Bupati Endah Subekti Pilih tanpa Pengawalan: Ingin Dekat dengan Warga dan Efisiensikan Anggaran

Bagikan :
Bupati Endah Subekti Pilih tanpa Pengawalan/Foto: Pemkot Yogyakarta

KabarJawa.com– Ada pemandangan yang kini menjadi hal biasa setiap kali Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, melakukan kunjungan ke wilayahnya.

Tanpa sirine, tanpa barisan motor pengawalan, dan tanpa rombongan besar, ia tampak hanya didampingi sopir dan menumpangi mobil dinas sederhana.

Langkah itu bukan sekadar gaya kepemimpinan baru, tetapi bentuk nyata dari prinsip efisiensi dan kedekatan dengan rakyat yang ia pegang teguh.

Alasan Bupati Endah Subekti Pilih tanpa Pengawalan

Endah dengan tenang menjelaskan alasannya memilih melenggang tanpa pengawalan. Ia menegaskan bahwa kebijakan tersebut lahir dari semangat efisiensi anggaran.

Baginya, tidak ada manfaat menghabiskan uang daerah untuk menunjukkan kekuasaan lewat iring-iringan kendaraan dan barisan pengawal.

“Daripada untuk gaya-gayaan dengan pengawalan, lebih baik anggarannya dialokasikan untuk kegiatan yang langsung bermanfaat bagi masyarakat,” tegasnya.

Langkah itu juga sekaligus menjadi simbol kepemimpinan yang membumi. Endah sadar, jarak antara pemimpin dan rakyat seringkali terbentuk bukan karena karena sikap yang menciptakan sekat.

Dengan menanggalkan pengawalan berlebihan, ia ingin masyarakat merasa nyaman ketika bertemu dengannya.

Baca juga  Viral Aksi Pengeroyokan di Perempatan Timoho Gegara Tak Terima Ditegur, Korban Alami Luka di Kepala

“Saya ingin warga tidak sungkan. Kalau saya datang tanpa pengawalan, mereka bisa lebih leluasa menyampaikan pendapat, keluhan, dan harapan,” ujar Bupati perempuan kedua Gunungkidul itu.

Dalam berbagai kesempatan kunjungan ke desa, Endah terlihat akrab menyapa warga, berdialog dengan pedagang pasar, berbincang dengan petani, hingga meninjau fasilitas umum tanpa jarak.

Ia mendengarkan langsung berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, dari kesulitan air bersih, kondisi jalan rusak, hingga kebutuhan pelatihan kerja bagi pemuda desa.

Menurutnya, cara itu lebih efektif untuk merumuskan kebijakan yang benar-benar menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Dan ketika dia turun langsung ke masyarakat maka bakal mengetahui persis kondisi di lapangan.

“Kalau saya langsung turun, saya tahu persis kondisi di lapangan. Saya bisa dengar langsung apa yang dibutuhkan warga. Dari situ, program bisa lebih tepat sasaran,” jelasnya.

Kebiasaan Bupati Endah yang menolak pengawalan besar-besaran juga memunculkan kesan kepemimpinan yang sederhana. Ia tidak ingin masyarakat melihat pemimpinnya sebagai sosok yang berjarak dan penuh formalitas.

Baca juga  Perubahan Pola Mobilitas Warga Menjadi Tantangan Besar Mewujudkan Transportasi Berkelanjutan di DIY

“Saya ingin membangun Gunungkidul dengan hati. Kalau terlalu banyak protokol dan pengawalan, nanti rakyat justru sungkan. Padahal, mereka adalah sumber inspirasi saya,” ujarnya.

Apresiasi dari Berbagai Pihak

Langkah Bupati Endah ini mendapat banyak apresiasi dari warga dan aparatur pemerintahan. Banyak yang menilai bahwa sikap tersebut mencerminkan keteladanan, di tengah era birokrasi yang sering kaku dan berjarak.

Beberapa warga bahkan menyebut, mereka kini lebih berani menyampaikan aspirasi langsung kepada sang bupati ketika ia datang ke lapangan tanpa protokol panjang.

Keputusan Endah untuk memangkas pengawalan bukan hanya simbol kesederhanaan, tetapi juga strategi efisiensi.

Setiap penghematan pengeluaran operasional pemerintahan, menurutnya, harus mengarah pada program-program yang membawa manfaat nyata, seperti pembangunan infrastruktur desa, peningkatan layanan kesehatan, hingga pengembangan UMKM.

“Saya ingin menunjukkan bahwa efisiensi bukan hanya soal hemat, tapi soal keberpihakan. Kalau kita hemat untuk hal yang tidak perlu, kita bisa bantu lebih banyak warga,” pungkasnya. (ef linangkung)

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya
Jadwal Ganjil Genap Puncak 26 April 2026
Jadwal Buka Tutup Puncak 26 April 2026, Berlaku One Way atau Ganjil Genap? Cek Estimasinya