
KabarJawa.com– Minggu (19/10/2025) sekitar pukul 07.30 WIB, dua mahasiswa asal Medan, Sumatera Utara, nyaris kehilangan nyawa.
Mereka terseret ganasnya ombak di pantai yang terletak di Kalurahan Kemadang, Kapanewon Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul.
Dua Mahasiswa Medan Terseret Ombak
Dua wisatawan muda bernama DS (19) dan CS (21) datang untuk menikmati akhir pekan di pesisir selatan Yogyakarta. Pagi itu, mereka berjalan santai di tepian pantai, menikmati udara segar dan suara laut yang bergemuruh.
Kemudian, mereka tanpa sadar memasuki zona rip current, arus balik mematikan yang sering menjerat wisatawan lengah.
Koordinator Satlinmas Rescue Wilayah II Pantai Baron, Marjono, menceritakan detik-detik dramatis kejadian tersebut.
Menurutnya, kedua mahasiswa sudah diingatkan oleh petugas, warga, dan pedagang setempat agar tidak bermain di daerah berarus kuat itu. Namun, semangat bermain air di pantai rupanya mengalahkan kewaspadaan.
“Petugas dan warga sudah memperingatkan agar tidak bermain di area rip current. Tapi sayangnya, mereka mengabaikan peringatan itu,” ujar Marjono.
Tak lama setelah peringatan itu, ombak besar datang menggulung dari tengah laut. Kedua korban terseret derasnya arus dan terbawa ke arah tengah laut.
Situasi mendadak berubah menegangkan. Pengunjung lain menjerit, sementara petugas jaga segera berlari menuju lokasi.
Proses Evakuasi
Di tengah kepanikan, keberuntungan masih berpihak pada keduanya. Sebuah gelombang besar kembali datang dan menghantam ke arah tebing batu karang di sisi barat pantai.
Tubuh keduanya terbanting ke batu, tapi insting bertahan membuat mereka berpegangan kuat pada bebatuan tajam itu. Saat arus terus menghempas, tangan mereka tak lepas dari tebing.
“Untungnya ombak besar itu justru mendorong mereka ke pinggir, hingga bisa berpegangan di batu karang. Dari situ petugas segera mengevakuasi mereka melalui jalur tebing,” jelas Marjono.
Evakuasi berlangsung dramatis. Tim SAR dan warga bahu-membahu menuruni tebing licin, menggunakan tali dan alat bantu seadanya.
Butuh waktu beberapa menit hingga akhirnya kedua mahasiswa berhasil ditarik naik ke daratan. Saat ditemukan, keduanya tampak pucat dan gemetar hebat karena syok, tapi dalam kondisi selamat tanpa luka serius.
“Kedua korban hanya mengalami syok. Tidak ada luka berat, dan setelah kami tenangkan serta beri air minum, mereka mulai stabil,” tambah Marjono.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat keras bagi wisatawan yang datang ke pantai selatan Gunungkidul. Arus balik (rip current) sering kali muncul tiba-tiba dan menyeret siapapun yang bermain terlalu jauh dari garis aman.
Marjono kembali menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap aturan keselamatan di pantai. SAR selalu mengimbau wisatawan agar patuh pada rambu dan peringatan petugas. Semua larangan ada demi keselamatan pengunjung sendiri.
“Pantai selatan tidak bisa disamakan dengan pantai utara—arusnya kuat dan mematikan,” ujarnya.
Kini, DS dan CS bisa bernapas lega setelah nyaris menjadi korban ganasnya Samudra Hindia. Dari pengalaman hidup dan mati itu, mereka belajar bahwa satu kesalahan kecil di laut bisa berakhir fatal.
Bagi para pengunjung Pantai Watukodok, kisah mereka menjadi pengingat bahwa keindahan laut selatan tidak pernah lepas dari bahaya yang mengintai. (ef linangkung)