
KabarJawa.com – Pagi di Dusun Nawungan, Kalurahan Selopamioro, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Selasa (16/6/2026), terlihat seperti pagi musim kemarau pada umumnya.
Hamparan hijau tanaman bawang merah bergoyang pelan diterpa angin. Daunnya masih segar. Sebagian bahkan belum menunjukkan tanda-tanda siap dicabut.
Namun di balik pemandangan itu, transaksi bernilai ratusan juta rupiah ternyata sudah selesai dilakukan.
Bawang merah yang baru berumur sekitar 40 hingga 55 hari itu telah habis diborong para penebas dari berbagai daerah. Nilai tertinggi transaksi tahun ini bahkan mencapai Rp105 juta untuk satu petak lahan.
Kabar tersebut menjadi angin segar bagi petani di sentra bawang merah terbesar di Bantul yang selama ini dikenal dengan julukan “Bawang Merah Glowing”.
Belum Panen, Pembeli Sudah Berebut
Pemilik Plosok Gallery sekaligus petani bawang merah Nawungan, Timbul, menyebut hampir seluruh tanaman yang memasuki usia menjelang panen sudah berpindah tangan.
“Pagi ini kami melaporkan langsung dari area Bawang Merah Glowing Nawungan. Kondisi tanaman sangat bagus. Daunnya masih hijau, masih muda, tetapi sudah terjual semua kepada para penebas dari berbagai daerah. Nilai tertinggi transaksi tahun ini mencapai Rp100 juta sampai Rp105 juta. Ini sangat luar biasa,” ujarnya.
Fenomena ini menunjukkan tingginya kepercayaan pasar terhadap kualitas bawang merah Nawungan.
Para penebas tidak lagi menunggu proses panen selesai. Mereka memilih mengamankan stok lebih awal karena yakin dengan hasil yang akan diperoleh.
Bagi petani, kondisi tersebut memberi kepastian pasar di tengah fluktuasi harga komoditas hortikultura yang kerap sulit diprediksi.
Sentra Bawang Merah Semi-Organik Terbesar di Bantul
Dusun Nawungan telah lama dikenal sebagai kawasan unggulan bawang merah semi-organik.
Hamparan lahan produktif seluas sekitar 125 hingga 200 hektare menjadikan wilayah ini sebagai salah satu pusat produksi bawang merah terbesar di Kabupaten Bantul.
Setiap musim tanam, petani menerapkan pola budidaya serempak. Pupuk organik, agen hayati, hingga teknik budidaya ramah lingkungan digunakan untuk menjaga kualitas lahan dan hasil panen.
Kawasan yang dahulu bergantung pada musim hujan itu perlahan bertransformasi menjadi sentra hortikultura modern. Perubahan tersebut tidak terjadi dalam semalam.
Petani memperbaiki struktur tanah, memilih benih unggul, serta membangun sistem irigasi sederhana melalui embung yang tersebar di sejumlah titik.
Hasilnya mulai terlihat nyata. Produktivitas bawang merah Nawungan mampu mencapai 15 hingga 20 ton per hektare dalam satu musim panen.
Mengapa Disebut Bawang Merah Glowing?
Julukan “Glowing” bukan sekadar istilah promosi. Bawang merah Nawungan memiliki karakteristik yang berbeda dibanding produk sejenis dari daerah lain.
Umbinya dikenal lebih cerah dengan warna merah keunguan yang mengilap. Ukurannya cenderung besar. Teksturnya padat dan kokoh.
Karakter itu membuat bawang merah Nawungan memiliki daya saing tinggi di pasaran. Banyak pedagang hingga penebas yang secara khusus datang untuk mendapatkan hasil panen dari kawasan ini.
Ketika mendekati panen, hamparan daun hijau yang menutupi perbukitan Imogiri juga menghadirkan pemandangan khas.
Dari kejauhan, lahan-lahan tersebut tampak seperti karpet hijau yang membentang luas.
Tak sedikit pengunjung yang menjadikannya latar berfoto atau sekadar menikmati suasana pedesaan.
Panen Melimpah Meski Musim Kemarau
Kemarau sering menjadi tantangan terbesar petani. Ketersediaan air menentukan keberhasilan budidaya.
Namun Nawungan mampu bertahan. Embung-embung yang dibangun beberapa tahun terakhir menjadi sumber cadangan air saat curah hujan menurun.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bantul, Joko Waluyo, mengatakan hasil panen bawang merah tahun ini tergolong menggembirakan.
“Saat memasuki panen kedua tahun 2026, rata-rata produktivitas lahan berada pada kisaran 15 hingga 20 ton per hektare. Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa inovasi budidaya yang dilakukan petani bersama pemerintah daerah berjalan efektif,” ujarnya.
Produksi tinggi tersebut tidak hanya meningkatkan pendapatan petani. Posisi Bantul sebagai salah satu daerah penghasil bawang merah unggulan di DIY juga semakin kuat.
Saat Daun Hijau, Uang Sudah Mengalir
Biasanya transaksi besar terjadi menjelang panen penuh. Namun musim tanam kali ini berbeda.
Ketika daun masih hijau dan petani masih rutin memantau kondisi tanaman setiap pagi, para penebas sudah berdatangan.
Ada yang datang untuk melihat langsung kualitas tanaman. Ada pula yang langsung menyepakati harga setelah berkeliling beberapa petak lahan.
Bagi petani Nawungan, momen seperti ini menjadi penawar setelah bertahun-tahun menghadapi ancaman cuaca ekstrem dan naik-turunnya harga pasar.
Kini, sebelum bawang dicabut dari tanah, hasil jerih payah mereka telah berubah menjadi kepastian pendapatan.
Keberhasilan Bawang Merah Glowing Nawungan menjadi bukti bahwa inovasi pertanian, kekompakan kelompok tani, dan pengelolaan sumber daya yang tepat mampu menciptakan optimisme baru.
Dari perbukitan Imogiri, kabar baik itu kembali menyebar.
Bawang Merah Glowing Nawungan tak hanya bersinar karena warna umbinya yang mengilap, tetapi juga karena berhasil menghadirkan harapan dan kesejahteraan bagi petani Bantul di tahun 2026.