidak.
“Kami menemukan dua merek beras dugaan oplosan di toko-toko modern. Sedangkan di Pasar Argosari tidak kami temukan,” tegas Kelik.
Kelik langsung memerintahkan tim untuk memberikan imbauan kepada pengelola toko modern agar segera menurunkan dua merek beras oplosan tersebut. Dia meminta produk itu tidak dipajang dan dijual kepada masyarakat demi menjaga keamanan pangan.
“Kami sudah imbau agar dua merek itu tidak dipajang dan tidak dijual ke masyarakat. Untuk penindakan hukum, kami masih menunggu keputusan kementerian, karena kewenangan hukumnya di pusat,” jelas Kelik.
Kelik menegaskan Disdag Gunungkidul akan melanjutkan sidak ke sejumlah pasar tradisional dan toko modern lain. Dia memastikan tim akan memperluas cakupan monitoring untuk memastikan keamanan beras di Gunungkidul.
“Kami akan melakukan monitoring lagi. Kami akan memperbanyak toko dan pasar yang kami cek. Kami ingin memastikan beras yang dijual di Gunungkidul aman dan berkualitas,” tegasnya.
Koordinasi dan Investigasi Lanjut Terkait Beras Oplosan
Kepala Bidang Perdagangan Disdag Gunungkidul, Ris Heriyani, juga menekankan pentingnya kehati-hatian masyarakat. Dia meminta warga lebih selektif memilih beras yang akan dikonsumsi.
“Kami mengimbau masyarakat lebih selektif. Kementerian sudah mengeluarkan daftar produk beras oplosan. Masyarakat bisa mengakses dan memastikan produknya aman,” ungkap Ris.
Ris menambahkan, Disdag Gunungkidul sudah berkoordinasi dengan Bulog untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan beras di pasaran. Pihaknya menggelar operasi pasar dan pasar murah untuk menekan keresahan masyarakat.
“Kami pastikan harga tetap stabil dan stok aman. Kami ingin masyarakat tenang dan tidak panik,” tutur Ris.
Sementara itu, hasil investigasi Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Satgas Pangan Polri mengungkap fakta mengejutkan. Sedikitnya ada 212 merek beras di Indonesia yang tidak memenuhi standar mutu, mulai dari berat kemasan, komposisi, hingga labelnya.
Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dirtipideksus) Bareskrim Polri saat ini memeriksa empat perusahaan besar yang memproduksi dan mendistribusikan beras oplosan tersebut. Empat perusahaan tersebut adalah Wilmar Group, PT Food Station Tjipinang Jaya, PT Belitang Panen Raya, dan PT Sentosa Utama Lestari (Japfa Group).
Wilmar Group tercatat mengelola sejumlah merek populer seperti Sania, Sovia, Fortune, dan Siip. Sementara PT Food Station Tjipinang Jaya memproduksi beras premium seperti Setra Ramos, Beras Pulen Wangi, Food Station, Ramos Premium, Setra Pulen, dan Setra Ramos.
PT Belitang Panen Raya turut terseret kasus ini dengan dua merek unggulannya, Raja Platinum dan Raja Ultima. Sedangkan PT Sentosa Utama Lestari (Japfa Group) masuk daftar dengan produk beras premium merek Ayana.
Satgas Pangan Polri sudah meminta keterangan empat perusahaan tersebut untuk mendalami dugaan pengoplosan beras premium yang menimbulkan keresahan masyarakat luas.
Dengan temuan ini, Disdag Gunungkidul menegaskan komitmennya menjaga keamanan pangan masyarakat. Kelik memastikan sidak dan monitoring akan terus berlanjut agar tidak ada lagi beras oplosan beredar di Gunungkidul.
“Kami akan terus mengawasi. Kami ingin masyarakat Gunungkidul mengonsumsi beras yang aman dan berkualitas,” pungkasnya tegas.