
KabarJawa.com – Dua hari terakhir, warga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merasakan perubahan cuaca yang begitu mencolok. Jika pada siang hari matahari bersinar terik dan langit tampak membiru tanpa banyak awan, suasana justru berubah drastis ketika malam mulai turun. Udara dingin perlahan menyelimuti hampir seluruh wilayah DIY, bahkan pada dini hari hawa sejuk itu berubah menjadi dingin yang terasa hingga menusuk tulang.
Fenomena tersebut bukan sekadar perasaan masyarakat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu udara minimum di sejumlah wilayah DIY memang mengalami penurunan cukup signifikan. Stasiun Meteorologi Yogyakarta International Airport (YIA) merekam suhu terendah mencapai 19 derajat Celsius di wilayah Pakem, Kabupaten Sleman, serta Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul.
Bagi masyarakat Yogyakarta, kondisi udara dingin pada musim kemarau bukanlah sesuatu yang asing. Warga telah lama mengenalnya dengan istilah bediding, sebuah fenomena khas yang hampir selalu datang setiap musim kemarau tiba.
Bediding bahkan menjadi bagian dari cerita tahunan masyarakat. Banyak warga mengaku harus kembali mengenakan jaket tebal saat keluar rumah pada malam hari. Selimut yang sebelumnya jarang digunakan kini kembali menjadi teman tidur. Sementara itu, secangkir kopi hangat, teh panas, hingga wedang jahe menjadi pilihan untuk menghangatkan tubuh ketika suhu udara terus menurun.
Fenomena ini menghadirkan kontras yang begitu tajam. Pada siang hari, sinar matahari terasa menyengat kulit. Jalanan tampak kering, pepohonan diterpa angin yang minim uap air, dan langit terlihat begitu cerah. Namun, beberapa jam kemudian, kondisi berubah drastis. Selepas matahari tenggelam, udara mulai kehilangan kehangatannya. Menjelang tengah malam hingga dini hari, hawa dingin semakin kuat dan terasa menusuk hingga ke tulang.
Kondisi tersebut ternyata memiliki penjelasan ilmiah yang sangat jelas. BMKG memastikan fenomena bediding merupakan kejadian alam yang normal dan hampir selalu muncul setiap musim kemarau. Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi YIA, M. Nur Hadi, mengatakan hasil pengamatan Automatic Weather Station (AWS) menunjukkan suhu udara minimum di DIY memang berada pada level yang cukup rendah.
“Tercatat pada AWS di wilayah DIY tercatat suhu udara minimum memang cukup rendah sebesar 19 C, seperti di Pakem (Sleman) dan Karangmojo (Gunungkidul),” kata M. Nur Hadi
Menurut Hadi, wilayah DIY saat ini telah memasuki musim kemarau sehingga berbagai karakteristik atmosfer mulai berubah. Perubahan itulah yang kemudian memengaruhi suhu udara, terutama pada malam hingga pagi hari.
Ia menjelaskan, salah satu penyebab utama turunnya suhu udara ialah pengaruh angin monsun Australia. Angin tersebut bertiup dari Benua Australia menuju Benua Asia dengan melewati wilayah Indonesia. Massa udara yang dibawa angin monsun Australia memiliki karakter kering dan dingin sehingga ikut menurunkan suhu udara di berbagai wilayah, termasuk DIY.
Namun, faktor penyebabnya tidak berhenti sampai di situ. Langit yang cerah tanpa banyak tutupan awan justru menjadi penyebab lain mengapa suhu udara pada malam hari semakin dingin. Saat musim kemarau berlangsung, intensitas awan jauh berkurang dibandingkan musim hujan. Kondisi tersebut membuat panas yang sebelumnya diserap permukaan bumi pada siang hari lebih mudah terlepas kembali ke atmosfer ketika malam tiba.
Karena hampir tidak ada awan yang berfungsi menahan panas, energi radiasi dari permukaan bumi langsung lepas ke angkasa. Akibatnya, suhu udara di dekat permukaan bumi turun lebih cepat.
“Selain itu, berkurangnya liputan awan di langit dan cenderung cuaca cerah pada musim kemarau menyebabkan energi radiasi yang dilepaskan oleh bumi pada malam hari tidak tersimpan di atmosfer. Kondisi ini diperkuat dengan angin yang relatif landai dan kelembapan udara yang kering sehingga suhu udara dekat permukaan bumi terasa lebih dingin, terutama pada malam hingga pagi hari,” jelas Hadi.
Kombinasi angin kering dari Australia, langit cerah, kelembapan udara yang rendah, serta hembusan angin yang relatif lemah menciptakan kondisi ideal bagi munculnya bediding. Tidak mengherankan jika masyarakat merasakan udara jauh lebih dingin dibandingkan hari-hari biasa meskipun sedang berada di musim kemarau.
Fenomena ini juga menjadi pengingat bahwa musim kemarau tidak selalu identik dengan udara panas sepanjang hari. Justru pada periode inilah perbedaan suhu antara siang dan malam menjadi sangat ekstrem. Siang hari terasa menyengat, sedangkan malam hari berubah menjadi sangat dingin.
BMKG juga mengingatkan bahwa suhu udara masih berpotensi turun dalam beberapa pekan ke depan. Penurunan suhu minimum diperkirakan akan mencapai kondisi paling dingin saat puncak musim kemarau berlangsung pada Juli hingga Agustus.
Artinya, masyarakat DIY masih akan merasakan bediding dengan intensitas yang lebih kuat dibandingkan saat ini. Pada periode tersebut, suhu udara berpeluang kembali turun sehingga udara dingin pada malam hingga pagi hari akan semakin terasa.
Masyarakat pun diimbau menjaga kondisi kesehatan, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, dan mereka yang memiliki riwayat penyakit pernapasan. Penggunaan pakaian yang lebih hangat, menjaga asupan cairan, serta mempertahankan daya tahan tubuh menjadi langkah sederhana untuk mengurangi dampak udara dingin selama musim bediding berlangsung.
Menurutnya, meski membuat malam terasa menggigil, bediding sesungguhnya merupakan bagian dari siklus iklim yang telah lama mewarnai kehidupan masyarakat Yogyakarta. Fenomena ini menjadi penanda bahwa musim kemarau telah benar-benar datang, menghadirkan langit biru yang indah pada siang hari sekaligus udara dingin yang menyelimuti malam hingga menjelang fajar.(ef linangkung)