
KabarJawa.com– Bank Indonesia (BI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menegaskan bahwa laju inflasi di wilayah DIY masih dalam kondisi terkendali meskipun terjadi kenaikan harga di beberapa kelompok barang.
Berdasarkan rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Harga Konsumen (IHK) DIY pada Oktober 2025 tercatat mengalami inflasi sebesar 0,42 persen (month to month/mtm). Angka ini naik cukup signifikan dibandingkan inflasi September 2025 yang berada di level 0,15 persen (mtm).
Secara tahunan (year on year/yoy), DIY mencatat inflasi sebesar 2,90 persen, meningkat dari bulan sebelumnya yang sebesar 2,56 persen. Dengan demikian, secara kumulatif sejak awal tahun (year to date/ytd), inflasi DIY berada pada level 2,18 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY, Sri Darmadi Sudibyo, menilai capaian ini masih menunjukkan kestabilan harga yang baik. Inflasi DIY masih terkendali dan tetap berada dalam kisaran target nasional 2,5 persen ± 1 persen.
“Kestabilan ini tidak lepas dari sinergi erat antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY,” tegasnya.
Gejolak Harga Emas
Berdasarkan wilayah IHK, Kota Yogyakarta mengalami inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,59 persen (mtm) dengan inflasi tahunan mencapai 3,25 persen (yoy).
Sementara itu, Kabupaten Gunungkidul mencatat inflasi yang lebih ringan, yakni 0,28 persen (mtm) dan inflasi tahunan sebesar 2,61 persen (yoy).
Kenaikan harga paling mencolok terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mengalami inflasi hingga 2,80 persen (mtm) dan memberikan andil terbesar sebesar 0,19 persen (mtm).
Faktor utama pendorongnya adalah lonjakan harga emas perhiasan, seiring meningkatnya ketidakpastian global yang tercermin dari naiknya Global Risk Index dan Geopolitical Risk Index.
Kondisi ini mendorong masyarakat beralih ke emas sebagai aset safe-haven atau penyimpan nilai aman.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga mengalami inflasi sebesar 0,53 persen (mtm) dengan andil 0,14 persen (mtm).
Kenaikan harga terutama terjadi pada telur ayam ras, cabai merah, dan jeruk. Masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,04 persen, 0,04 persen, dan 0,02 persen.
Kenaikan harga telur ayam ras terjadi akibat meningkatnya harga di tingkat distributor dan tingginya permintaan masyarakat, terutama karena pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Namun, tekanan inflasi dari sektor pangan berhasil tertahan berkat turunnya harga beberapa komoditas, seperti bayam, tomat, terong, dan cabai rawit, yang masing-masing memberikan andil deflasi antara 0,01 hingga 0,03 persen (mtm).
Penurunan harga bayam terjadi karena melimpahnya pasokan saat memasuki musim hujan yang meningkatkan produktivitas petani.
Sementara itu, harga cabai rawit menurun akibat permintaan yang melemah, meskipun pasokan dari daerah penghasil seperti Muntilan, Magelang, dan Temanggung tetap terjaga.
Program 4K untuk Jaga Stabilitas Harga
Untuk menjaga inflasi tetap dalam sasaran, Bank Indonesia DIY bersama TPID DIY terus memperkuat sinergi melalui strategi 4K (Ketersediaan pasokan, Keterjangkauan harga, Kelancaran distribusi, dan Komunikasi efektif).
Melalui kerangka Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) DIY 2025, berbagai langkah konkret telah dijalankan, antara lain:
Pelaksanaan operasi pasar dan pasar murah untuk menstabilkan harga kebutuhan pokok.
Optimalisasi Kios Segoro Amarto sebagai price reference store yang berfungsi menjaga daya beli masyarakat.
Penguatan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) baik antarprovinsi maupun intraprovinsi untuk memastikan ketersediaan pangan strategis.
Kampanye belanja bijak dan gerakan sosial masyarakat untuk menjaga keseimbangan harga serta efisiensi distribusi.
Selain itu, TPID DIY juga meluncurkan kompetisi MRANTASI (Masyarakat lan Pedagang Tanggap Inflasi) Goes to School.
Program ini menyasar siswa SMA, SMK, dan MA se-DIY untuk menanamkan kesadaran pengendalian inflasi sejak dini melalui kegiatan edukasi publik.
Bank Indonesia DIY memproyeksikan
di wilayah DIY pada akhir tahun 2025 tetap terjaga di kisaran 2,5 persen ± 1 persen (yoy).
Sri Darmadi optimistis langkah kolaboratif seluruh pihak akan terus menahan gejolak harga, terutama di sektor pangan yang sensitif terhadap cuaca dan permintaan musiman.
“Sinergi adalah kunci. Dengan kerja sama kuat antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat, kita bisa memastikan inflasi tetap rendah dan daya beli masyarakat tetap terjaga,” ujar Sri Darmadi. (ef linangkung)