
KabarJawa.com – Di tengah hiruk pikuk Tugu Jogja nan megah, hanya terpaut 5 menit, di tengah kawasan Karangwaru ternyata ada sajian khas peranakan yang sudah setahun ini menjadi andalan warga Jogja hingga pendatang.
Restoran peranakan, sebagaimana hakikatnya identik dengan percampuran budaya Etnis Tionghoa yang berpadu dengan Tradisi Melayu bahkan Nusantara. Dan memang saya rasakan kental begitu melangkah masuk, mulai dari sentuhan motif klasik di tegel, nama menu, hingga detail di pajangan dan dekorasi yang memadukan nuansa klasik peranakan dengan gaya modern restoran masa kini. Mengingatkan pada suasana rumah emak (istilah nenek dalam budaya Tionghoa), seolah melangkah ke ruang makan keluarga besar yang memeluk hangat. Berangkat dari kehangatan yang serupa: nama “Buka Meja” disematkan untuk menceritakan dapur Momicep yang tadinya eksklusif bagi keluarga; sekarang terbuka bagi khalayak.
Momicep, Dapur, dan Warisan Perjalanan
Beberapa kali saya mendengar nama Momicep, dahi mengernyit, berusaha membayangkan sajian seperti apa yang diracik sehingga tidak sedikit orang yang terbuai dan rutin kembali ke Casademia Buka Meja? “Kalau pulang dinas, ada waktu, pasti mampir ramai-ramai dengan keluarga” – ujar Pak Kevin sambil menceritakan kunjungan keduanya bulan ini.
Memang belum terjawab sampai paragraf ini, bahkan bagi yang belum menjajakan lidah ke salah satu sajian Casademia Buka Meja, mungkin tidak akan terjawab. Namun saya sudah bisa menjawab: pengalaman & warisan!
Itu yang saya rasakan dari menu-menu yang saya cicipi. Mulai dari eksekusi detail pada daging dan ayam, marinasi bukan abal-abal, hingga paduan plating apik dan piring cantik! Saya yakin beliau bukan orang kemarin sore, bahkan saya akan percaya jika ada yang bilang ini warisan resep nenek buyut Momicep!
Pagi yang Cerah, Malam yang Terang
Bak koin yang memiliki dua sisi, Casademia Buka Meja menghadirkan line up menu yang hampir 180° berbeda untuk menu sesi pagi dan sesi malam. Sesi pagi (khusus weekend; Jumat, Sabtu, Minggu) hadir dengan variasi beragam, dari toast manis dan savory hingga bubur dan nasi goreng peranakan. Jangan kaget, sesi pagi—dimulai dari 07.00 hingga 12.00– seringkali sudah padat antrean sedari awal buka!
“Iya, ini habis jalan pagi lewat Tugu lanjut Malioboro, finish-nya di sini. Soalnya jam 7 sudah buka, menunya juga saya cocok” – ujar Ibu Ninis yang sedang menikmati semangkuk Bubur Ah Lao.
Jika sesi sarapan menjadi ajang waktu berkualitas keluarga dan bercakap santai, ternyata sesi malam (khusus weekdays; Selasa-Kamis) tidak kalah ramai. Terlihat di awal sesi malam—dimulai jam 17.00 hingga 22.00—awalnya dipenuhi keluarga dan grup berseragam sepulang kantor, lalu mendekati jam malam teman-teman muda mulai memenuhi meja dan tampak menikmati tidak hanya dari piring namun dari layar hape juga! Bahkan seorang pengunjung bernama Fani bercerita mengenai “ritual” bulanan bersama geng kantornya untuk dinner di Casademia Buka Meja!
Berat atau Ringan, Pasti Melek!
Saya baru tahu, ternyata ritual sarapan kini kembali digandrungi dengan hadirnya restoran peranakan bersertifikat Halal seperti Casademia Buka Meja ini. Tidak heran, suapan pertama Nasi Goreng Mamak ini saya dibangunkan sensasi gurih-pedas, cukup “sopan” sehingga saya melek dengan perut kenyang dan bersahabat.
Di lain kesempatan, Bubur Ah Lao juga menjadi pilihan pertama saya jika sedang ingin sarapan yang hangat dan “nyaman”, perjalanan tekstur dan rasanya lengkap: pangsit & kerupuk untuk tekstur garing, manis potongan tebal Ayam Charsiu, creamy dari telur omega, dan sentuhan hangat kaldu ayam yang tasteful!
Anda butuh kopi? Tentu saja ada, bahkan cukup serius hingga mendatangkan beans robusta Dataran Tinggi Jawa Tengah! Ingin hitam pekat pahit ada Kopi O, jika butuh pahit berpadu manis saya sarankan Kopi K!

Pengantar Senja yang Keruh!
Setelah sesi pagi berakhir di jam 12 siang, sesi malam dimulai sedari jam 5 sore. Persis jam pulang kantor saya, sehingga memang ideal sekali, sesampai saya di Casademia Buka Meja antrean masih pendek. Prime Wagyu Sapi Garam menjadi salah satu menu paling berkesan, pasalnya judul “prime” tersurat benar dari rasanya daging dan nasi hainannya! Tidak sampai 10 menit mangkuk putih itu sudah bersih, beruntung saya memesan Soup Kwetiau Sapi Juara.
Soup Kwetiau Sapi Juara ini contohnya, yang saya pikir akan membosankan, justru menjadi sorotan, justru membuat saya bertanya-tanya: “bagaimana bisa sup sapi semenyenangkan ini?” Sup keruh berkaldu, kaya rempah peranakan, dan potongan sapi hasil rebusan berjam-jam yang lumat oleh lidah.
Suasana malam itu diselingi alunan lagu peranakan jadul, begitu pula dinner malam itu diselingi Ais Tea Nona dan Ais Sarang Burung. Jika ingin yang manis-creamy dengan sedikit pahit teh gelap, maka Ais Tea Nona ideal. Jika Anda tumbuh di rumah Tionghoa dan rindu racikan es sarang burung buatan Emak, maka Ais Sarang Burung di sini niscaya mengobati rindu!
Rahasia Umum yang Manis!
“Satu Kue Pisang Madu Karamelnya ya Kak, Silakan” – info salah satu tim ketika mengantarkan menu dessert rahasia! Tidak ada di buku menu, namun hampir semua meja memesan setidaknya 1 hingga 2. Tidak hanya anda, saya pun heran setelah melumat 2 porsi menu makanan berat dan kenyang, Kue Pisang Madu Karamel ini seperti masuk ke lambung yang berbeda! Bahkan menurut opini saya, ini salah satu kue pisang terbaik di Jogja; lembut, manis legit tidak getir, krim lembut di atasnya menjadikannya paripurna!
Ternyata Ini Magis Halal!
Terjawab sudah pertanyaan akan kemanjuran racikan magis Momicep, yang ternyata juga menjangkit saya! Restoran yang terletak di Jl. Tri Margo No. 88 ini saya rasa berhasil membuka khazanah warga Jogja mengenai arti kuliner peranakan itu sendiri. Bayangkan, kenikmatan beragam resep warisan peranakan berhasil “dibuka” dengan “meja” yang sudah bersertifikat Halal!
Penulis: Jeje Resa