
KabarJawa.com – Setelah delapan tahun (sewindu) menjadi salah satu agenda wajib bagi para pencinta musik keras di Indonesia, festival JogjaROCKarta mengumumkan kabar yang bittersweet.
Acara puncak ini akan dimeriahkan oleh kehadiran raksasa thrash metal dunia, Anthrax, sebagai bintang utama, didukung oleh Ugly Kid Joe, The Hu, dan Loudness
Edisi 2025 dipastikan akan menjadi seri terakhir sebelum memasuki masa hiatus hingga waktu yang tak ditentukan.
Keputusan untuk mengakhiri perjalanan ini didasarkan pada filosofi menghormati waktu. Founder JogjaROCKarta, Anas Syahrul Alimi, yang turut menjadi panelis, menyampaikan kutipan filosofis yang menyentuh: “Setiap perjalanan, selalu memiliki cerita tentang perjuangan dari bawah. Namun, setiap perjalanan yang jujur, selalu tahu kapan harus memberi hormat kepada waktu.”
Menancapkan Tiang Pancang Sejak 2017
Perjalanan JogjaROCKarta dimulai pada tahun 2017, dan sejak saat itu, festival ini telah menancapkan tiang pancang yang kuat di medan musik keras Indonesia.
Momen paling ikonik yang masih tergambar jelas adalah perhelatan pertamanya pada 2017, yang sukses membawa dedengkot grup metal progresif, Dream Theater. Peristiwa tersebut sempat diwarnai halang-rintang, termasuk perpindahan arena perhelatan yang cukup dramatis.
Sejak saat itu, JogjaROCKarta berhasil menjadi salah satu agenda dan destinasi tahunan bagi mereka yang mencintai aliran musik cadas. Festival ini tidak hanya menyajikan pertunjukan musik, tetapi juga menjadi sebuah perayaan komunitas yang intens.
Dengan keputusan untuk hiatus, sudah sepatutnya bagi para penggemar untuk menjadi saksi dan turut andil dalam pesta terakhir di JogjaROCKarta 2025.
Whitfield Crane, vokalis Ugly Kid Joe yang juga hadir sebagai panelis, mengemukakan harapannya agar JogjaROCKarta tetap menjadi salah satu wadah penting untuk apresiasi musik cadas di masa depan, meskipun disadari bahwa hampir tidak ada industri yang menjadi besar dan tetap bertahan tanpa adanya inovasi.
Kolaborasi Legenda dan Dukungan Lokal
Edisi terakhir JogjaROCKarta 2025 menyajikan lineup internasional yang kuat, di mana Anthrax menjadi daya tarik utama. Kehadiran mereka bersama Ugly Kid Joe, The Hu, dan Loudness menjanjikan distorsi yang tak terlupakan sebagai penutup manis.
Dukungan kuat juga datang dari band cadas lokal. Konferensi pers turut menghadirkan Agustinus Widi dari Infernal Lamentations dan Gilang Sandi dari Rebellion Rose. Keduanya sepakat untuk menyajikan penampilan yang hanya akan ditemukan di JogjaROCKarta 2025, menunjukkan semangat kolaborasi dan apresiasi terhadap panggung ikonik tersebut.
Lahirnya Mataram Is Rock: Warisan Baru
Meskipun JogjaROCKarta harus beristirahat, komitmen terhadap komunitas musik cadas di Yogyakarta dan Jawa Tengah tetap berlanjut melalui sebuah inisiatif baru. Tovic Raharja selaku CEO Rajawali Indonesia mengungkapkan tentang adanya program Mataram Is Rock.
Program ini merupakan ikrar persaudaraan antara JogjaROCKarta dengan Rock In Solo, yang diharapkan dapat menjadi sasana baru bagi band-band musik cadas di Indonesia, khususnya di kawasan Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Inisiatif ini menandakan bahwa semangat yang dibawa oleh JogjaROCKarta akan terus hidup dan berevolusi dalam bentuk platform baru untuk mendukung perkembangan musisi lokal.
Aksi Filantropi di Pesta Terakhir
Sebagai penutup yang bermakna, JogjaROCKarta edisi terakhir ini juga merilis gitar berlegalisir Scott Ian dari Anthrax. Gitar tersebut akan dilelang, dan hasil penggalangan dana yang terkumpul akan diserahkan untuk korban terdampak banjir di Aceh dan Sumatra, menambah dimensi kemanusiaan pada acara perpisahan ini.
Anas Syahrul Alimi mengakhiri konferensi pers dengan ucapan terima kasih yang mendalam untuk setiap entitas yang telah menjadi saksi dari babak demi babak perjalanan JogjaROCKarta dari 2017 hingga 2025.
“JogjaROCKarta ini layaknya ungkapan ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, saya terharu dengan dukungan yang disampaikan oleh banyak pihak untuk JogjaROCKarta,” tambahnya, memberikan nada emosional pada perpisahan yang tak terhindarkan ini.***