
KabarJawa.com – Gunung Merapi kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik pada Minggu, 17 Mei 2026. Suasana siang yang semula tertutup kabut mendadak berubah mencekam ketika awan panas guguran meluncur dari puncak gunung api aktif tersebut.
Suara gemuruh terdengar dari kawasan lereng Merapi dan membuat masyarakat di sekitar gunung meningkatkan kewaspadaan.
Berdasarkan laporan resmi PVMBG dan BPPTKG, awan panas guguran terjadi pada pukul 15.21 WIB.
Peristiwa tersebut terekam dengan amplitudo maksimum 66,82 mm dan durasi 110,5 detik. Namun petugas belum dapat memastikan jarak luncur material karena kondisi visual tertutup kabut tebal.
Aktivitas Merapi Meningkat Sejak Pagi
Sejak pagi hari, aktivitas Gunung Merapi memang menunjukkan peningkatan.
Dalam laporan pengamatan periode pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, kondisi cuaca di sekitar puncak gunung terpantau berawan hingga mendung.
Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan barat dengan suhu udara berkisar antara 20,6 sampai 22,1 derajat Celsius.
Meski tertutup kabut, pengamat masih melihat asap kawah berwarna putih dengan intensitas tebal membumbung setinggi sekitar 325 meter dari puncak.
Asap tersebut menjadi salah satu tanda aktivitas tekanan di dalam tubuh gunung masih berlangsung. Selain aktivitas visual, kegempaan Gunung Merapi juga tercatat cukup tinggi.
Petugas mencatat 42 kali gempa guguran dengan amplitudo 2 hingga 12 mm dan durasi mencapai hampir 200 detik.
Selain itu, terjadi pula 14 kali gempa hybrid atau fase banyak yang menunjukkan suplai magma masih aktif di bawah permukaan.
Awan Panas Guguran Muncul Mendadak
Menjelang sore, aktivitas Merapi meningkat ketika awan panas guguran meluncur dari kubah lava.
Fenomena tersebut menjadi ancaman serius karena material panas dapat bergerak cepat melalui lereng dan alur sungai.
Petugas menyebut visual awan panas sulit diamati secara langsung akibat kabut tebal yang menutupi area puncak.
Namun instrumen seismik merekam amplitudo besar dengan durasi lebih dari satu menit yang menunjukkan energi guguran cukup signifikan.
Sebelumnya, petugas juga mengamati satu kali guguran lava ke arah Kali Bebeng dengan jarak luncur sekitar 2 kilometer.
Aktivitas itu memperlihatkan bahwa material vulkanik di puncak Merapi masih dalam kondisi tidak stabil.
Di sejumlah kawasan lereng, warga mulai memantau perkembangan aktivitas gunung melalui laporan resmi dan media sosial BPPTKG.
Status Merapi Masih Level III Siaga
Hingga Minggu sore, status Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga.
Status tersebut menunjukkan aktivitas vulkanik masih tinggi dan berpotensi memicu erupsi maupun awan panas guguran.
PVMBG menjelaskan potensi bahaya saat ini meliputi guguran lava dan awan panas di sektor selatan-barat daya, terutama pada aliran Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer.
Sementara Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng memiliki potensi bahaya hingga 7 kilometer dari puncak.
Di sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer dari puncak.
Selain itu, masyarakat juga diminta mewaspadai lontaran material vulkanik apabila terjadi letusan eksplosif.
Material pijar berpotensi menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak Merapi.
Ancaman Lahar dan Abu Vulkanik
Selain awan panas guguran, ancaman lain yang perlu diwaspadai ialah lahar hujan dan abu vulkanik.
Curah hujan di kawasan Merapi berpotensi menyeret material vulkanik ke alur sungai dan memicu banjir lahar.
Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas di sungai berhulu Merapi termasuk penambangan pasir dan wisata di zona rawan bencana.
Abu vulkanik juga dapat mengganggu kesehatan pernapasan dan jarak pandang di jalan raya.
Warga diimbau menyiapkan masker dan perlengkapan darurat apabila aktivitas Merapi meningkat sewaktu-waktu.
Pemerintah Minta Warga Patuhi Rekomendasi
Pemerintah menegaskan masyarakat harus mematuhi seluruh rekomendasi resmi dari BPPTKG dan PVMBG.
Petugas terus melakukan pemantauan aktivitas Merapi selama 24 jam penuh untuk mengantisipasi kemungkinan peningkatan aktivitas vulkanik.
Jika terjadi perubahan signifikan, pemerintah akan segera meninjau ulang status aktivitas gunung api tersebut.
Gunung Merapi sendiri dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di dunia dengan aktivitas erupsi dan guguran awan panas yang kerap terjadi akibat pertumbuhan kubah lava.