
KabarJawa.com – Deburan ombak yang menghantam karang, semilir angin laut, serta panorama Samudra Hindia menjadi perpaduan sempurna bagi siapa saja yang ingin mengabadikan momen.
Namun, Pantai Ngobaran di Kalurahan Saptosari, Kabupaten Gunungkidul, kini tidak hanya menawarkan keindahan alam. Kawasan wisata ini menjelma menjadi surga berburu foto estetik dengan balutan pakaian tradisional Jawa dan Bali berlatar Pura Segara yang berdiri gagah di atas tebing.
Fenomena tersebut terus menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah. Mereka rela mengantre demi mendapatkan hasil foto yang artistik dan berbeda dari destinasi wisata lainnya.
Keunikan budaya yang berpadu dengan panorama laut lepas membuat Pantai Ngobaran semakin populer, terutama setelah sektor pariwisata bangkit pascapandemi Covid-19.
Di balik ramainya aktivitas fotografi itu, terdapat jasa fotografi yang dikelola warga setempat. Salah satunya dikelola oleh Arda bersama rekannya, Yoseph.
Keduanya berasal dari Dusun Kanigoro, Kalurahan Saptosari, Gunungkidul. Mereka berhasil menangkap peluang ketika tren berburu foto estetik mulai berkembang di kawasan Pantai Ngobaran.
Arda mengaku sudah menekuni dunia fotografi sejak duduk di bangku kelas 1 SMP. Hobi yang awalnya hanya menjadi kesenangan pribadi kini berubah menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan.
Berbekal kamera Canon 6D, Arda bersama tim melayani wisatawan yang ingin mengabadikan momen mengenakan pakaian adat Jawa maupun pakaian khas Bali.
Seluruh hasil pemotretan dikirim dalam bentuk file digital sehingga memudahkan wisatawan menyimpan maupun membagikannya melalui media sosial.
“Kami melayani wisatawan yang ingin berfoto dengan konsep tradisional. Lokasinya sangat mendukung karena ada pura dan pemandangan laut yang indah,” ujar Arda.
Pilihan Paket Pemotretan
Pilihan paket yang ditawarkan pun cukup beragam. Untuk paket tunggal atau single, wisatawan cukup membayar Rp300 ribu. Paket pasangan atau couple dipatok Rp450 ribu, sedangkan paket keluarga dikenakan tarif Rp600 ribu.
Dalam satu sesi pemotretan, wisatawan dapat menikmati durasi sekitar satu jam. Selama waktu tersebut, fotografer mengarahkan berbagai pose di tiga titik favorit yang menjadi incaran pengunjung.
Tiga spot utama itu meliputi kawasan Pura Segara, lantai bambu yang menghadap langsung ke lautan, serta area bernuansa kejawen yang menghadirkan atmosfer tradisional Jawa.
Ketiga lokasi tersebut mampu menghadirkan karakter foto yang berbeda sehingga memberikan banyak pilihan bagi wisatawan.
Spot Pura Segara Jadi Favorit
Pura Segara menjadi lokasi yang paling banyak diburu. Bangunan yang berdiri kokoh di atas tebing itu menghadirkan panorama dramatis ketika berpadu dengan birunya langit dan hamparan laut.
Saat matahari mulai condong ke barat, cahaya keemasan semakin memperkuat kesan eksotis dalam setiap bidikan kamera.
Tidak heran apabila wisatawan harus bersabar menunggu giliran. Antrean di spot foto menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika akhir pekan maupun musim liburan sekolah.
Arda mengungkapkan, dalam sehari dirinya bersama tim mampu melayani sekitar lima rombongan wisatawan. Jumlah tersebut terus meningkat dibandingkan beberapa tahun lalu.
Menurutnya, geliat jasa fotografi di Pantai Ngobaran mulai berkembang pesat setelah pandemi Covid-19 berakhir. Semakin banyak wisatawan datang untuk menikmati wisata alam sekaligus berburu konten media sosial dengan konsep yang unik.
“Setelah Covid-19, pengunjung semakin ramai. Paling padat saat Sabtu, Minggu, dan liburan sekolah,” katanya.
Menariknya, pada awal kemunculan tren tersebut, persewaan pakaian tradisional hanya tersedia di sekitar kawasan pura.
Namun, meningkatnya jumlah wisatawan membuat banyak warga ikut membuka usaha serupa. Kehadiran para pelaku usaha baru justru menciptakan perputaran ekonomi yang semakin besar bagi masyarakat sekitar.
Shuttle Pantai Ngobaran dan Pantai Nguyahan
Tidak hanya jasa fotografi dan persewaan pakaian, warga juga menyediakan layanan shuttle menuju Pantai Ngobaran dan Pantai Nguyahan.
Wisatawan cukup membayar Rp10 ribu untuk perjalanan pulang pergi sehingga lebih mudah menikmati dua destinasi wisata yang letaknya berdekatan.
Seluruh layanan tersebut saling melengkapi dan ikut menggerakkan perekonomian masyarakat pesisir. Mulai dari penyedia pakaian adat, fotografer, jasa transportasi lokal, hingga pedagang makanan merasakan dampak positif meningkatnya kunjungan wisatawan.
Saat ini, sedikitnya terdapat sekitar 130 fotografer yang aktif melayani wisatawan di kawasan Pantai Ngobaran dan Pantai Nguyahan.
Jumlah tersebut menunjukkan besarnya minat masyarakat terhadap profesi fotografer wisata yang kini berkembang menjadi salah satu penopang ekonomi lokal.
Meski demikian, tingginya minat wisatawan juga memunculkan tantangan. Antrean panjang di lokasi favorit kerap membuat proses pemotretan harus bergantian.
Namun, kondisi itu tidak mengurangi antusiasme wisatawan yang tetap ingin membawa pulang foto-foto estetik berlatar Pura Segara.
Keindahan Pantai Ngobaran akhirnya tidak hanya tersimpan dalam ingatan. Setiap jepretan kamera menjadi cerita yang membawa pulang pesona alam, kekayaan budaya, sekaligus semangat masyarakat lokal dalam mengembangkan potensi wisata.
Di atas tebing yang menghadap langsung ke Samudra Hindia, Pura Segara berdiri menjadi saksi bagaimana keindahan alam mampu menghidupkan kreativitas, membuka peluang usaha, dan menghadirkan harapan baru bagi warga pesisir Gunungkidul.
Setiap senyum wisatawan yang terabadikan dalam bingkai kamera seolah menegaskan bahwa Pantai Ngobaran kini bukan sekadar destinasi wisata, melainkan panggung terbaik untuk berburu foto estetik yang sarat nuansa budaya Indonesia. (Ef Linangkung)