
KabarJawa.com – ArtJog kembali menegaskan posisinya sebagai barometer seni kontemporer Indonesia melalui sosialisasi program edisi 2026 bertajuk “Ars Longa Generation”. Acara ini berlangsung di Jogja National Museum (JNM), Yogyakarta, pada Senin (10/11/2025).
Dalam kesempatan tersebut, para penggagas dan kurator baru ArtJog mengungkap arah baru festival seni rupa tahunan yang berakar kuat dari semangat eksperimentasi dan keterbukaan terhadap perubahan.
Perubahan Kurator, Tradisi Tiga Tahunan ArtJog
Sosialisasi ArtJog 2026 dibuka langsung oleh Heri Pemad, CEO sekaligus pendiri ArtJog. Dalam sambutannya, Heri menjelaskan bahwa pergantian kurator menjadi bagian penting dari siklus penyelenggaraan ArtJog.
“Sudah menjadi tradisi di ArtJog bahwa setiap tiga tahun ArtJog akan mengganti kurator, karena ini merupakan sesuatu yang spesial,” ujarnya di hadapan para seniman dan jurnalis yang hadir.
Tradisi tersebut, menurut Heri, menjadi cara ArtJog menjaga dinamika dan keberagaman perspektif seni. Setiap kurator membawa pendekatan baru yang memperkaya narasi festival dan mendorong munculnya generasi seniman dengan pandangan segar terhadap dunia seni kontemporer.
Program dan Arah Baru ArtJog
Dalam forum tersebut, Gading Paksi, selaku Project Manager ArtJog, memaparkan sejumlah program yang akan dijalankan. Ia menyebut bahwa edisi 2026-2028 akan menjadi periode penting karena membawa tema besar “Generatio, Legatum, Mundus” tiga kata Latin yang menggambarkan generasi, warisan, dan dunia.
ArtJog, kata Gading, tidak hanya memamerkan karya seni rupa, tetapi juga memperluas spektrum peristiwa seni melalui seni pertunjukan, musik, film, dan tari kontemporer. Program pendukung seperti Kuratorial Tour, Meet the Artist, Workshop, Jogja Art Week, hingga Art Care, menjadi sarana bagi publik untuk lebih memahami dan merayakan keberagaman seni.
Diskusi juga menghadirkan dua narasumber utama, yakni Farah Wardani, sejarawan sekaligus kurator ArtJog periode 2026–2028, serta Dr. Dave Lumenta, dosen Fisipol UI yang juga dikenal sebagai musisi dan fotografer. Diskusi dimoderatori oleh Bambang Toko Wicaksono, seniman dan kurator yang turut menjadi bagian penting dalam perjalanan panjang ArtJog.
Dari Jogja Art Fair ke ArtJog: Evolusi Sebuah Festival
ArtJog bukanlah sekadar pameran, melainkan manifestasi dari perjalanan panjang ekosistem seni di Yogyakarta. Awalnya, acara ini bernama Jogja Art Fair, yang digagas pada 2008–2009 oleh Harry Teman, seorang seniman dan manajer seni, bersama Bambang Toko Wicaksono, dosen dan kurator. Baru pada 2010, acara tersebut resmi berganti nama menjadi ArtJog.
Sejak itu, ArtJog tumbuh menjadi festival yang berpengaruh, di mana seniman tidak hanya dianggap sebagai individu kreatif, tetapi juga agen intelektual yang memiliki peran sosial di masyarakat. Ribuan karya telah dipamerkan dan dinikmati oleh pengunjung dari berbagai kalangan mulai dari anak-anak, remaja, hingga keluarga yang menjadikan ArtJog sebagai agenda wisata budaya tahunan.
Ruang Inklusif dan Diplomasi Budaya
Dalam perjalanannya, ArtJog berkomitmen mengusung semangat kesetaraan dan inklusivitas. Festival ini menjadi ruang terbuka bagi siapa pun untuk memahami dinamika seni kontemporer Indonesia.
“Orang-orang yang ingin mengerti apa yang terjadi di seni kontemporer di Indonesia, ArtJog adalah titik pemula yang bagus untuk menemukan, untuk belajar,” demikian pesan yang diangkat dalam diskusi tersebut.
Kehadiran ArtJog setiap tahun selalu menarik puluhan ribu pengunjung, bukan hanya dari Yogyakarta, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia. Hal ini menjadikan ArtJog bukan sekadar art fair, melainkan festival budaya yang berperan sebagai ruang diplomasi kebudayaan.
ArtJog kini telah menjadi simbol pergerakan seni rupa di Yogyakarta yang terus berevolusi. Dari ruang pamer di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) hingga kini bertransformasi di Jogja National Museum, ArtJog membuktikan bahwa seni bukan hanya tentang karya visual, tetapi juga tentang bagaimana sebuah ide bisa menggerakkan generasi, mewariskan nilai, dan menjembatani dunia melalui bahasa universal: seni itu sendiri.***