
KabarJawa.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi D.I. Yogyakarta mengeluarkan peringatan dini terkait potensi musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih kering dibandingkan rata-rata tahunan.
Fenomena ini dipicu oleh penguatan Monsun Australia dan indikasi kemunculan El Niño pada paruh kedua tahun ini.
Kepala Stasiun Klimatologi D.I. Yogyakarta, Reni Kraningtyas, menyatakan bahwa dinamika atmosfer saat ini menunjukkan tanda-tanda awal pergeseran musim.
Kondisi tersebut menuntut kesiapsiagaan dari pemerintah daerah dan masyarakat guna mengantisipasi dampak kekeringan.
Indikator Atmosfer dan Pengaruh Fenomena Global
Berdasarkan pemantauan BMKG, saat ini wilayah selatan ekuator mulai didominasi oleh angin timur yang menandakan aktifnya Monsun Australia.
Massa udara kering dari benua tersebut mulai bergerak menuju wilayah Indonesia, termasuk Yogyakarta.
Selain faktor regional, indikator iklim global seperti Dipole Mode Index (DMI) terpantau netral, sementara Madden Julian Oscillation (MJO) diprediksi tidak aktif di wilayah Indonesia.
Kondisi ini menyebabkan minimnya tambahan potensi pertumbuhan awan hujan.
Anomali suhu muka laut di perairan selatan Yogyakarta juga menunjukkan kondisi dingin hingga netral, berkisar antara -2,0°C hingga 0,5°C.
Pendinginan suhu laut ini berpotensi menekan proses penguapan, sehingga pembentukan awan hujan menjadi sangat terbatas.
Proyeksi El Niño dan Jadwal Awal Kemarau
BMKG memproyeksikan fenomena El Niño dengan intensitas lemah hingga moderat akan mulai muncul pada periode Juli hingga akhir tahun 2026.
Peluang terjadinya fenomena ini diperkirakan mencapai 50 hingga 60 persen. Kehadiran El Niño diprediksi akan memperpanjang durasi musim kemarau dan meningkatkan tingkat kekeringan.
Awal musim kemarau di Yogyakarta diprakirakan jatuh pada:
- Dasarian III April: Mencakup 62,5 persen wilayah Zona Musim (ZOM).
- Dasarian I Mei: Mencakup wilayah lainnya di DIY.
Sifat hujan selama musim kemarau 2026 diprediksi masuk dalam kategori Bawah Normal (BN).
Sebanyak 87,5 persen wilayah Yogyakarta diperkirakan akan menerima curah hujan yang jauh lebih rendah dari rata-rata klimatologisnya, dengan total curah hujan hanya berkisar 250 hingga 400 mm.
Puncak Kemarau dan Imbauan Mitigasi
Puncak musim kemarau diprediksi terjadi secara serentak pada Agustus 2026 di seluruh wilayah DIY.
Periode kritis terkait potensi kekeringan ekstrem diperkirakan berlangsung antara bulan Juli hingga September 2026.
Musim kemarau ini diprakirakan baru akan berakhir pada rentang dasarian II Oktober hingga dasarian I November 2026.
Menanggapi data tersebut, BMKG mengeluarkan sejumlah rekomendasi mitigasi bagi berbagai sektor:
- Sektor Pertanian: Petani diimbau menyesuaikan pola tanam dan memilih komoditas yang rendah konsumsi air untuk menghindari gagal panen.
- Pengelolaan Air: Pemerintah daerah dan masyarakat diharapkan melakukan manajemen sumber daya air secara efisien, terutama di wilayah rawan kekeringan.
- Infrastruktur: Melakukan pembersihan saluran air dan pemangkasan dahan pohon sebagai antisipasi cuaca ekstrem saat masa transisi (pancaroba).
BMKG menegaskan pentingnya pemantauan informasi iklim secara berkala melalui kanal resmi guna meminimalisir dampak kerugian materiil maupun non-materiil akibat anomali cuaca pada tahun 2026.